
Mereka hanya butuh sekitar dua puluh menit lagi sebelum pesawat mendarat dan untungnya Zevana bangun lebih awal kali ini berbeda dengan Max yang masih setia dengan tidur nyenyaknya.
“Max bangun, kita akan mendarat sebentar lagi. Ayo kembali ke tempat duduk kita” ucap Zevana, mencoba membangunkannya.
Max membuka matanya setelah beberapa kali merasakan guncangan pada tubuhnya dengan malas ia membuka matanya dan melihat sosok Zevana yang tengah duduk di hadapannya bukannya segera bangun Max justru melingkarkan tangannya di perut Zevana dan merebahkan kepalanya di pangkuan Zevana entah atas dasar apa.
Zevana merasakan kecanggungan yang luar biasa saat Max tiba-tiba memeluk dirinya tanpa mengatakan sepatah kata pun itu, setelah membiarkannya beberapa saat Zevana kembali mengajak Max untuk kembali ke tempat duduk mereka.
“Ayo bangun, kita kembali ke tempat duduk kita” ajaknya lagi dan setelahnya barulah Maxime melepaskan pelukannya itu.
Zevana berdiri lebih awal dab keluar dari kamar tersebut membiarkan Max mengikutinya dari belakang setelah sampai di tempat duduknya tadi mereka mulai mengenakan sabuk pengaman dan duduk dengan tenang.
Sangat sulit dipercaya seorang Maxime Abiezer dapat tidur selama itu terlebih sedang dalam perjalanan seperti ini, biasanya ia akan menghabiskan waktu berjam-jamnya itu untuk mengotak-atik laptopnya dan mengurus pekerjaannya. Dan juga biasanya butuh 10-20 menit untuknya bisa tertidur tapi kini hanya memeluk tubuh wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu bisa dikatakan ia hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk langsung tertidur karena ia harus memastikan dulu wanitanya itu tertidur lebih dulu.
Tak lama kemudian jet pribadinya itu pun mendarat ia dan Zevana langsung turun dari sana begitu semua urusannya sudah selesai, mereka langsung berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka dan kini mereka pun telah berada di dalamnya.
__ADS_1
Mereka tengah duduk tenang di dalam mobil dan Zevana tengah menatap kagum ke arah jalanan melalui jendela mobil tapi satu hal yang pasti wanita itu tidak tahu di mana sebenarnya mereka berada sekarang ini.
Max hanya tersenyum mengamati wanitanya itu lalu kemudian ia merogoh sakunya mengeluarkan ponselnya dan mulai mengecek email yang mungkin ia miliki karena sedari tadi ia menonaktifkan data selulernya namun tidak seperti hari biasanya ia sama sekali tak mendapat email apapun hari ini sepertinya mereka tahu bahwa ia tak boleh mengganggu orang yang sedang berbulan madu.
Setelah selesai mengecek ponselnya perhatian kembali tertuju pada wanita di sampingnya itu dengan segera ia mengaktifkan pembatas antara kursi kemudi dan penumpang lalu menarik wanitanya itu agar lebih dekat dengannya dan kemudian menarik tengkuknya dan berakhir dengan sebuah ciuman.
“Sekarang kita akan ke Maldives, honey” ucap Max bergumam di bibir Zevana tanpa melepaskan ciumannya dulu “Ibumu bilang kau selalu ingin kesini tapi terus tertunda”
Zevana tak menjawab karena Max enggan melepaskan ciuman mereka karena itu ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, karena rasanya ia tak bisa melakukan hal yang sama seperti Max berbicara saat bibir mereka masih menyatu.
Kini mereka telah tiba di pelabuhan untuk menyeberang ke pulau untuk mendatangi resor yang akan mereka tempati dan sudah di booking sebelumnya, Max membantu Zevana untuk menaiki bot yang akan mereka tumpangi dan bot itu hanya mengantarkan mereka berdua tanpa ada penumpang lainnya.
Kurang lebih tiga puluh menit mereka akhirnya tiba di resor dan kini sudah berada di dalam kamar mereka, rumah kayu di atas laut dengan pemandangan asli laut bahkan di kamar mandi pun sebagian berlantai kaca.
Zevana menyelesaikan room tournya kini ia menghempaskan tubuhnya di kasur empuk itu “Wah, ini masih tidak nyata untukku” ucapnya menatap langit-langit kamar tersebut.
__ADS_1
“Kau suka?” tanya Max duduk bersandar di kepala ranjang tersebut.
Zevana mengganti posisi baringnya menjadi telungkup lalu bertopang dagu “Ya, sangat. Thanks Max” ucapnya tersenyum manis.
Max menarik tubuh Zevana agar mendekat padanya dan berakhir wanitanya itu berada di pangkuannya “Apa kau membawa pilnya?” tanya Max.
Ia perlu memastikan bahwa wanitanya membawa pilnya sebelum ia melakukan sesuatu dan Zevana hanya menganggukkan kepalanya malu sebagai jawaban, di detik berikutnya ia langsung menarik tubuh Zee mendekat ke arahnya dan langsung mencumbunya.
Ciuman lembut perlahan menjadi panas dan semakin dalam keduanya terbawa hanyut oleh hawa nafsu yang membara, tangan Max tak bisa diam dan terus berkeliaran ditubuh indah wanitanya itu. Seperti biasa tangannya berada di ujung rambut Max mengacak-acak rambutnya menjadikan itu tempat pelampiasannya.
Sedangkan Max menggunakan tangannya untuk berkeliaran mulai dari leher jenjang wanitanya itu hingga menyelusup masuk ke dalam pakaiannya, suasana semakin panas dan membara Max pun dengan mudah meloloskan pakaian Zevana dari tubuhnya dan Zevana juga melakukan hal yang sama padanya.
Tak lama kemudian mereka pun sudah dalam keadaan telanjang tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka masing-masing, Max tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung bermain pada ****** yang sudah mengeras itu dengan mulutnya.
Zevana mengerang saat Maxime terus memanjakan tubuhnya tanpa henti “Max cukup, lakukan itu sekarang” ucapnya.
__ADS_1
Max menyeringai saat mendengar suara lirih dan terengah-engah itu entah kenapa ia merasa seperti seorang pemenang saat ini dan tentunya ia tak menunda lebih lama lagi karena kini wanitanya itu pun sudah menginginkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...