
Apakah dia juga mulai menyukaiku? Ah atau apakah semua ini hanya karena ia sedang mengandung anaknya? Ia tidak tahu di saat seperti ini harus bersikap seperti apa, entah ia harus bahagia atau sedih karena jujur ia berharap lebih ia ingin Max juga menyukainya bukan tetap di sini hanya karena anaknya saja.
Zevana menggelengkan kepalanya “T-tidak, mari lakukan seperti yang sudah kita janjikan saja” ucapnya menolak tawaran Max tentang tidak jadi bercerai itu.
“A-aku tidak ingin terus hidup bersama tanpa ikatan cinta, aku rasa aku tidak akan sanggup untuk semua itu” ucapnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Max.
Meskipun ia mencintainya tapi ia tahu pasti bahwa pria itu tidak mencintainya atau bahkan tidak akan pernah bisa mencintainya dan ia juga tidak ingin hidup bersama dengan terus mencintai sendiri seperti ini.
Max bergerak mendekat ke arah wanitanya itu dan perlahan ia mengulur tangannya untuk meraih dagu Zevana dan membuat Zee menatap ke arahnya “Siapa bilang pernikahan ini tanpa cinta” ucapnya.
Suaranya sangat lembut itu seperti menghipnotisnya dan amarah Zevana langsung mereda begitu mendengar suara yang penuh kepedulian dan kata-kata yang sangat ingin ia dengar itu tapi ia tidak akan tertipu dengan mudah lagi.
“Jangan membohongiku, aku tau kau tidak mencintaiku. Aku akan tetap pergi sesuai perjanjian kita di awal, aku hanya ingin anakku hidup dilingkungan yang nyaman dan rasanya jika kita terus bersama aku tidak akan sanggup” ucapnya lagi.
Max kembali menarik dagu Zevana dan kini mata mereka bertemu dan saling bertatap seakan mereka berbicara lewat mata “Aku mencintaimu” ucapnya.
__ADS_1
“Aku mengatakan ini bukan karena bayi yang ada diperutmu itu, perasaan ini mulai tumbuh sejak kita pulang dari vila tapi aku tidak mengakui dan menyangkalnya” jelas Maxime.
“Dan jika kau bertanya bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padamu mungkin karena aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu” ucapnya lagi “Sekarang dan ke depannya pun aku bisa pastikan bahwa dihidupku hanya ada kau, nyonya Zevana Maxime Abiezer” sumpahnya.
Entah angin apa yang mengenainya kini wanita itu sedang menangis, ia merasa bahwa Maxime benar-benar serius dan tulus dengan ucapannya karena mata pria itu hanya terdapat ketulusan. Ini hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahkan pria itu baru saja menyebutnya dengan nyonya Maxime Abiezer, apakah itu artinya Maxime juga memiliki rasa yang sama dengannya?
“A-aku.. aku juga mencintaimu” ucap Zevana lirih sembari menundukkan kepalanya tapi itu masih bisa di dengar oleh Maxime.
“Maaf karena keegoisanku bulan madu kita jadi berantakan, aku kesal dengan kehadiran jalang itu dan aku juga cemburu aku tidak suka melihatnya yang seakan tahu banyak tentangmu. Maaf karena aku melampiaskan amarahku padamu aku tidak suka melihatnya” jelasnya.
Ya, ini mungkin sulit untuk dipercaya bagi mereka yang tiba-tiba saja saling menyatakan cinta itu karena selama ini tidak ada suatu kejadian atau momen spesial yang bisa membuat keduanya saling jatuh hati tapi entah kenapa seiring berjalannya waktu perasaan itu ada dan nyata.
Max bergeser turun dari tepi ranjang itu ke bawah dan berlutut lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memperlihatnya sebuah kotak merah kecil yang di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan berlian di tengahnya yang kini sedang ia hadapkan ke arah Zevana.
“Apa kau bersedia memulai kehidupanmu yang baru denganku?” tanya Max penuh ketulusan.
__ADS_1
Senyuman melebar di wajahnya saat wanitanya itu menganggukkan kepala setuju dan ia pun memasangkan cincin berlian itu ke jari manis tangan kanan istrinya itu karena tangan kirinya sudah di isi dengan cincin pernikahan mereka.
“Apa ini artinya tidak akan ada perceraian dan perjanjian-perjanjian itu lagi?” tanya Zevana memastikan sekali lagi.
Max menganggukkan kepalanya “Ya, tidak ada perceraian” ucapnya mantap “Karena rasanya setelah semua yang kita lalui bersama akan sulit untukku hidup tanpamu” ucapnya lagi.
Max bangkit dari posisi berlutunya dan kembali duduk di tepi ranjang lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Zevana, Zee pikir Max akan mencium bibirnya karena itu ia memejamkan matanya namun prianya itu justru mengecup keningnya.
Ini pertama kalinya pria lain selain ayah dan kakaknya melakukan hal itu, mencium di keningnya dan ia juga selalu ingin seseorang melakukan hal itu karena entah kenapa ia dapat merasakan ketulusan seseorang jika orang itu mengecup keningnya.
Zevana tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca itu, ia melihat ke arah cincin berlian yang baru saja disematkan Maxime itu “Ini cincin yang sangat cantik” ucapnya lalu melirik ke arah Maxime “Terima kasih, Max”
Max menganggukkan kepalanya lalu mengambil alih nampan yang berada di nakas di dekatnya itu “Sekarang ayo makan, aku akan membantumu” ucapnya lembut.
Ia mulai menyuapi Zevana dengan sup yang sudah hampir dingin itu karena terlalu lama dibiarkan dan tak di sentuh itu, awalnya ia menawarkan makanan yang lain tapi Zevana menolaknya dan mengatakan akan tetap memakan sup itu karena perutnya mulai terasa lapar dan tak ingin menunggu lebih lama lagi karena sudah seharian ia tidak makan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...