
Maxime tak mendengarkan pria itu dan meraih kerahnya secara kasar serta mengangkat tangannya di udara bersiap ingin memukul bagian wajah pria itu namun terhenti saat Steven terlebih dahulu memalingkan wajahnya dan memohon pada Maxime untuk mempercayainya.
“Percayalah, dia yang menarikku kesini dan langsung menciumku. Jangan percaya dengan air mata wanita sepertinya Max, come on” ucap Steven frustrasi
Zevana terbelalak tak percaya disela sedunya ketika mendengar ucapan Steven, bagaimana ia seketika menjadi pelaku padahal sudah menangis seperti ini? Maxime menghentikan aksinya dan menatap Zevana menyelidik dan sukses membuat Zevana semakin terperangah karena pria itu terlihat seperti percaya pada ucapan Steven.
Apa yang sebenarnya dipikirkan Maxime bukankah dia melihat bagaimana Zevana menangis, meronta di bawah Steven? Bahkan wanita itu menangis ketakutan lari ke arahnya saat ia tiba di sana.
“Setelah dia menangis seperti itu?” tanya Maxime pada Steven sembari menunjuk wajah Zevana.
Steven yang awalnya terlihat sedikit tegang akhirnya tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya yang sukses membuat Maxime dan Zevana kebingungan dengan tindakannya.
“Oh Man, come on! Dia menciumku dengan kasar. Jal*ng itu terlihat menyukai cara yang kasar” ucap Steven yang mencoba membela dirinya sendiri.
Zevana membelalak ngeri namun bajingan itu menyeringai menyukai alasan yang baru saja ia utarakan, Maxime tak boleh mempercayai ucapan pria itu setelah melihat keadaannya yang menyedihkan ini. Dia harus berada disisi Zevana di saat seperti ini dan cukup mempercayai apa yang ia lihat bukan yang ia dengar.
Ia menatap mata Maxime dengan kekhawatiran yang tercetak jelas di wajahnya, meyakinkan Maxime untuk mempercayainya. Ia terlalu kaget untuk mengatakan apa pun kecuali kondisiku saat ini.
__ADS_1
Maxime memutuskan pandangan mereka dan berbalik menatap ke arah bajingan itu “Oke Steven, maafkan aku atas tindakan tunanganku ini dan sikap kasarku barusan”
Zevana merasa sangat menyedihkan, ia tak menyangka setelah melihat semua ini Maxime masih tak mempercayainya. Dia bahkan terlihat seperti tak peduli padanya dengan penuh kemenangan Steven memperbaiki dirinya dan bersiap berjalan keluar dari toilet tersebut.
“T-tidak! I-itu tidak benar, dia berbohong. Aku kesini untuk mencuci wajahku tapi dia datang tepat setelahnya dan menyerangku!” ucap Zevana menggebu mencoba untuk membuat Maxime mempercayainya.
“Tutup mulutmu!”
Zevana terlonjak kaget saat mendengar teriakan Maxime, ini tak seperti yang ia harapkan. Maxime benar-benar membiarkan bajingan itu lolos begitu saja karena ia lebih mempercayai ucapan Steven daripada apa yang ia lihat dan keadaan Zevana saat ini.
Zevana sangat terpukul mendengar keputusan Maxime itu lagi pula kenapa dia meminta bajingan itu untuk tidak mengatakan apapun? Ia korban di sini.
"Tentu, kau tenang saja. Aku sangat memahaminya karena kau memiliki reputasi yang harus dipertahankan dan bisnis yang harus dijalankan”
“Oh, thanks man!” ucap Maxime dan benar-benar membiarkan Steven berlalu dari sana.
Jangan tanya bagaimana keadaan Zevana saat ini karena perasaan marah, kecewa dan tangisnya bercampur menjadi satu. Sekali lagi perkataan bajingan itu benar Maxime tak mungkin lebih memperdulikannya daripada bisnisnya, karena kesepakatan yang berharga miliaran itu jauh lebih berarti untuknya daripada tunangannya sendiri.
__ADS_1
Zevana bahkan merasa tak berhak untuk menangisi fakta itu karena dari awal ia sudah sangat mengetahui hal itu “Lalu kau...” ucap Maxime berjalan ke arahnya.
“Kembalilah lebih dulu, tunggu aku di mobil. Aku akan menemui Tuan Dazzel untuk berpamitan terlebih dahulu dan kita akan bicarakan semua ini di rumah” perintahnya.
Zevana hanya mengangguk setuju bahkan ia tak ingin membantah dan berdebat dengannya saat ini, hatinya sudah sangat kecewa dan tenaganya juga sudah cukup banyak terkuras saat melawan Steven tadi.
Tak butuh waktu lama untuknya menunggu kini Maxime sudah berada bersamanya di parkiran dan tanpa banyak basa-basi Maxime langsung mengemudikan mobilnya dengan sangat sembrono. Ia terlihat sangat marah dan Zevana tak mengatakan apapun di sana karena tak ingin memperkeruh suasana dan hanya diam menatap keluar jendela.
Saat mereka tiba di tempat parkir penthouse, Zevana keluar dari mobil mengikuti langkah besar Maxime yang terkesan buru-buru. Selama di lift suasana yang menyelimuti mereka sangat canggung dan ketika ia melirik ke arah Maxime, ia dapat melihat pria itu mengepalkan tinjunya. Ia sangat ketakutan.
Ding!
Mereka berdua keluar dari lift, Maxime melangkahkan kakinya meninggalkan Zevana di belakangnya kemudian membuka pintunya. Zevana hanya mengikutinya dengan gemetar saat mereka masuk ke penthouse.
Hidupnya terasa seperti sedang dipertaruhkan saat ini!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1