
Kini Max dan Zevana sudah menempati rumah baru mereka setelah dua minggu saat pertama mereka kali melihat rumah itu bersama dan dalam waktu dua minggu itu juga mereka langsung membeli furnitur, hiasan serta beberapa tempat di rumah tersebut pun mereka ganti warna dindingnya.
Mereka bertengkar tentang banyak hal, tak satu pun dari mereka bisa langsung sepakat tentang furnitur yang harus mereka beli dan Max pria itu berbohong dengan mengatakan bahwa Zevana bisa mendesainnya sesuka hati karena pria itu selalu menentang keinginannya.
Tapi semuanya akan terselesai dan mereka akan memilih sesuai keinginan Zevana saat wanita itu mulai memasang wajah cemberutnya yang hampir menangis itu dan setelahnya Zevana selalu melakukan tarik ulur dengan mengatakan bahwa ia akan memilih yang Maxime sukai saja.
Dan pada akhirnya mereka selalu membeli furnitur yang disukai Zevana, mereka bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk memutuskan model dan warna furnitur yang akan mereka beli. Tapi tidak apa karena semua itu sangat menyenangkan dan mungkin bisa dibilang itu adalah pertama kalinya mereka menghabiskan waktu berdua selama itu selain bekerja.
Sudah sekitar satu bulan dua minggu lebih mereka tinggal di rumah baru tentu saja suasana rumah itu jauh berbeda dengan saat mereka tinggal di penthouse terlebih kini mereka sudah saling mengetahui perasaan satu sama lain.
Setiap harinya yang Zevana rasakan hanyalah kebahagiaan meskipun morning sickness mengganggunya dan bisa dibilang ia hampir muntah setiap paginya, ia tetap merasa bahagia karena saat ia terbangun dan berlari ke kamar mandi ingin muntah Max selalu berada di belakangnya mengikutinya bahkan dengan sabar menunggunya hingga selesai.
Dan paginya akan sangat-sangat menyenangkan jika tidak mengalami morning sickness karena ia akan berada di dalam pelukan Max dan tidur nyenyak hingga waktunya mereka berangkat kerja. Satu hal lagi yang membuat suasana hatinya jadi bagus adalah saat berangkat kerja ia tidak perlu bangun lebih awal karena Max tidak memaksakannya untuk pergi tepat waktu dan tentu saja itu membuat Zevana sangat berterima kasih karena waktu tidurnya jadi lebih banyak dari biasanya.
Dan lagi ia sangat berterima kasih karena Max tidak terlalu memaksanya untuk bekerja bahkan saat ia tidak pergi bekerja suaminya itu akan melakukan hal yang sama contohnya seperti hari ini mereka ada di rumah, Max tengah sibuk di dapur dan Zevana tengah duduk santai sembari menonton televisi.
Zevana yang tengah asik menonton variety show itu tak sengaja pandangannya menangkap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, seketika ia mengingat hari ini ia memiliki janji temu dengan dokter kandungannya untuk mengecek jenis kelamin bayi mereka itu dengan secepat kilat Zevana mematikan televisinya.
“Max! Ayo, kita sudah telat” pekiknya cukup keras karena jarak ruang santai dengan dapur tak terlalu jauh.
“Tapi aku sedang memotongkan buah untukmu” pekik Max balik
Zevana menghela nafasnya, buah bukan hal penting sekarang karena jika mereka telat maka mereka harus menunggu “Lupakan itu, ayo berangkat sekarang!” pekiknya lagi dengan nada penuh perintah.
Max menghela nafasnya “Wanita kejam itu” rutuknya pelan.
__ADS_1
Zevana berjalan menuju kamar untuk mengambil barangnya, kunci mobil dan dompet Maxime dan saat ia baru saja akan keluar dari kamar tersebut Max juga kebetulan ada di sana yang baru saja akan masuk.
Zevana tersenyum kemudian menyerahkan kunci mobil dan dompet milik Max “Ini, ayo pergi nanti kita terlambat”
Max meraih barangnya serta tangan Zevana agar menggandeng lengannya dan mereka pun berjalan menuju mobil kemudian segera pergi menuju tempat praktik dokter kandungannya.
Tidak seperti biasanya dua bulan terakhir ini suasana mobil mereka selalu dipenuhi dengan suara keduanya bahkan terkadang terdengar suara tawa yang saling bersahutan.
“Aku ingin anak perempuan” ucap Zevana tiba-tiba sembari menatap ke arah Maxime yang mulai terfokuskan padanya “Um tapi jika itu laki-laki juga tidak masalah karena apa pun itu aku akan menyukainya” ucapnya lagi.
“Ya, jangan terlalu berharap ingin perempuan atau laki-laki” ucap Max menanggapi ucapannya.
Zevana memiringkan kepalanya “Aku suka keduanya tapi jika ini benar perempuan mungkin aku akan senang” jelasnya “Kalau kau ingin perempuan atau laki-laki?” tanyanya.
Max melirik ke arahnya sebentar “Pertama aku ingin anak laki-laki lalu perempuan” ucapnya.
“Aku akan membuatmu melahirkan banyak anak lagi dan aku tau kalau kau juga ingin punya anak lebih dari satu” ucap Max.
Zevana menganggukkan kepalanya karena itu memang benar tidak mungkin mereka hidup di rumah besar itu hanya bertiga saja tapi untuk kapannya ia tidak tahu karena yang diperutnya saja masih belum lahir.
“Jangan bilang kau memilih anak lelaki pertama agar dia bisa menjaga adiknya saat besar nanti? Please Max, itu alasan yang sangat basi” ucap Zevana mencemooh Max untuk mengalihkan pembicaraan.
Max menghentikan mobilnya karena mereka sudah sampai di tempat praktik dokter kandungannya “Apa aku terlihat seperti pria yang berpikiran basi seperti itu?” ucap Max dengan nada sombong
“Karena aku mencintaimu aku menginginkan anak laki-laki terlebih dahulu agar saat aku tidak ada di sampingmu dia bisa menjagamu agar tidak ada yang berani mendekatimu dan aku akan mengajarkan itu pada anak-anakku nanti” jelasnya.
__ADS_1
Zevana terperangah mendengar alasan yang memang tak pernah ia dengar itu dan saat ia baru saja membuka mulut hendak mengatakan sesuatu Maxime sudah terlebih dahulu turun dari mobil dan menutup pintunya dan Zevana keluar dari sana saat pintunya dibuka kan oleh Max.
Ia tidak bisa menahan senyumannya ia juga mengucapkan terima kasih untuk hal kecil yang dilakukan Maxime padanya itu, jika mengingat hubungannya dengan Max di masa lalu hal kecil seperti ini sangat pantas untuk ia syukuri.
Mereka masuk ke dalam klinik dan sepertinya tidak ada pasien lainnya yang datang kontrol dan mereka tidak harus mengantre, suster menyuruh mereka untuk menunggu di dalam ruangan karena dokternya lagi keluar.
Dan tak lama kemudian pintu ruangan itu kembali terbuka “Halo, selamat sore Nyonya dan Tuan Emerson” ucap dokter itu ramah “Bagaimana kabar kalian hari ini?” tanyanya.
Zevana dan Maxime menanggapinya dengan ramah “Kalian ingin mengetahui jenis kelaminnya bukan?” tanya dokter itu lagi sembari berjalan menuju ranjang.
Pasangan suami istri itu mengangguk penuh semangat dan kegembiraan yang terpancar di wajah mereka membuat dokternya itu tak bisa menahan tawanya.
“Kemarilah” ucap dokter itu dan Zevana mendekat ke arahnya.
Zevana berbaring di atas ranjang tersebut dan mengangkat pakaiannya hingga batas bawah dada setelahnya dokter pun mulai menaruh gel di atas perutnya. Maxime berdiri di samping ranjang tengah menggenggam tangannya dan dokter mulai mengoleskan gel tersebut dan menggerakkan alat di atas perutnya sampai akhirnya ia menemukan yang ia cari.
Dokter itu menatap Zevana dan Max bergantian sembari tersenyum ramah “Selamat! Kalian akan memiliki bayi laki-laki” ucap dokter tersebut.
Zevana tersadar bahwa ia menangis saat sesuatu membasahi wajahnya melalui matanya dan ia pun mendongak menatap Maxime untuk melihat reaksi pria itu dan ia semakin terharu saat mendapati prianya itu juga meneteskan air matanya, ini kedua kalinya Max menangis di hadapannya dan juga dokternya karena sebelumnya saat USG Max juga menangis melihat gambaran anak mereka.
“Terima kasih banyak, dok” ucap Maxime dan Zevana bersamaan dan Zevana membersihkan gel diperutnya dengan handuk kecil yang diberi oleh dokter.
Setelah dari klinik mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan berita bahagia itu pada yang lainnya dan dalam perjalanan pulang Zevana sempat minta dibelikan Pizza dan cola namun Max hanya membelikannya Pizza tidak dengan cola.
Dan beberapa menit kemudian mereka pun tiba di rumah “Kau tunggu saja di sana, aku akan menyiapkan pizzanya dan buah-buahan untukmu” ucap Max saat mereka melewati ruang santai.
__ADS_1
Dan Zevana pun mengikuti perintah Max dengan senang hati, sejak awal mereka pindah ke rumah baru dan ia mulai meraskaan morning sickness ia sangat jarang melakukan pekerjaan rumah. Bukannya tidak bisa atau tidak mau tapi Max selalu melakukan hal yang seharusnya jadi kewajibannya dan karena terbiasa Zevana mulai melakukannya dengan senang hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...