
Keheningan menyelimuti keduanya padahal sebelum masuk tadi Zevana sudah bersiap-siap untuk menerima teriakan dan menyiapkan jawaban yang sesuai kalau-kalau Maxime mempertanyakan tentang hal tadi.
Masih dengan wajah marahnya Maxime hanya diam membuat Zevana kebingungan dan makin ngeri “M-Max...” panggilnya ragu
Sepertinya itu bukan hal yang baik untuk mengajak Maxime berbicara karena kini tatapan tajam pria itu sepenuhnya tertuju untuknya, ia dibuat bergidik ngeri dan beberapa detik setelahnya amarah pria itu akhirnya meledak juga.
“Jangan berani mengatakan hal apapun untuk terlihat tak bersalah di depanku, dasar jalang! Sudah berapa lelaki yang kau tiduri? Apa kau juga melakukannya pada anak tuan Richard itu?” ucap Maxime meninggikan suaranya.
Maxime benar-benar sangat marah kini matanya memerah dipenuhi kemarahan dan Zevana sangat ingin menangis saat ini karena perkataan yang baru saja di dengarnya itu, tak seorang pun yang pernah mengatakan hal sekejam itu pada dirinya namun ia menahan air matanya sebaik mungkin tak ingin menumpahkan semuanya di depan pria yang bahkan tak ingin mendengar penjelasannya itu.
“Jaga sikap murahanmu itu terlebih di depan rekan-rekan kerjaku jika tidak kau benar-benar akan membongkar ke semuanya kalau hubungan ini palsu” ucapnya lagi.
Inilah yang membuat Maxime sangat marah kepadanya karena pria itu sangat takut jika hubungan mereka sampai terbongkar dan tentu saja kebohongan itu sangat berdampak pada reputasinya dan perusahaannya.
“Tapi aku tak pernah menciumnya” teriak Zevana frustrasi karena semakin di dengarkan ucapan Maxime sangat membuatnya sakit hati.
Baru saja selesai dengan ucapannya entah bagaimana bisa kini punggungnya sudah beradu dengan pintu sehingga membuat punggungnya terasa sakit karena hantaman yang tiba-tiba. Maxime hanya berada satu inci dari wajahnya meski sangat disayangkan tapi jarak itu memisahkan mereka, tangannya menggenggam erat tangan Zevana dan mengimpitkannya ke dinding.
__ADS_1
“Jangan pernah berpikir untuk berkencan atau tidur dengan pria lain diam-diam atau aku akan menghancurkan kalian berdua” ancam Maxime lagi.
Pria itu mengatakannya dengan sungguh-sungguh tapi ini sangat tak adil untuknya karena ia bahkan tak mencium Steven apalagi tidur dengan pria yang dituduhkannya, dan juga kenapa ia tidak boleh bebas untuk berkencan sedangkan dia keluar masuk setiap malamnya dengan wanita yang berbeda. Dasar bajingan!
“Tapi itu tidak adil! Bahkan tidak satu pun yang kau katakan tentangku itu benar” ucap Zevana kesal meninggikan suaranya, kini ia terang-terangan menyuarakan kemarahannya.
Maxime mengabaikan ucapan Zevana dan tetap pada sikap keras kepalanya “Kalau kau tak bisa mengontrol nafsumu pada pria setidaknya kau harus tau tempat, kau tadi beruntung karena Steven tak ingin membicarakan masalah ini lebih lanjut” ucapnya.
“Aku tidak menciumnya! Dia yang menciumku!!” ucap Zevana meninggikan suaranya frustrasi.
Bahkan sampai detik ini Maxime masih percaya bahwa Steven tak bersalah padahal bajingan itu hampir memperkosa tunangannya.
“Terserah kau saja, kau bahkan tak mendengarkan ucapanku” ucap Zevana.
Ia menyerah, tak lagi ingin membantah karena entah kenapa rasanya jika ia terus membantah dan menyanggah ucapan pria itu maka ia akan mendengar lebih banyak makian yang lebih dari ini dan tentunya sangat-sangat menyakiti hatinya.
Maxime tertawa kecil membuat Zevana mendongak menatapnya “Itulah yang biasanya di lakukan jalang saat berada di situasi seperti ini, hanya bisa memelas minta kasihan” ucapnya dengan arogan.
__ADS_1
“Mulai hari ini kau dilarang pergi ke mana pun sendirian tapi jika itu bersamaku atau keluargamu tak jadi masalah. Berhenti merayu banyak pria sebelum semuanya terbongkar” ucap Maxime memperingatinya.
“Dan jika itu terjadi maka aku berjanji akan membuat pihakmu rugi dan mencoreng nama baik keluargamu dengan beritamu sendiri” ancamnya.
Zevana mendengus tak suka “Kau tak mungkin berani melakukannya karena kau tidak hanya merusak nama baik keluargaku tapi kau juga akan merusak reputasimu dan keluargamu” ancam Zevana balik.
Maxime menyeringai “Apa kau bodoh? Saat semua ini terbongkar orang-orang akan melihatku sebagai korban yang dikhianati oleh tunanganku yang berselingkuh dengan banyak pria. Kau pikir siapa yang akan menghujatku saat itu terjadi?” ucapnya penuh kemenangan.
“Terserah kau saja, lepaskan tanganku” ucap Zevana memutar bola matanya malas, ia menghela nafasnya panjang.
Maxime tak mengatakan apapun lagi, ia melepas genggaman tangan Zevana dan berjalan pergi menuju kamar tidurnya. Zevana menghela nafasnya lega setelah melihat pria itu menghilang dari balik pintu kamarnya barulah Zevana beranjak dari sana menuju kamarnya dan menguncinya.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya namun tanpa ia sadari air matanya justru mengalir begitu saja tak lama setelah ia merebahkan tubuhnya. Sebenarnya ia tak ingin mengingatnya lebih lama lagi namun ia tak bisa karena pikirannya tetap terfokus pada masalah dan ucapan serta makian yang diberikan Maxime padanya.
Maxime dan Steven adalah seorang bajingan. Kini sudah pukul sebelas malam Zevana belum juga tertidur karena matanya entah kenapa masih segar hingga sekarang. Telinga tajamnya mendengar suara tawa wanita dari luar sana, entah kenapa air matanya kembali berlinang air mata karena ingatan tadi siang kembali memenuhi pikirannya.
“Aku bukan jalang...” ucap Zevana lirih lalu menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal dan meringkuk di dalamnya.
__ADS_1
Di bawah sana Zevana mencoba melupakan kejadian tadi siang dan membuang semua emosi-emosi tak berguna itu, hingga akhirnya rasa kantuk menguasai tubuhnya dan membuatnya tertidur lelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...