Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.33 Taruhan


__ADS_3

Hari berikutnya semua keluarga besar berada di lantai bawah namun terpencar seperti saat ini Zevana berada di meja makan bersama kedua orang tuanya dan orang tua Maxime sedangkan yang lainnya berada di ruang keluarga kelihatannya sedang menonton televisi tapi faktanya mereka fokus pada ponsel mereka masing-masing.


Ah maksudku mereka semua selain Sylva karena wanita itu baru saja menuruni tangga sepertinya ia baru saja bangun tidur. Zevana tipe wanita yang mudah bergaul dan dekat dengan orang lain tapi jujur saja di antara ipar-iparnya Maxime, Sylva adalah wanita yang mudah untuk di dekati di banding Anna dan Zaneth mungkin karena ia wanita yang santai dan asyik ketimbang dua lainnya.


Sebelum bergabung dengan yang lainnya Sylva berjalan ke arah dapur untuk membawa Zevana bersamanya “Sweety, ayo gabung dengan yang lainnya”


“Ah baiklah, tunggu sebentar” ucap Zevana lalu menegak habis jus mangganya.


Keduanya berjalan ke arah ruang keluarga tempat yang lainnya berkumpul, betapa terkejutnya mereka saat melihat tidak ada satu pun dari mereka yang saling berbicara apalagi yang melirik ke arah televisi yang tengah menayangkan sebuah film.


“Wah kalian para laki-laki, apa tidak bisa pisah dari ponsel kalian sehari saja?” seru Sylva mencuri perhatian mereka.


Maxime hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya, melihat itu Zevana jadi setuju dengan ucapan Sylva karena selama ini ia terus-terusan melihat pria itu dengan ponselnya jika tidak berada di kantor.


“Oh ayolah honey, lihatlah mereka juga bermain ponsel dan yang pasti mereka bukan pria” ucap Miller melirik ke arah Anna dan Zaneth yang duduk di samping suami mereka masing-masing.


“Kita melakukannya karena kalian selalu fokus pada ponsel kalian” bantah Zaneth yang disetujui Anna.


Miller menghela nafasnya, ia menjadi sensitif jika membahas ini karena ini bukan pertama kalinya Sylva mengomelinya saat sedang bermain ponsel padahal ia tak sesering itu berkutat dengan ponselnya.


“Kalian juga sama saja, hanya karena kalian bosan dan kebetulan kami sedang bermain ponsel jadi kalian memprotes kami untuk itu” ucap Miller lagi.


Sylva merasa tersinggung mendengar ucapan suaminya itu “Itu tidak benar, faktanya benar seperti itu kalian selalu bermain ponsel selama waktu senggang”


“Apa perlu dibuktikan bahwa kalian sama saja?” tantang Miller lagi “Kalian harus sadar dengan kebiasaan kalian sebelum menuduhkannya pada orang lain” sambungnya.

__ADS_1


Zevana mengerutkan keningnya entah kenapa ia merasa bahwa ini bukan situasi yang baik untuk pasangan suami istri itu “Hey, ayolah. Jangan bertengkar” celetuknya ragu-ragu.


Sylva yang mendengar itu terpaku sejenak lalu tertawa “Kau sangat lucu sweety, kita tidak sedang bertengkar karena aku tipe yang memukul saat benar-benar bertengkar” jelasnya sembari tertawa.


Zevana tertegun dan tersenyum malu karena sudah salah paham pada mereka.


“Bagaimana jika kita taruhan untuk membuktikan ini?” celetuk Mathew


“Taruhan? Bertaruh untuk apa?” tanya Zevana yang sama sekali tak mengerti.


“Untuk membuktikan wanita atau pria yang lebih sering bermain dengan ponselnya” jelas Mathew.


Zevana sama sekali tak mengerti apa haru sampai bertaruh untuk membuktikan hal kecil itu, ah tapi sepertinya ini akan jadi hal besar untuk yang lainnya terlebih Miller dan Sylva yang paling sensitif untuk ini.


Semua orang setuju untuk bertaruh tapi tidak dengan Zack karena ia sangat butuh ponselnya jika tidak ia akan kesepian di tengah pasangan suami istri dan calon pengantin ini.


Ketiga wanita itu mengangguk setuju sedangkan Zevana hanya mengikuti alur saja “Kalian pikirkan saja ingin bertaruh untuk apa, karena ini akan jadi hal yang serius” ucap Miller.


Mereka sudah memulai taruhan untuk tidak memegang ponsel selama dua puluh empat jam dan sekarang waktu yang berlalu baru selama tujuh jam. Dan harus kalian ketahui Maxime selalu bersama ponselnya saat di kamar bahkan saat di ingatkan tentang taruhan ia tak memperdulikan hal itu berbeda dengan Zevana yang memang sejak awal tidak terlalu obsesi dengan ponselnya.


Kini sudah pukul setengah sepuluh malam Maxime mengajak Zevana untuk turun ke lantai bawah karena yang lainnya tengah berkumpul di sana dan mereka semua membahas tentang satu sama lain yang ketahuan bermain ponsel.


“Lalu apa yang kalian putuskan untuk taruhannya?” tanya Sylva disela ceritanya.


Maxime melipat tangannya di depan dada dan berkata dengan angkuhnya seakan mereka akan menang dalam taruhan ini “Ladies first, ya meskipun itu tak akan tercapai tidak ada salahnya untuk berharap”

__ADS_1


“Kalian tidak mungkin menang karena sejak tadi dia selalu bersama ponselnya” ucap Sylva menunjuk ke arah suaminya


“Come on honey, kau juga melakukannya” celetuk Miller.


Sylva memotong pembicaraan suaminya dan mulai menyampaikan keinginan yang sudah disepakati para wanita “Jika kami menang, kami ingin kalian meluangkan waktu kalian seminggu untuk kami dan hanya melayani kami” ucapnya tersenyum senang.


Miller tertawa meremehkan “Simpan saja harapanmu itu honey” ucapnya lalu melirik ke arah saudara-saudaranya “Lalu jika kami menang, kami hanya ingin melakukan sex” ucapnya asal.


Tak hanya para wanita yang kaget dengan keputusan Miller, para saudaranya juga kaget karena mereka sama sekali tidak tahu jika itu yang akan dijadikan taruhan oleh Miller karena pria itu mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan taruhan yang bagus.


Para pria kini mengeluarkan seringainya menatap penuh arti istri-istrinya dan Zevana karena penasaran dengan Maxime, ia pun melirik ke arah pria itu. Benar Maxime tengah menatapnya namun ia sama sekali tak dapat memahami arti tatapan itu karena ia setia dengan wajah datarnya.


Ia sangat ingin tahu apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini karena ia yakin Maxime tidak mungkin setuju dengan taruhan itu dan hanya melakukannya demi sandiwara mereka agar tak ketahuan.


“Kenapa kami harus melakukannya? Itu sangat tidak cocok dengan taruhan yang kami berikan” ucap Zevana yang sedikit risih dengan taruhan itu.


“Kalian bisa mengganti taruhan kalian dengan sex selama seminggu” ucap Miller kemudian tertawa.


“Bro, sebenarnya aku tidak ada masalah dengan kesepakatan ini tapi memikirkan adikku berhubungan badan dengan seseorang bahkan mendengar erangannya” ucap Zack terhenti “Hah, kupikir aku bisa gila membiarkan adikku dibuat seperti seorang jala*g”


Mereka semua tertawa kecuali Zack, Zevana dan Maxime. Zevana dan Zack diam karena mereka satu pemikiran mereka tak menyukai ide taruhan itu tapi diamnya Maxime berbeda arti ia hanya tak ingin tertawa karena itu bukan sebuah lelucon baginya.


“Tenang saja kau tak akan mendengar itu karena kamar tidur di lantai atas kedap suara semua” jelas Mathew.


Setelah berbincang-bincang ringan mereka semua memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing dan mengucapkan selamat malam satu sama lain setelahnya mereka pun berpencar. Zevana dan Maxime masuk ke dalam kamar mereka dan tanpa mengatakan sepatah kata pun keduanya berbaring di kasur dan perlahan mulai terlelap.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2