
Memang benar jika Zevana yang memulai ciuman itu ia melakukannya dengan perlahan tapi Max begitu mendapat tanggapan positif dari wanitanya itu langsung memperdalam ciuman mereka dan itu langsung membuat Zevana mengerang di dalam ciuman panas itu.
Maxime membungkuk dan mengangkatnya dengan gaya pengantin meskipun ia terangkat entah bagaimana mereka tidak melepaskan ciuman itu. Max menempatkan tubuhnya tempat tidur dengan lembut sebelum ia mulai melepaskan setelannya. Zevana hanya duduk di sisi ranjang dan menatap prianya itu dengan kagum saat ia mulai melepas pakaiannya, entah yang ke berapa kali ia mengatakan hal ini tapi prianya ini benar-benar memiliki tubuh yang bagus.
Max menatapnya setelah selesai melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan ****** ******** “Bangunlah, aku akan membantumu melepaskan gaunmu” ucapnya.
Ia meraih tangan Zevana dan menariknya dari tempat tidur untuk berdiri lalu membalikkan tubuh wanitanya itu, perlahan ia membuka resliting gaun Zevana dan mulai membuka bahkan ia menciumi bagian tengah punggung Zevana menghirup aroma tubuh wanitanya itu dalam.
“Cantik" dia bergumam di kulitku.
Saat gaun itu terlepas Zevana melompat keluar membalikkan tubuhnya menghadap Max dan langsung memeluk erat prianya itu, Max tersenyum gemas melihat Zevana yang langsung memeluknya itu dan tak lama kemudian ia menjauhkan tubuh Zevana untuk menatap wajah wanitanya itu.
Dengan wajah yang memerah ia melingkarkan lengannya di leher Max dan ia mengeratkan lengannya saat cengkeramannya mengencang di pinggangku.
“Apa kau bisa menggendongku?” tanya Zevana malu-malu dan tanpa menunggu lagi Max langsung menggendongnya seperti koala.
Dan saat itu Zevana kembali memulai aksinya ia menjilat, menghisap, dan menggigit kulit putih bersih prianya itu, ia pindah ke sisi lain lehernya ia meniru tindakan yang sama yang sering Max lakukan padanya dan hal itu sukses membuat Maxime mengerang.
Saat sedang asik dengan aksinya tiba-tiba ia diangkat dan dilempar kembali ke tempat tidur kemudian Maxime ikut naik ke tempat tidur dan berada di atas Zevana. Kini satu-satunya yang tersisa dari mereka adalah celana dan tanpa membuang waktu ia melepas ****** ******** dan membuangnya ke sembarang arah.
Tanpa peringatan sebelumnya kini Max turun ke bawahnya dan mulai bermain dengan intinya, Zevana sedikit tersentak saat merasakan benda basah bersentuhan langsung dengan intinya jika bukan karena tangan Max yang menahannya mungkin ia sudah bersungut mundur.
“Oh, that’s crazy” ucapnya sembari mendesah.
Pria itu sangat lihai menggunakan lidahnya tentu saja semua yang berhubungan dengan kepuasan seksual Maxime sangat handal. Bagaimana tidak jika hampir setiap malam pria itu selalu menyewa jalang untuk memuaskan nafsunya, ia bahkan kadang di buat bingung antara harus kesal atau berterima kasih atas pengalamannya itu karena kini Max selalu memberinya kepuasan lebih.
“Max stop, aku akan keluar” lenguhnya.
Max tak menghentikan aksinya malah kini ia menggunakan ibu jarinya untuk membantunya bermain di intinya agar pencapaiannya keluar dengan segera karena itulah tujuannya. Zevana menggelinjang saat mendapatkan pelepasan pertamanya dan Max bergerak mendekatinya dan memberinya ciuman panjang yang panas dan sedikit kasar.
Tak lama setelah itu kini posisi mereka telah berubah kini Zevana berada di atas, ia yang merasa bahwa itu kode bahwa Max menginginkan dirinya untuk mengambil alih kendali pun tak menyia-nyiakan kesempatan begitu saja.
__ADS_1
Saat Zevana turun ke bagian bawahnya dan ingin melakukannya Max menahannya “Tidak sayang, kau tidak perlu melakukannya” cegah Max.
Lalu untuk apa pria itu membalikkan posisi mereka? Zevana dengan segala pikirannya memutuskan untuk tetap melakukannya karena ia pikir ia juga harus memberikan Max kepuasan yang sepadan dengan yang sudah Max berikan padanya.
“Sebatas ini tidak apa, aku baik-baik saja” ucap Zevana, ia tahu apa yang dipikirkan Max.
Malam itu mereka menghabiskan malam panas yang panjang bersama meskipun itu tidak menjadi malam pertama mereka setidaknya itu yang pertama sejak mereka resmi menikah.
...*******
...
Zevana bergerak dalam tidurnya karena rasa lelah dan kantungnya mulai berkurang ia pun terbangun kemudian mengeluh dan mulai meregangkan tangan dan kakinya. Sambil duduk, ia melihat sekeliling kamar tersebut dan hanya menemukan kekosongan.
Ia turun dari tempat tidurnya mengambil pakaian di kopernya dan berjalan menuju kamar mandi mengurus keperluannya setelah selesai ia keluar dari sana dengan pakaian yang terlihat rapi dan wajah yang jauh lebih segar daripada sebelumnya.
Saat keluar dari sana ia melihat Maxime yang kini tengah duduk di atas tempat tidur memainkan ponselnya “Hai, good morning” sapanya.
Max dengan santainya hanya menggunakan boxernya tanpa atasan meskipun begitu di terlihat keren “Ya tapi aku tidak bertanya itu” ucap Zevana.
Maxime yang tadi bersikap tenang dan lembut seketika berubah menjadi kesal dalam hitungan detik karena ucapannya "Aku baru saja memberitahumu agar kau tidak harus bertanya”
Ia bisa merasakan bahwa Max sedang marah padanya sekarang, sangat sial karena ia harus merusak suasana “Oke, maaf. Ayo sarapan aku lapar” ucap Zevana ikut duduk di samping Max.
Max menganggukkan kepalanya dan meletakkan ponselnya di sampingnya “Ya, aku sudah memesannya sebentar lagi juga akan tiba” ucapnya lalu menatap Zevana penuh arti “Siapkan dirimu dan barangmu karena siang ini kita akan segera berangkat” ucapnya lagi.
“Kita akan pergi ke mana?” tanya Zevana.
“Bulan madu” jawab Max singkat.
Zevana menghela nafasnya kasar “Aku tau itu, maksudku kita akan pergi bulan madu ke negara mana?” tanyanya lebih jelas.
__ADS_1
“Um... Itu rahasia” ucapnya setengah berbisik.
Tak lama kemudian seorang pelayan hotel tersebut mengetuk pintu kamar mereka membawakan troli makanan lalu pergi setelah meletakkan troli tersebut di dalam.
“Ayo cepat makan kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai lagi” ucap Max.
Zevana menaikkan bahunya lalu membuka tudung makanan yang ada di troli tersebut dan di sana terdapat pancake, wafel, sandwich serta banyak hidangan lainnya lagi.
“Kenapa kau memesan makanan segini banyaknya?” tanya Zevana dengan mata membelalak menatap makanan dan Max bergantian.
Max dengan santainya menjawab “Aku tidak tau makanan kesukaanmu jadi kupesan saja menu sarapan yang mereka punya”
“Kau kan bisa membangunkanku atau menungguku untuk bertanya jika tidak kau juga bisa memesan yang biasa kita makan waktu di apartemenmu” omel Zevana.
Zevana menghela nafasnya “Ya ampun, akan ada banyak makanan yang akan terbuang. Aku tidak mungkin menghabiskan semua ini” ucapnya lagi.
“Makan saja yang kau inginkan, aku tidak menyuruhmu untuk menghabiskan semua itu aku memesannya karena tidak tahu apa yang kau inginkan” ucap Max lalu menatap Zevana dengan tatapan yang tak bisa di artikan “Kenapa harus diperdebatkan, memang apa masalahnya dengan itu semua?”
Zevana menatap Max dengan keterkejutan yang tertulis di wajahnya “Apa masalah dengan semua itu? Apa kau serius? Asal kau tau saja di luar sana masih banyak orang yang bahkan melewatkan sarapan merek karena tidak mampu tapi kau membuang-buang makanan sesaat setelah kau bangun tidur” ucapnya, entah kenapa ia jadi kesal saat ini.
“Kenapa itu harus jadi urusanku? Aku membelinya dengan uangku bukan dengan uang mereka jadi terserah aku mau menggunakan uangku dengan cara apa” ucap Max yang ikutan jadi kesal.
Keduanya diam tidak ada lagi yang bersuara namun beberapa menit kemudian Max memecahkan keheningan di antara mereka dengan menyuruhnya bergegas untuk sarapan. Zevana mengambil pancake dan menuangkan sirop untuknya lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana begitu juga dengan Max yang melakukan hal yang sama setelah mendapatkan sarapannya.
Saat makan tak satu pun dari mereka yang mencoba melakukan percakapan, Zevana terlalu terjebak dalam pikirannya karena Max kini sibuk dengan ponselnya. Ia sadar bahwa ia baru saja mempermasalahkan makanan tapi ia sangat benci jika orang menyia-nyiakan makanan karena ada orang lain di luar sana yang kelaparan dan hanya karena kita punya uang untuk membeli begitu banyak makanan bukan berarti kita harus menyia-nyiakannya.
Ya meskipun yang dikatakan Maxime itu tidak ada salahnya tapi ia hanya berharap agar Max belajar sesuatu tapi karena itu adalah seorang Maxime Abiezer mungkin ia hanya akan mengabaikannya.
Tanpa memperpanjang masalah dan terlalu berkutat dengan pikirannya Zevana pun memutuskan untuk kembali fokus menyantap makanannya hingga selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1