Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.41 Rencana Pesta Pernikahan


__ADS_3

Di senja hari yang tenang keluarga besar Abiezer dan Afsheen terlihat kompak berada di halaman belakang, berkumpul sembari berbincang ria mencerita banyak hal dan mengakrabkan diri lebih dekat untuk mengisi waktu luang mereka.


“Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?” tanya nyonya Abiezer melenceng dari topik pembicaraan mereka sebelumnya.


Zevana terlihat kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, ia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa maksudnya yang ada di pikirannya sekarang hanyalah kata ‘ia tidak ingin menikah’ namun jika ia mengatakan itu sudah pasti Tuan Arogan itu akan melenyapkannya.


Pertanyaan itu tidak mengganggunya ia bahkan tidak berniat untuk menjawabnya karena ia pikir itu adalah tugas Maxime untuk menjawab dan benar saja pria itu menjawab pertanyaan ibunya dengan santai tanpa beban.


“Kami harap bisa melaksanakannya akhir bulan ini” jawabnya santai.


Dua minggu lagi? Berarti itu akhir bulan ini tapi bagaimana mungkin dia mengatakan dengan begitu mudah? Dua minggu itu bukan waktu yang lama dan untuk menggelar sebuah pernikahan butuh waktu yang lama dan persiapan yang banyak.


Tapi meskipun begitu Zevana masih terlihat tidak terpengaruh dengan situasi itu, ia hanya duduk menunggu menyimak pembicaraan ibu dan anak itu karena ia benar-benar tidak ingin ikut campur dalam masalah itu meski ia nantinya yang akan menjadi pemeran utama wanita di hari bahagia itu.


“Akhir bulan ini? Tidakkah itu terlalu cepat? Maksudku banyak hal yang harus di persiapkan untuk melangsungkan pernikahan” ucap Emily, ibu Zevana.


Nyonya Abiezer menatap ibu Zevana dengan kening yang mengerut dan Emily menyadari itu “Ah tentu saja aku tidak melarangnya, hanya saja bukankah itu terlalu sulit untuk disegerakan” jelasnya kembali.


“Untuk itu kami akan menyewa WO terbaik agar semuanya berjalan mulus hingga harinya” jawab Maxime dengan tenang.


“Ya, itu benar tinggal sediakan uang maka semua akan terlaksana meski dalam waktu sehari pun” ucap Emily setuju dengan ucapan Maxime.


Bahkan ibunya juga! Pria itu terlihat seperti sudah merencanakan semuanya, tentu saja itu adalah hal yang bagus hanya saja Zevana juga punya impiannya sendiri tentang pernikahan dan Maxime tanpa mengatakan apa pun sudah merencanakannya sendiri tanpa mendiskusikannya.


“Tapi tetap saja kau harus memberi waktu untuk Zevana karena dia pasti punya pernikahan yang dia impikan” celetuk tuan Abiezer.


Ya itu benar, ia juga punya impian sendiri tentang pernikahan meskipun ini hanya sandiwara tetap saja mereka akan menggelar pesta.


Maxime menatap Zevana dengan senyuman dan di akhiri dengan sebuah seringai sebelum akhirnya ia menatap ke arah ayahnya “Tapi pa, Zee yang meminta untuk melakukan pernikahan di akhir bulan dan aku tidak bisa menolaknya. Benarkan sayang?”


Oh Shit! Dia benar-benar seorang pembohong yang handal. Setelah mengatakan semua yang ada di pikirannya kini ia melempar masalah yang ia buat kepada Zevana, dia benar-benar pria yang mengejutkan.

__ADS_1


Zevana menutupi keterkejutannya karena tiba-tiba namanya di sebut, di situasi seperti ini ia hanya bisa mengangguk sembari memasang senyuman palsu di wajahnya.


Nyonya Abiezer menatap Zevana khawatir “Apa kau yakin sayang? Merencanakan pernikahan butuh waktu belum lagi kau harus memilih gaun yang cocok untukmu dan dekorasi sesuai impianmu” ucapnya.


“Sayang, banyak hal yang harus kau persiapkan jika ingin melangsungkan pernikahan. Dua minggu itu waktu yang singkat” ucap calon ibu mertuanya itu lagi.


Entah apa yang terjadi padahal tadi tidak ada yang membantah Max saat mengatakan akan menikah dua minggu lagi dan akan menyewa WO terbaik tapi sekarang saat Max mengatakan bahwa semua ini adalah keinginannya kenapa jadi ada banyak kekhawatiran yang bermunculan.


Bukankah Maxime sudah mengatakan bahwa ia akan menyewa WO terbaik maka semua itu akan selesai dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi bahkan untuk pesta pertunangan mereka saja Zevana hanya menggunakan setengah hari jam kerjanya untuk mengatur semuanya.


Zevana kembali menunjukkan senyum palsunya “Tentu semua akan baik-baik saja, aku akan mengaturnya di sela-sela waktu luangku saat bekerja dan tentu saja Max pasti akan memberiku cuti selama aku mengurusnya” ucap Zevana menyeringai.


“Tentu saja sayang, kau harus cuti” jawab nyonya Abiezer cepat, Zevana menampilkan senyuman penuh kemenangannya.


“Kami akan membantumu karena itu jangan sungkan untuk menghubungi kami” ucap Sylva dan disetujui oleh Anna dan Zaneth.


“Um, apa kau yakin bosmu akan memberimu cuti? Sepertinya dia akan gila tanpa seseorang di sampingnya saat bekerja” ucap Miller sembari menggoda Max.


Mungkin mereka semua menganggap bahwa Zevana hanya bercanda tapi ia benar-benar serius dengan ucapannya itu. Ia sendiri bahkan tidak bisa menahan tawanya sampai akhirnya ia merasakan sebuah tangan meremas kuat bagian pahanya, Zevana mencoba untuk menyingkirkan tangan Max namun ia gagal karena itu sangat kuat bahkan ia yakin jika itu akan meninggalkan bekas.


Tangan Max masih tidak berhenti meremas pahanya hingga akhirnya ia menyandarkan kepalanya di bahu Max dan berbisik pelan di telinga pria itu “Hentikan, itu sangat menyakitkan” ucapnya.


Bukannya berhenti Max semakin meremas kuat paha Zevana dan mendekatkan kepalanya “Jangan harap, ini balasan karena kau sudah berani menertawakanku”


Zevana meringis pahanya terasa keram “Aku tidak bisa merasakan pahaku, tolong lepaskan” ucapnya.


“Aku akan melepaskannya dengan satu syarat”


“Apa?”


Maxime menyeringai “Lap dance, aku ingin kau melakukannya malam ini”

__ADS_1


Zevana menjauhkan kepalanya dari bahu Max, ia sama sekali tak mengerti dengan isi kepala pria itu. Kenapa setiap kali permintaan yang keluar dari mulutnya selalu menyuruhnya melakukan hal yang biasa di lakukan wanita jalang.


“Tidak!”


“Kalau begitu lupakan saja, sepertinya mereka masih asik berbincang” ucap Maxime sembari meremas kuat paha Zevana.


Kakinya benar-benar keram karena cengkeraman kuat di bagian pahanya itu, Zevana kembali menyandarkan kepalanya di bahu Max dan memasang senyum palsu seakan mereka berdua sedang bermesraan.


“Aku akan menciummu, hanya ciuman tidak lebih” bisik Zevana.


Max menoleh ke arahnya dan menyeringai “Oke, dua puluh menit”


Zevana menatap Max dengan tatapan membunuh “Apa kau gila? Tidak, aku bisa mati kehabisan nafas” tolaknya.


“Kita melakukannya berkali-kali sayang, jika kau tak ingin maka lakukanlah lap dance” ucap Max.


Zevana menggelengkan kepalanya dengan cepat “Sepuluh menit” ucapnya.


“Lima belas menit” ucap Max


“Tig...” ucapan Zevana dihentikan oleh Max “Ini bukan waktunya untuk tawar menawar sayang”


Zevana menghela nafasnya, sangat sulit melawan seorang pebisnis dalam hal mencari kesepakatan. Merasa tidak akan menang Zevana pun menyetujuinya “Oke, lima belas menit jadi lepaskan tanganmu”


Di detik yang sama Max melepaskan cengkeramannya dari paha Zevana dengan cepat Zevana meluruskan kakinya dan memukul-mukul pelan kakinya yang terasa keram itu.


Hari itu mereka melakukan apa yang sudah mereka sepakati namun kali ini Max benar-benar tidak bisa melewati batas dan Zevana pun tidak terbawa suasana terlalu jauh karena sebelum memulainya, ia sudah memastikan memasang alarm dengan benar.


Di tengah suasana panas itu alarm Zevana berbunyi dan tentu saja membuat Max mengerang marah karena aktivitasnya terganggu namun tidak dengan Zevana yang merasa senang karena ia berhasil membuat kesal Max malam itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2