
Setelah penat bersepeda mereka semua menghampiri sebuah kafe untuk beristirahat, mereka hanya duduk-duduk dan mengobrol santai. Dari percakapan mereka Zevana jadi tahu jika Abiezer bersaudara itu adalah pembuat masalah di masa mudanya dan mereka tipikal playboy saat sebelum akhirnya menikah, untuk Maxime sampai sekarang ia masih melakukannya.
Tak tau bagaimana bisa tapi mereka memiliki perilaku yang sama saat remaja hingga dewasa namun terlepas dari sifatnya mereka berempat adalah pria sukses.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju vila, yang harus kalian ketahui meskipun vila tersebut berada di hutan-hutan tapi tak hanya pepohonan yang ada di sana bahkan selain vila milik keluarga Abiezer ada juga vila lainnya, supermarket, pasar dan kafe-kafe bahkan ada di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam dan mereka perlu ke supermarket untuk membeli bahan-bahan dan memasak menu makan malam. Semua orang mengendarai sepedanya beriringan dengan pasangan mereka masing-masing namun sekali lagi Zevana harus mengendarai sepedanya di belakang orang lain karena Maxime berada di depannya selangkah bahkan pria itu tak ingin menyamakan laju sepedanya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba dan memarkirkan sepeda mereka di bagasi.
“Hai anak-anak” sapa Tuan Abiezer
Dengan serempak mereka semua menjawab “Hay Pa”
“Bagaimana jalan-jalannya? Apa saja yang sudah kalian lakukan?” tanya ayah Zevana.
“Tidak banyak, dad. Kami hanya bersepeda ke danau, makan siang di sana lalu nongkrong di kafe yang tak jauh dari sana” ucap Maxime menjawab Tuan Jeffry.
“Bagaimana dengan kalian, apa yang kalian lakukan hari ini?” tanya Sylva pada ayah mertuanya itu.
“Tidak banyak, hanya jalan-jalan dan makan lalu jalan-jalan lagi” jawabnya.
__ADS_1
Mereka semua masuk ke dalam vila dan duduk di ruang keluarga, Zevana melihat ke arah ayahnya lalu duduk di sampingnya dan kemudian meletakkan kakinya di atas pangkuan ayahnya sembari memukul-mukul pelan lututnya.
“How are you, littlegirl?” tanya ayahnya cukup pelan dan Zevana yakin hanya ia yang bisa mendengar pertanyaan ayahnya itu.
Zevana menganggukkan kepalanya “Aku baik-baik saja, pa” ucapnya.
Rasanya sudah sangat lama mereka tidak bicara seperti ini, biasanya saat Zevana masih tinggal bersama orang tuanya setiap harinya ia selalu menumpahkan keluh kesahnya kepada ayahnya bahkan saat sedang bahagia sekali pun ia tetap bercerita. Itu adalah salah satu alasan kenapa ayahnya masih menganggap Zevana sebagai putri kecilnya karena Zevana perlu seseorang untuk mendengarkan isi hatinya setiap hari seperti anak kecil yang selalu mengatakan kepada orang tua mereka apa yang sudah mereka lakukan di hari itu.
Ayahnya sudah seperti sahabat untuknya, ia selalu mengatakan bahkan hal kecil sekalipun pada ayahnya. Jika wanita-wanita lainnya selalu berbagi rahasia dengan ibunya tapi untuk Zevana itu adalah ayahnya, ia juga berbicara dengan ibunya tapi perasaannya tidak sama ketika ia berbicara dengan ayahnya.
“Jangan berbohong sayang, katakan saja ada apa hem?” tanyanya “Aku tidak tau apa ini hanya perasaanku saja tapi kau terlihat berbeda belakangan ini” ucap ayahnya lagi.
Zevana menatap ayahnya dengan canggung “Aku hanya bingung dan takut. Semua orang sangat baik kepadaku dan aku sangat takut jika aku mengecewakan mereka semua” ucapnya.
Itu benar, ia sangat takut jika pada akhirnya jika semua ini berakhir atau ketahuan ia akan mengecewakan mereka semua yang sudah dengan mudahnya memberi kepercayaan dan kasih sayang penuh kepadanya. Ia tak ingin membuat yang lainnya kecewa bahkan sampai membencinya.
“Nak, ingin pergi ke taman denganku?” tawar ayahnya lalu melihat ke sekeliling mereka.
Zevana mengikuti arah pandang ayahnya, ia tahu alasan ayahnya mengajak keluar lagi pula ia juga tak mungkin mengatakan semuanya di sini, mungkin saat ini yang lainnya tengah sibuk membahas tentang taruhan mereka tapi bagaimana jika pembicaraan itu sudah berakhir? Terlebih kedua orang tua Maxime ada di sini juga, mungkin mereka akan jadi pusat perhatian jika terus bicara dengan berbisik seperti ini.
Ia mengangguk setuju kemudian terkekeh saat secara serempak mereka bangkit dari duduknya dan mereka pun berjalan menuju taman. Saat tiba di taman mereka di sambut dengan bunga-bunga indah warna-warni yang menghiasi taman tersebut, berjalan sedikit lagi mereka akhirnya menemukan bangku yang dikelilingi bunga.
__ADS_1
“Kenapa putri kecilku ini merasa akan mengecewakan mereka semua?” tanya ayahnya dengan lembut.
Zevana melirik sebentar lalu menyandarkan kepalanya di bahu ayahnya karena rasanya ini akan menjadi pembicaraan yang panjang dan melelahkan bahkan jika hanya di pikirkan saja.
“Pa, bagaimana jika aku bukan istri yang baik dan hubungan ini tidak berhasil? Jika dilihat dari menantunya yang lain aku sangat jauh tertinggal, aku hanya tak ingin membuat mereka merasa buruk karenaku” jelasnya sembari memainkan tangannya dan menunduk sendu.
Saat ini ia tidak berbohong, ia benar-benar mengkhawatirkan hal itu hanya saja ia tak bisa mengatakan masalah yang sesungguhnya karena perjanjiannya dengan Maxime terlebih lagi jika mengatakannya ia akan membuat ayahnya kecewa dan mungkin akan marah besar terhadapnya.
“Nak, semua yang kita lakukan dalam hidup ini ada kalanya beberapa hal yang tidak berjalan sesuai keinginan kita bahkan itu tidak berhasil tapi jika kita sungguh menginginkannya maka kita akan mendapat jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi” jelasnya.
Tuan Jeffry meletakkan tangannya di atas tangan putrinya itu dan menepuk-nepuknya pelan “Aku akan memberitahumu ini, pernikahan itu bukan hal mudah pasti ada pasang surutnya bahkan mungkin masalah besar akan menghampiri kalian. Intinya kalian hanya harus saling percaya, selalu bersama dan papa yakin apapun masalahnya pasti bisa terselesaikan dengan baik jika kalian tidak emosi dan menyelesaikannya dengan benar” jelasnya lagi.
Zevana menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, ia tak bisa membayangkan bagaimana kecewa dan marah ayahnya jika suatu saat semua ini terbongkar.
“Aku sangat senang memilikimu, pa dan aku sangat beruntung karena aku punya ayah sepertimu” ucapnya sembari memeluk ayahnya erat dengan posisi kepala yang masih bersandar di pundak ayahnya itu.
Tuan Jeffry mengelus-elus rambut putrinya itu dengan lembut “Dan ingatlah sayang, kau masih punya aku. Jika suatu saat terjadi sesuatu di antara kalian kau bisa memberitahuku dan jika dia menyakitimu kau juga harus segera memberitahuku” ucapnya.
“Aku berjanji akan membuatnya menyesal karena telah menyakiti putri kecilku”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1