
Zevana memutuskan untuk memilih cake yang simpel meskipun harganya hanya 642 pound sterling (sekitar dua belas juta sembilan ratus) cake tersebut tidak kalah cantik dengan cake yang ada di katalog glamor tadi.
Meskipun itu hanya seperempat dari harga dari katalog glamor tadi tetap saja itu masih sangat mahal bagi Zevana, mungkin karena ini adalah wedding cake makanya harganya tidak ada yang murah dan kemungkinan terbesarnya adalah karena toko ini toko cake yang paling terkenal.
Bahkan jika boleh ia ingin sekali membuat cake sendiri atau membeli cake ulang tahun saja, ia jamin rasa wedding cake dan birthday cake pasti sama hanya beda acaranya saja dan harganya jauh lebih murah birthday cake.
"Apa kau yakin dengan cake itu sayang?" tanya Jessica memastikan.
Zevana menganggukkan kepalanya "Em.. itu sangat simpel dan cantik" ucapnya yakin.
Bukannya tidak suka dengan cake pilihan calon menantunya itu, ia hanya tak ingin Zevana nantinya menyesali keputusannya itu. Karena sebelumnya Zevana terlihat sangat menyukai cake-cake mahal itu, ia tak ingin keinginan Zevana tak terwujud hanya karena harganya.
Bahkan jika Maxime tidak mampu membayar cake semahal itu ia rela merogoh kantongnya untuk mewujudkan impian calon menantunya itu, ia hanya ingin yang terbaik untuk Zevana.
Kini Zevana dan Jessica berada di dalam mobilnya untuk menuju tempat kedua, tempat yang mungkin akan menguras banyak tenaga mereka. Sesaat sebelum keluar dari toko kue tadi mereka sudah di hubungi oleh kakak-kakak ipar Maxime serta ibunya Emily yang sudah berada di butik tempat Zevana akan memilih gaun pernikahannya.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan akhirnya mereka pun tiba di butik tersebut dan tanpa tunggu lama mereka pun memasuki gedung mewah itu dan naik tangga untuk menuju lantai dua tempat para ipar dan ibunya berada.
“Haiii Zee! Sudah lama sekali, kami merindukanmu” ucap Sylva dan yang lainnya gembira dan berlari memeluk si menantu bungsu keluarga Abiezer.
Zevana membalas pelukan ketiga wanita itu “Aku juga merindukan kalian” ucapnya tak kalah gembira.
__ADS_1
Mereka duduk berbincang-bincang sembari menunggu desainernya tiba karena sebelum mereka sudah ada pelanggan yang juga sedang fitting baju di lantai tiga.
"Bagaimana cake nya, bagus-baguskan? Bagaimana dengan pilihanku, itu cake yang dulu inginku pesan tapi tidak bisa karena miskomunikasi dengan tim WOku" curhat Sylva yang jika di ingat kesal ya masih berasa hingga sekarang.
Zevana tersenyum sembari mengerutkan keningnya "Itu cantik tapi harganya sangat tidak realistis" ucapnya diselingi tawa.
Ia sama sekali tidak sadar jika ibu mertuanya itu mendengar ucapannya meskipun Jessica tengah sibuk berbincang dengan Emily tapi ia masih bisa mendengar ucap Zevana.
"Apa ada cake yang kau inginkan sayang? Kau boleh cake apapun itu dan kau tidak perlu memikirkan harganya. Yang terpenting pernikahan ini harus jadi yang terbaik" ucap Jessica menginterupsi pembicaraan menantu-menantunya itu.
Zevana tertawa pelan sembari menggelengkan kepalanya pelan "Tidak ma, sungguh. Aku sangat suka cake pilihanku tadi, itu sangat cantik" ucapnya meyakinkan ibu mertuanya itu sekali lagi.
Kini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore akhirnya masa menunggu mereka telah usai dan sekarang giliran Zevana yang memilih gaun pernikahannya. Setelah menghabiskan waktu satu jam lebih di butik tersebut akhirnya Zevana dan yang lainnya memutuskan untuk setuju dengan gaun yang pertama Zevana coba dari sekian banyaknya gaun yang telah ia coba.
Jika dipikir-pikir waktu mereka jadi terbuang sia-sia karena lada akhirnya keputusan mereka tetap pada gaun pertama tapi meskipun begitu ini semua sangat menyenangkan.
Namun di tidak dengan yang lainnya rasanya mereka tidak punya tenaga lagi untuk berkeliling "Mau ke kafe atau makan? Aku akan traktir sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemaniku hari ini" ajak Zevana.
Ia sengaja memasang wajah dengan tatapan puppy eyes dan karena tidak bisa menolak keimutan Zevana mereka semua pun setuju untuk pergi ke kafe sembari sedikit bersantai.
Zevana, Emily dan Jessica berada di dalam mobil yang sama sedangkan menantu-menantu Abiezer itu berada di mobil satunya lalu sopir Emily mengemudi sendiri mengikuti mereka.
Sesampainya di kafe Zevana mengajak semuanya untuk masuk bahkan sopir ibunya dan sopir ibu mertuanya juga di ajaknya masuk, namun mereka duduk di meja yang berbeda karena sepertinya akan canggung bagi dua pria itu jika gabung dengan para wanita.
__ADS_1
Mereka berbincang sembari ngemil, satu sama lain menceritakan bagaimana persiapan pernikahannya, rumah tangganya, kehidupannya bahkan malam pengantin mereka.
Mereka semua terlihat sangat bersemangat menceritakan pengalaman mereka sedangkan Zevana, ibunya dan bakal mertuanya itu hanya tertawa tersenyum menanggapi cerita-cerita ketiga wanita itu.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit di kafe tersebut mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Biar mama saja yang bayar, Zee" ucap ibunya.
Zevana dengan cepat menghentikan ibunya "No mom, biar aku saja" ucapnya
"Tidak apa, sayang. Simpan saja uangmu biar mama yang bayar" ucap ibunya lagi.
Zevana kembali mencegahnya "Aku juga tidak apa ma, uangku sangat banyak" ucapnya menyombongkan dirinya "Lagi pula aku kan mau traktir mama dan yang lainnya karena sudah menemaniku hari ini" jelasnya.
Emily menghela nafasnya lalu menyimpan kembali kartunya "Ya sudah, kalau begitu terima kasih ya sayang" ucap ibunya.
Zevana tertawa pelan "Eum..." ucapnya mengangguk kepalanya gemas.
Zevana di antar pulang oleh ibunya sedangkan Jessica sudah pulang lebih awal karena ia harus singgah ke supermarket untuk berbelanja bahan dapur lalu Sylva dan yang lainnya juga kembali ke rumah mereka masing-masing.
Sesampainya di depan gedung mewah mobil yang ditumpanginya berhenti, ia pamit kepada ibunya dengan pelukan lalu segera turun dari mobil ibunya itu dan membiarkan mobil itu perlahan menjauh barulah ia masuk ke dalam gedung tersebut.
"Selamat sore, non" ucap satpam yang ada tepat di depan pintu masuk.
__ADS_1
"Sore pak" sapa Zevana balik.
Zevana menaiki lift dan menunggu sebentar dan lift tersebut kembali terbuka, ia langsung menempelkan sidik jarinya dan pintu pun terbuka. Begitu sampai ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kemudian setelah selesai tanpa ia sadari sudah berada di alam mimpi.