
Suara kode akses pintu ditekan terdengar dan tak lama kemudian pintu yang membutuhkan kode akses itu pun terbuka dan menampakkan empat orang yang berjalan masuk ke dalamnya. Di dalam penthouse itu terlihat sangat sunyi dan sepi seperti tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang di dalam sana kecuali sendal dan sepatu yang terlihat berada di awal pintu masuk tadi.
Langkah ke empat orang itu berjalan menuju dapur meletakkan beberapa kantong belanjaan di atas meja bar lalu dua orang lainnya berjalan menuju kamar tidur, keluar masuk dari kamar ke kamar akhirnya mereka sampai di kamar yang terakhir yang mungkin ada orang di dalamnya diikuti dengan dua orang lainnya.
Pintu kamar tersebut terbuka dan menampakkan wanita dan pria tengah tidur bersama saling berpelukan “Pantas saja tidak bisa dihubungi” ucap salah satu dari keempat orang itu, yang tak lain tak bukan adalah ibunya Max nyonya Abiezer, Jessica.
“Dimaklumi aja jeng, namanya juga anak muda lagi masa-masa kasmarannya” ucap Emily, ibu Zevana.
Jessica tertawa pelan dan diikuti oleh Emily “Mereka terlihat sangat lucu, Zevana dan Max sangat cocok bersama” ucap Jessica lagi.
Emily menganggukkan kepalanya setuju “Ayo kita siapkan makan malamnya saja dulu, biarkan mereka tidur agak lama lagi” ucapnya dan disetujui oleh Jessica dan kedua suami mereka.
Namun belum sempat mereka beranjak dari sana, langkah mereka terhenti saat mendengar lenguhan dari atas kasur sana “Ung, Oh...”
Zevana samar-samar mendengar suara derap langkah kaki di luar sana lalu lama kelamaan suara langkah tersebut semakin kuat, tidurnya sedikit terusik saat bahkan mendengar suara orang sedang berbincang. Ia yang baru saja membuka matanya itu dibuat sangat kaget sekaligus panik ketika melihat kedua orang tuanya bahkan kedua calon mertuanya berada di dalam kamarnya.
Dengan panik ia berusaha bangkit dari baringnya namun tertahankan oleh lengan kekar Max, dengan terburu-buru ia menyingkirkan tangan pria itu lalu membangunkannya juga “Max, bangunlah. Mereka semua ada di sini” bisiknya pelan.
__ADS_1
“Pelan-pelan saja nak, kami akan menunggu di dapur” ucap calon ibu mertuanya itu.
Jessica dan ketiga orang lainnya pergi dari kamar itu membiarkan Zevana dan Max di dalam sana, mereka tersenyum gemas mengingat tingkah Zevana yang panik saat bangun tadi.
“Max, ayo bangun!” ucapnya menggoyangkan tubuh Max cukup kuat.
Sudah beberapa kali ia mencoba membangunkan pria itu namun ia tak kunjung membuka matanya “Ayolah Max bangun, di luar sana ada orang tuaku dan orang tuamu” jelasnya “Max, ayo bangun!” ucapnya lagi.
Max yang sudah merasa amat sangat terganggu itu pun membuka matanya perlahan dan menatap tajam wajah panik Zevana “Ayo buruan bangun” ucap Zee.
“Orang tuaku dan orang tuamu mereka datang kemari, sekarang mereka lagi ada di dapur” jelas Zevana.
Tidak terlihat raut wajah panik di wajah Max, pria itu awalnya mengernyitkan keningnya heran bagaimana bisa orang tuanya itu masuk lalu setelah ia mengingat bahwa ia memberi akses kode pada ibunya, ia kembali dengan wajah datarnya.
“Max” sapa Zevana.
Max kembali mantapnya dalam “Ya sudah, kau siap-siap saja dulu di sini. Aku akan mandi di kamar yang lainnya” ucapnya.
__ADS_1
“Tapi pakaianku--” ucapnya terpotong “Aku akan mengambilkannya, mandi saja dulu” ucap Max
Maxime beranjak dari kasurnya berjalan menuju walk in closet mengambil pakaiannya lalu keluar menuju kamar lain.
“Oke, thanks...” ucap Zevana memperhatikan Max hingga pria itu keluar dari kamar tersebut barulah ia beranjak menuju kamar mandi.
Zevana menghabiskan waktu tiga puluh menit di dalam kamar mandi. Ia tidak mandi selama tiga puluh menit itu, ia hanya mandi dalam beberapa menit dan termenung hampir sekitar dua puluh menit. Saat ia merasa sudah lama berada di dalam kamar mandi Zevana pun keluar dan ia mendapatkan pakaiannya di atas tempat tidur, ia merasa ini sangat mesum karena Max bahkan membawakan pakaian dalamnya tapi itu tidak terlalu jadi masalah karena ia memang membutuhkannya.
Setelah selesai dengan penampilannya, Zevana bergerak ragu saat ingin membuka pintu kamar Max tersebut karena di luar sana ada orang-orang yang membutuhkan penjelasannya. Zevana menghela nafasnya sebelum akhirnya membuka pintu kamar tersebut dan melangkah ragu menuju dapur, suasana di dapur terlihat sangat nyaman karena mereka tengah tertawa dan berbincang hangat.
“H-halo, selamat malam ma, pa” ucap Zevana sedikit bergetar, bagaimana pun ia harus menghadapi mereka.
Entah kenapa suasana sedikit canggung sejak ia menyapa “Oh, halo sayang. Kemarilah” ucap ibunya tersenyum hangat begitu juga dengan yang lainnya.
“Ingin masak bersama?” tawar ibunya lagi dan diangguki oleh Zevana lalu mereka masak bersama dengan calon ibu mertuanya juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1