Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.39 Sudah Kukatakan Aku Bukan...


__ADS_3

Setelah bingung memutuskan untuk turun atau tidak akhirnya Zevana pun memutuskan untuk turun karena merasa akan bosan jika di kamar sendiri dan yang pasti ia akan tambah di olok-olok yang lainnya karena melarikan diri.


“Huft! Tidak apa-apa, tidak perlu malu” ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.


Zevana menuruni tangga namun tidak melihat siapa pun di ruang keluarga saat selesai menuruni tangga ia mendengar suara dari arah dapur dan bergegas untuk bergabung dengan yang lainnya, kini beberapa dari mereka tengah menyantap sandwich dan juga nasi goreng untuk hidangan makan siang mereka.


Semua orang ada di sana namun Zevana tidak melihat orang tua mereka “Mama dan Papa belum turun?” tanyanya.


Miller mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Zevana “Mereka baru saja pergi, katanya ingin keliling-keliling karena mereka tahu kita hanya akan tidur seharian ini” jawabnya.


“Aku rasa memang itu yang akan kalian lakukan seharian ini karena tadi malam kalian sangat tidak ingat waktu” ucap Zack kesal.


Miller dan Mathew menertawai ucapan Zack tersebut, mereka mengatakan bahwa kamar di atas kedap suara semua namun yang sebenarnya erangan mereka terdengar hingga ke kamar lainnya.


“Kenapa kau tak memutar musik di kamarmu?” ucap Miller yang masih menertawai nasib buruk Zack.


Zack merinding “Hah, itu seperti mimpi buruk asal kalian tahu” protesnya.


Zevana menatap ke arah Sylva karena kamar mereka bersebelahan “Hey, cobalah untuk tidak berteriak kencang saat melakukannya” tegur Zevana bercanda.


Sylva menatap Zevana dengan percaya diri “Dengar sayang, aku dan Miller sedang berusaha untuk memiliki bayi jadi aku tidak menahannya agar itu berhasil”


Alasan yang Sylva berikan sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa kecuali pasangan suami istri itu yang mempercayai hal konyol itu.


Zevana mengitari meja untuk mengambil posisi duduk di satu-satunya kursi yang masih kosong dan tepat di samping Maxime. Setelah berbincang tadi kini keadaan meja makan seketika hening semua orang kembali fokus pada makan dan ponsel mereka, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.


Ia tak mempermasalahkan hal itu karena semua orang mungkin punya kesibukan atau pekerjaan masing-masing di ponsel yang masih tertunda. Taruhan satu hari tanpa ponsel mereka sangat menyenangkan, mereka jadi menghabiskan banyak waktu bersama dan saling bercerita banyak hal.


Zevana mengeluarkan ponsel dari saku celananya karena tidak ada pesan yang ia tunggu atau apa pun itu, ia memutuskan untuk mengecek email kantor. Meskipun sedang cuti tapi ia tetap harus mengecek email dari salah satu klien penting dan mengiriminya balasan.

__ADS_1


Zevana fokus pada ponselnya karena tengah melakukan pekerjaan namun sebuah hembusan nafas panas menyentuh kulit lehernya membuat ia sedikit tersentak kaget dan menggelinjang kegelian.


“Ada yang ingin kukatakan” ucap Maxime yang sengaja menghembuskan nafasnya di leher Zevana untuk mengganggu wanitanya itu.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi bahkan persetujuan dari Zevana, Maxime langsung bangkit dari duduknya dan berjalan pergi menjauhi meja makan dan yang lainnya. Jujur saja ia sangat tak ingin mengikuti dan menuruti semua perintah pria itu namun kali ini rasa keingintahuannya sangat besar membuatnya dengan patuh mengikuti langkah pria itu yang perlahan menuju ruang tamu.


Zevana kini berdiri tepat di belakang Maxime dan pria itu kini tengah mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala “Ayo ke halaman belakang, nanti yang lain bisa mendengarnya” ucapnya dan langsung melangkah tanpa mendengarkan jawaban dari Zevana.


Zevana menghela nafasnya kesal, mau tidak mau ia terpaksa mengikutinya karena pria itu sudah berjalan mendahuluinya, ia mengikuti Maxime yang sudah duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut.


Halaman belakang diatur sedemikian rupa sehingga bisa mengadakan acara kumpul keluarga, masak-masak dan sekedar bersenang-senang. Maxime duduk di kursi santai yang kemarin ia duduki bersama ayahnya, ia duduk di sebelahnya.


Mereka berdua saling menatap sampai akhirnya Zevana memutuskan untuk memecah keheningan “Katakanlah, apa yang ingin dibicarakan?” tanyanya.


“Aku butuh seks” ucap Maxime dengan singkat, jelas dan padat sedangkan Zevana hana menatap kosong dirinya.


Maxime menatapnya dengan wajah datar namun tatapannya sangat tajam “Selama di sini aku butuh kau untuk memenuhi kebutuhanku”


Gila! Pria ini pasti sudah gila. Dia pasti bercanda bukan? Bukankah tadi malam Zevana sudah menolaknya dan mengatakan bahwa ia tak ingin melakukan hal itu dengannya.


“Tidak” ucapnya datar


“Katakan saja apa yang kau perlukan, aku akan memberikannya untukmu” ucap Maxime.


“Excuse Me?! Apa maksudmu yang aku perlukan lalu kenapa kau harus memberikannya untukku?” tanya Zevana kaget mendengar ucapan Maxime barusan.


Maxime memandang remeh dirinya “Oh, come on honey. Jangan kau kira aku sudah lupa tentang yang kau lakukan pada Steven” ucapnya menyeringai.


“Dan yang aku tau seorang gold digger itu tak peduli seberapa kaya dan banyak uang yang ia punya, ia tak akan pernah puas dengan itu” ucapnya lagi dan menatap jijik ke arah Zevana.

__ADS_1


Zevana benar-benar benci tatapan itu dan juga kenapa pria ini terus membicarakan hal yang sangat ingin ia lupakan itu. Seseorang selalu mencoba untuk menidurinya bukan hanya sekali dua kali dan kini orang lainnya yang benar-benar bodoh juga ikut melakukannya.


“Aku bukan pelacur” ucap Zevana dengan suara rendahnya.


Maxime justru menertawainya “Ayolah Zee, berhenti membodohi dirimu sendiri. Apa kau suka perhiasan? Bagaimana dengan satu set perhiasan dengan berlian?”


“Aku tidak butuh itu” ucap Zevana beberapa detik sebelum amarahnya meledak “AKU BUKAN PELACUR!” pekiknya.


“Sudah berapa kali kukatakan aku tidak melakukannya, aku bukan pelacur” ucap Zevana yang masih berteriak.


Maxime menyipitkan matanya tak suka menatap tak kalah membaranya dari Zevana “Turunkan suaramu saat berbicara denganku!” ucapnya penuh penekanan.


“Aku bukan pelacur” gumam Zevana sembari berdiri dari duduknya namun tetap bisa di dengar oleh Maxime.


“Baru kali ini aku ketemu pelacur sekeras kepala dan sok jual mahal sepertimu” ucap Maxime sengaja sedikit keras agar di dengar oleh Zevana yang sudah berada beberapa langkah jauh darinya.


Zevana membalikkan tubuhnya sembari menatap marah Maxime dan perlahan kembali berjalan mendekat ke arah pria itu “Mari kita luruskan ini, pertama aku bukan jalang. Aku tidak pernah menjajakan tubuhku untuk menerima imbalan seperti itu”


“Kedua, kau tak bisa mengatakan aku seorang jalang ketika kau sendiri pria brengsek yang memaksaku untuk menikah denganmu. Lalu ketiga, berhenti menyebutku pelacur ketika kau setiap malamnya selalu membawa perempuan jalang yang berbeda untuk kau tiduri!”


“Aku bukan pelacur, aku tidak seperti wanita yang setiap malam kau bawa pulang untuk ditiduri! Aku punya uang cukup untuk diriku tanpa harus menjajakan tubuhku untuk uang” jelasnya panjang lebar.


“Kau harus tahu perbedaan antara kau dan aku, aku tidak pernah memaksa mereka untuk ikut dan tidur denganku” ucap Maxime yang masih enggan mempercayai ucapan Zevana.


Ia mengatakan dengan rahang yang mengeras dan suara yang dingin, Zevana sangat muak dengan pembicaraan ini. Pria itu selalu membawa hal yang sama setiap kali terjadi perdebatan di antara mereka, dengan mudahnya ia berkata tajam seperti itu tanpa tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan pria arogan itu Zevana menahan emosinya lalu beranjak pergi meninggalkan pria itu di sana dan untungnya Maxime tak mengikuti atau pun mencegahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2