
Malam ini sedikit berbeda karena ini malam yang cukup spesial bagi Zevana dan Maxime begitu juga keluarga besar mereka, yaitu malam yang mereka tunggu-tunggu malam pertunangan mereka.
Pertunangan mereka diadakan di sebuah hotel mewah dan bertema outdoor, tak banyak tamu yang hadir hanya sekitar seratus lima puluh orang dan hanya orang-orang penting bagi kedua belah pihak keluarga saja yang hadir.
Zevana terlihat sangat cantik dalam balutan dress panjang yang mengekspos bagian punggung mulusnya serta lengan putihnya dan di bagian dada serta tali bajunya dipenuhi dengan lapisan mutiara-mutiara kecil, rambut panjangnya di sanggul indah yang juga mengekspos leher jenjangnya. Sedangkan Maxime terlihat gagah dengan setelan jasnya meskipun hari-hari biasa pun menggunakan kemeja dan jas tapi malam ini damage-nya sangat luar biasa.
Zevana terlihat tengah berbincang-bincang ria dengan istri-istri calon kakak iparnya itu “Apa kalian real bertemu saat kau melamar kerja di sana? Rasanya itu tidak nyata karena kau bahkan belum lama kerja di sana” ucap Sylva tiba-tiba.
Tak hanya Sylva, kedua wanita lainnya juga berpendapat sama tentang itu “Apa ada yang memperkenalkan kalian sebelumnya atau apakah itu takdir?” goda Zaneth ikut-ikutan.
Zevana hanya bisa tersenyum canggung mendengar pertanyaan itu karena ia tak tau harus menjawab apa, sebelumnya ia tak pernah memperkirakan jawaban untuk pertanyaan itu. Hingga akhirnya ia di kagetkan dengan sebuah tangan yang terulur di punggung mulusnya sedikit kaget namun setelah melihat ke samping ia hanya bisa melempar senyum palsunya.
“Apa sekarang aku boleh membawa tunanganku?” Tanya Maxime menyela pembicaraan mereka.
Kakak ipar-kakak iparnya itu hanya tertawa pelan “Silakan bawa pujaan hatimu ini” ucap Sylva meledek adik iparnya itu “Tapi ingat jangan terburu-buru untuk merobek gaunnya kalian masih punya banyak waktu untuk itu” sambungnya dan membuat mereka tertawa kecuali Zevana yang hanya bisa tersipu malu.
“Tenang saja aku bisa menahannya dengan baik” ucap Maxime meladeni kakak-kakak iparnya sembari menarik tubuh Zevana semakin dekat ke arahnya lalu membawa Zevana menjauh dari kerumunan istri-istri kakaknya itu.
__ADS_1
Kini hanya ada mereka berdua tentu banyak orang lainnya di sekitar tapi tidak ada yang berada dekat dengan mereka “Terima kasih sudah membantuku keluar dari mereka” ucap Zevana.
“Tidak apa, aku memperhatikanmu sedari tadi karena kau bisa menjawabnya dengan baik jadi aku hanya membiarkannya saja” ucap Maxime datar.
“Tapi bagaimana jika orang-orang bertanya tentang bagaimana pertemuan kita dan sudah berapa lama kita berkencan?” tanya Zevana melirik sebentar ke arah Maxime lalu menatap kosong ke arah rombongan tamu undangan.
“Katakan saja kita sudah kenal sejak lama karena kau adik Zack jadi tidak ada alasan untuk orang-orang tak mempercayai itu” ucap Maxime mengikuti arah pandang Zevana “Lalu katakan saja jika kita sudah berkencan sejak dua tahun yang lalu, aku rasa itu umur hubungan yang pas untuk menikah”
“Oke tapi kau harus tau aku bukan pembohong yang baik jadi aku harap saat aku berada disituasi seperti tadi kau ada di sampingku” ucap Zevana
“Ya kau sangat buruk tapi jangan sampai kau membongkar semua ini” ucap Maxime memperingatinya agar berhati-hati.
“Ayo kita kembali sebentar lagi acara intinya akan di malai” ucapnya lagi.
Mereka berbalik dan mulai berjalan ke bagian depan dekat meja yang keluarga besar keduanya, Zevana sedikit tersentak saat merasakan tangan Maxime menjalar di punggung polosnya itu.
Tak lama setelah mereka mengambil tempat dan perhatian tamu terarah kan pada keduanya inti acara pun akhirnya akan di mulai.
__ADS_1
Tuan Abiezer berdiri dari duduknya dan mulai mengatakan sesuatu semacam kata sambutan “Selamat malam semuanya, saya sangat berterima kasih pada hadirin semua karena sudah meluangkan waktu kalian yang berharga dan datang kemari”
“Dan malam ini kita semua berkumpul di sini untuk meresmikan cinta putra bungsu saya dan calon putri saya yang sangat luar biasa, saya sangat senang keduanya bertemu satu sama lain dan saya harap sekarang dan di masa depan hubungan kalian akan tetap penuh kasih sayang” sambungnya lagi sembari memandang anak dan calon menantunya itu.
Setelah selesai mengucapkan inti pembicaraan yang ingin ia katakan, kini giliran kepala keluarga Afsheen yang berbicara “Sebagai seorang ayah sejujurnya aku tak ingin putri kecil saya berkencan dengan siapa pun karena meskipun umurnya sudah cukup untuk memiliki seorang pria di hidupnya tapi aku tak pernah rela karena dia masih seperti bayi dimataku”
Itu sangat mengharukan sehingga membuat Zevana hampir menangis, seandainya ini nyata tanpa kebohongan maka ini akan jadi momen yang berkesan untuknya.
“Tapi untuk pertama kalinya putriku mengabariku tentang hubungannya dengan seorang pria dan itu adalah Maxime, aku memilih untuk mempercayai pilihan putriku dan karena Maxime berasal dari keluarga terpandang jadi kupikir ia tak akan mungkin menyakiti anakku” ucapnya lagi.
“Dan untuk Maxime, aku mempercayakan putriku padamu jadi kuharap kau menjaga dan mencintainya sebesar aku menyayangi putri cantikku satu-satunya ini. Kami juga sangat senang mendapat putra lain di dalam keluarga kami”
Kini Maxime mengambil posisi berdiri dan memulai gilirannya “Terima kasih untuk keluargaku, Tuan dan Nyonya Afsheen juga sahabatku Zack karena sudah mempercayaiku dan membiarkan kami untuk hidup bersama. Mungkin ini sulit dipercaya dan terdengar menggelikan tapi aku seperti hidup untuknya karena dia sudah menjadi segalanya di hidupku” ucapnya sembari menatap Zevana dengan senyuman palsunya dan dibalas hal yang sama oleh Zevana.
“Mari kita bersulang” ucap tuan Abiezer dan mengundang para tamu mengangkat gelas mereka masing-masing “Untuk pasangan yang bahagia!!”
“Cheers!”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...