Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.19 Perdebatan Kecil Dipagi Hari


__ADS_3

Wow menakjubkan! Ini tidur ternyenyak bagi Zevana dalam satu bulan terakhir ini. Penthouse ini sangat nyaman terutama kasur empuk yang sedang ditidurinya ini. Buat yang bertanya apakah ia sekarang secara resmi tinggal di penthouse Maxime? Maka jawabannya adalah ya, entah bagaimana bisa tapi seperti itulah akhirnya yang terjadi.


Ia merenggangkan tubuhnya kemudian tangannya merayap menuju nakas samping tempat tidur untuk mengambil ponselnya. Oh Shit! Ini sudah jam setengah sepuluh pagi. Zevana langsung bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap, setelah menggosok gigi dan mandi Zevana berjalan menuju ruang ganti. Zevana memutuskan untuk mengenakan pakaian santai dengan celana jeans hitam yang di padukan dengan atasan blus berwarna red wine.


Setelah mengganti pakaian dan merias tipis wajahnya Zevana pun berjalan menuju dapur dan benar saja pria itu sudah berada di meja makan sembari melakukan sesuatu dengan ponselnya. Ia memutuskan untuk mengabaikan keberadaan pria itu dan berjalan menuju mesin kopi membuat secangkir kopi untuknya dengan dua potong chocopie ia tata di piring kecil.


“Kau harus benar-benar belajar bangun pagi” ucap Maxime seperti biasa berbicara tanpa menatap wajah Zevana.


Zevana menatapnya selama beberapa detik namun pria itu tak juga mengangkat wajahnya “Maaf tapi aku bangun pagi-pagi dan aku baru saja tidur hari ini” ucap Zevana dengan nada tak peduli.


“Okey” ucapnya tertawa kecil mengoloknya karena tak mempercayai perkataan Zevana.


Zevana yang tak ingin berdebat di pagi hari hanya memutar bola matanya malas dan setelah kopinya selesai ia pun mengambil posisi duduk yang sangat jauh dari Maxime. Dia seperti wabah yang ingin kuhindari sejauh mungkin, hehehe.


Ia duduk di sana dengan diam dan tenang sembari memakan chocopie dan menyesap kopinya secara bergantian hingga habis. Setelahnya ia pun bangkit dati kursinya menuju wastafel untuk mencuci piring kotornya itu.

__ADS_1


“Ayo kita ke mal dan membeli beberapa pakaian” ajak Maxime bangkit sembari memasukkan ponselnya ke saku celananya.


Seperti deja vu “Pakaian lagi, bukankah kemarin sudah?” tanya Zevana heran.


“Itu tidak cukup, kau butuh lebih banyak dari itu”


Zevana menggeleng dengan cepat “Tidak, aku tidak butuh lebih banyak lagi. Yang kemarin sudah cukup bahkan lemariku sudah hampir penuh” tolaknya.


“Buang baju lamamu dan kenakan semua yang kubelikan” ucap Maxime dengan angkuhnya


Tiga puluh menit kemudian di sinilah ia berada di dalam lift menuju lantai bawah untuk pergi ke mal bersama, karena tak bisa melawan keinginan Maxime bahkan ingin berdebat bagaimana pun ia tetap tak bisa Zevana pun menyerah dan memutuskan untuk menuruti kemauan Maxime.


“Setidaknya biarkan aku membayar belanjaanku karena kita pergi membeli pakaianku” ucap Zevana yang sebenarnya masih tak menyetujui ajakan Maxime ini.


“Tidak! Tidak pernah ada dalam kamusku perempuan membayar belanjaannya sendiri saat pergi bersamaku” ucapnya dengan angkuhnya.

__ADS_1


Zevana menghela nafasnya, ini tidak akan berakhir “Jika kita berada dalam hubungan nyata aku tidak masalah dengan apa pun yang kau belikan untukku tapi kita tidak, jadi jangan membuatku berhutang padamu”


Zevana memandang tajam Maxime seakan meminta pengertian pada pria itu, ia melakukan yang terbaik untuk meyakinkan Maxime jika ia punya cukup uang untuk membeli kebutuhannya sendiri meskipun ia tak butuh lebih banyak pakaian sekarang.


Maxime menengadahkan kepalanya dengan kesal “Kau harus berpakaian seperti keluarga Abiezer sekarang dan aku tak yakin kau mampu membayarnya” ucap Maxime remeh.


Zevana menyipitkan matanya dan menatap dalam pria itu dengan kening yang berkerut, ia memang tak memiliki uang sebanyak dia tapi ia memiliki cukup banyak uang di rekening banknya karena ia tak menghambur-hamburkan uangnya seperti orang gila.


Saat Zevana hendak membuka mulut untuk membantah Maxime menghentikannya dengan mengulurkan tangannya “Biarkan aku melakukannya dan kau tenang saja aku tidak akan menjadikan semua yang aku beri untukmu sebagai hutang setelah kita berpisah” ucapnya dengan bibir yang sedikit tertutup rapat.


Maxime kemudian melingkarkan tangan Zevana di lengannya dan di detik itu juga pintu lift terbuka, kini mereka sudah berada di lantai bawah apartemen mewah itu. Maxime memperlakukannya dengan lembut hingga mereka tiba di mobil, ia bahkan membukakan pintu mobil untuk Zevana dengan ramah dan Zevana berterima kasih untuk perlakuan ramahnya itu.


“Terima kasih” ucap Zevana


Mereka saling melempar senyum karena di sana ada beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka dan tentu saja itu semua hanya bagian dari sandiwara mereka karena kini setelah berada di dalam mobil tak ada seorang pun yang tersenyum apalagi berbicara dan hanya ada keheningan yang memenuhi mobil itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2