
Setelah melangsungkan akad nikahnya, sepasang pengantin baru dan yang lainnya makan malam bersama. Dan setelah makan malam, mereka duduk bersantai bersama di ruang tengah apartemen Ibra.
"Oh iya Arumi, aku masih penasaran bagaimana kamu bisa bersama Chef Dion?" tanya Miya yang masih belum bisa mengubah panggilan Chef pada Dion. Membuat yang lainnya ikut menatap Arumi menunggu jawaban.
Sedangkan Mama Reta dan Papa Nahar yang duduk sedikit jauh dari mereka memfokuskan pandangan mereka pada Alea dan mendengar segala cerita yang keluar dari bibir kecil gadis kecil di hadapan mereka.
"Tanya sama dia saja." Arumi mencebikkan bibirnya ke arah Dion.
"Bukankah kalian sudah tau kalau sejak dulu dia menyukaiku? Aku hanya membalas perasaannya saja," jawab Dion santai.
Arumi membulatkan matanya mendengar jawaban Dion, "Enak saja! kamu yang terus-terusan menerorku, bahkan kamu sampai mendatangiku hanya karena aku tidak pernah mengangkat telfonmu." Bantah Arumi tidak terima, membuat Dion tertawa mendengarnya.
"Sungguh?" tanya Miya tidak percaya.
"Sepertinya aku tidak percaya." Ara ikut meragukan jawaban Arumi.
"Iya, apa kalian tau, dia datang disaat aku sudah mulai melupakannya. Aku bahkan sudah siap membuka hatiku untuk bule-bule disana." Arumi mencebikkan bibirnya, melirik sinis pada Dion yang duduk tepat di sebelahnya.
"Itu namanya takdir," ucap Abyan meneguk kopinya lalu kembali meletakkan cangkirnya di atas meja.
"Ya, dan kau harus tau segala takdir Allah itu baik. Iya kan sayang?" ucap Ibra mencium punggung tangan Ara yang sedari tadi di genggamannya. Wajah Ara seketika merona mendapatkan perlakuan itu.
"Sayang-sayangannya nanti saja kalau kami sudah pulang." Ketus Rissa.
"Ide yang bagus." Ibra menegakkan posisi duduknya dan menepuk tangannya sekali, "Bagaimana kalau sekarang kalian pulang saja?" ucapnya bersemangat.
"Tidak!!" Rissa dan Miya menjawab bersamaan. Lalu kembali meneruskan obrolan mereka tanpa memperdulikan Ibra yang mendengus kesal.
Ibra terus saja memandangi wajah Ara yang sesekali tertawa mendengarkan candaan teman-temannya. Dan saat menyadari dirinya menjadi pusat perhatian suaminya, Ara menatap Ibra dan mengangkat alisnya meminta jawaban.
"Masuk yuk!" ucap Ibra tanpa suara, namun tidak ditanggapi oleh Ara yang kembali fokus pada teman-temannya.
"Hoaaaaaamm... "Ibra menutup mulutnya yang sedang menguap, lalu kemudian mengangkat kedua tangannya merenggangkan otot-ototnya. "Wah pantas saja aku begitu mengantuk, ternyata sudah tengah malam," ucapnya sedikit dikeraskan sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangannya dan melirik satu persatu orang-orang disekitarnya. Namun usahanya sia-sia karena tidak ada yang memperdulikannya.
"CUKUP!!"
Teriak Ibra berdiri dari duduknya membuat semua orang menatap keheranan padanya. "Ma, Pa, apa kalian tau kalau begadang itu sangat tidak baik untuk kesehatan? apalagi diusia Mama dan Papa yang rentan terkena penyakit, pulang dan beristirahatlah," nasehatnya pada orang tuanya kemudian berbalik pada Arumi yang duduknya terdekat darinya.
"Dan kau Arumi, bukankah kau baru tiba hari ini? apa kau tidak merasa lelah setelah melakukan perjalanan berjam-jam?"
Ibra lalu menarap sepasang orang tua baru di depannya, "lalu kalian, aku heran melihat kalian berdua, bagaimana bisa kalian begitu tega meninggalkan bayi kalian seorang diri dirumah."
"Tidak sendiri kok, dirumah ada mama sama bibi juga, " ucap Miya membela diri, membuat Ibra semakin kesal.
"Tetap saja, anak kalian masih sangat kecil." Ibra tidak mau kalah.
__ADS_1
"Kakak apa-apaan sih?" ucap Rissa kesal dengan tingkah kakaknya.
Ibra berbalik menatap adiknya, "Kamu juga, pulanglah ini sudah larut malam."
"Pulang kemana?"
"Kamu bisa ikut dengan mama ke hotel. Sekalian kamu ajak Ryan."
"Kenapa jadi saya?" ucap Ryan bingung mendengar namanya masuk ke dalam daftar nama orang yang terusir.
"Sudah.sudah.. cepat kalian semua pulang," Ibra mengibas-ngibaskan kedua tangannya, membuat semuanya mendengus kesal.
Ibra menghampiri kedua orang tuanya yang masih setia duduk di tempatnya, membungkukkan badannya lalu menciumi punggung tangan keduanya dan berjongkok pada Alea, "Alea tidurnya sama Oma dan Opa ya?"
"Kenapa? Lea mau tidur sama Papa sama Mama saja."
"Tidak sayang, malam ini sama Oma dulu, besok baru sama Mama sama Papa."
"Kamu ini." Papa Nahar menggeleng melihat tingkah putranya. "Ya sudah ayo kita pulang," ajaknya pada istrinya lalu membujuk Alea untuk ikut dengan mereka.
"Kenapa?" tanya Ibra pada Miya yang terus saja menatapnya saat akan keluar.
"Kok aku menyesal ya membantu kak Ibra."
"Cehh!" dengus Miya, lalu dengan cepat keluar dari apartemen Ibra.
Ara dan Ibra mengantar semuanya hingga pintu keluar. Dan setelah semuanya pergi Ara masuk mendahului Ibra dan kembali ke ruang tengah, membereskan cangkir-cangkir bekas teh dan kopi, menyusunnya di atas nampan agar mudah membawanya masuk ke dapur.
Ara sedikit melirik pada Ibra yang berjalan ke arahnya. "Kakak keterlaluan, bagaimana bisa kakak mengusir mereka? Bahkan Mama dan Papa."
"Ini kan sudah tengah malam sayang, apa kamu tidak mengantuk? Aku saja sudah sangat mengantuk." Ibra mengikuti langkah Ara ke dapur dan ikut berhenti saat Ara menghentikan langkahnya tepat di depan wastafel. Ibra memeluk Ara dari belakang, "Ke kamar yuk!" bisiknya di telinga Ara lalu menciumi pipi Ara.
Setelah sekian lama tidak merasakan sentuhan Ibra, membuatnya sedikit malu saat mendapatkan perlakuan itu.
Ibra memutar keran pada wastafel saat melihat Ara yang mencuci tangannya cukup lama. Ibra membalikkan tubuh Ara menghadapnya dan menatap setiap inci wajah Ara dan terhenti tepat dibibir ranum Ara.
"Kau tau." Ibra menyentuh bibir Ara dengan ibu jarinya, "aku sangat merindukannya." ucapnya tersenyum dan dengan cepat melekatkan bibirnya pada bibir Ara, mengecupnya sesaat sebelum menatap Ara yang wajahnya sudah memerah.
Ibra tertawa kecil menatap wajah istrinya, "wajahmu sangat lucu."
Melihat Ibra yang menertawakannya, Ara mendorong tubuh Ibra, "Ara mau ganti baju, gerah," tanpa mendengar tanggapan Ibra, Ara pergi meninggalkan Ibra masuk ke kamar.
Ibra masuk ke kamar menyusul istrinya dan mendapati Ara yang sedang kebingungan seperti mencari sesuatu.
"Cari apa?" tanya Ibra menghampiri Ara.
__ADS_1
"Bajuku yang tadi mana ya kak?" jawab Ara membuka pintu kamar mandi, jika saja ia lupa menaruh bajunya disana.
"Sudah ku buang."
Ara berbalik menatap Ibra, "Kok dibuang?"
"Sudah tidak layak pakai."
"Astagfirullah kak, meski tua begitu tapi itu sangat nyaman loh."
Ibra berjalan ke ruang ganti yang ada di dalam kamarnya dan kembali dengan menenteng sebuah paper bag.
"Kamu akan membuat dadaku sesak jika kamu menggunakannya." Ibra menatap teduh wajah Ara, "Maaf sudah membuatmu menderita sangat lama, hingga kamu merasa nyaman dengan semuanya itu, "
"Apaan sih," ucap Ara lemah, merasa tidak senang dengan ucapan suaminya.
"Pakai ini." Ibra memberikan paper bag yang ada di tangannya pada Ara.
"Iya, baiklah." Ara menerima paper bag tersebut tanpa melihat isinya lalu masuk ke dalam ruang ganti.
Ara membuka sedikit pintu ruang ganti dan memunculkan kepalanya dan betapa kagetnya saat ia melihat Ibra yang sedang berdiri sambil melipat tangannya di depan pintu.
"Kak Ibra.." ucapnya tercegat, "apa tidak ada baju lain?"
Ibra menyunggingkan senyumnya, "tidak ada, ayo cepat keluar." Ibra mendorong pelan pintu ruang gantinya, namun di tahan oleh Ara. "Kamu tidak akan menang melawan tenagaku."
Ara melemahkan pegangannya pada pintu dan sedikit mundur membiarkan Ibra membuka pintu tersebut.
Ibra menatap tubuh Ara yang terbalut lingerie, "bukankah dulu kamu sangat suka memakainya?"
Baru saja Ara akan menjawab namun dengan cepat Ibra membungkam mulutnya dengan kecupan. Ibra tersenyum lalu kemudian meraih rambut Ara yang tergerai, menghirup aroma shampo Ara lalu mencium pundak Ara yang terbuka.
"Kakak..."
"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanyanya yang masih terus menciumi tubuh Ara.
"Ara sedang datang bulan." ucapnya menyesal.
"Sungguh?" ucap Ibra menghentikan aktifitasnya.
"Iya." Ara menganggukkan kepalanya.
"Astagaaaa..." Ibra menjatuhkan kepalanya di bahu Ara, "Sepertinya aku salah memilih waktu."
-TAMAT-
__ADS_1