Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.64 Putri Tidur


__ADS_3

Sepulangnya dari mencari persiapan pernikahan Zevana membersihkan dirinya dan berakhir tertidur lelap di kasurnya, ia sama sekali tidak berniat untuk tidur karena ia berencana untuk menunggu hingga Maxime pulang tapi karena merasa bosan tidak ada yang bisa ia lakukan tanpa ia sadari ia pun tertidur hanya dalam beberapa menit setelah melepaskan ponsel dari tangannya.


Namun sayangnya ia terbangun dari tidurnya karena terganggu dengan tubuhnya yang diguncang oleh seseorang membangunkannya, saat pertama ia merasakannya tapi ia berpikir untuk mengabaikannya saja dan tetap tidur namun guncangan itu terus berlanjut hingga membuatnya risih dan bangun.


“Apa sih?” bentaknya kesal karena tidurnya terganggu, ia menggosok-gosok matanya dan duduk.


Zevana menatap Maxime tajam namun ia juga mendapatkan tatapan yang tak kalah tajam dari pria itu “Kau sangat mengagumkan. Bagaimana mungkin ada wanita yang tiap kali ketemu bantal langsung tidur” ucapnya dengan nada meledek.


Zevana menghela nafasnya kasar “Itu salahmu karena tidak tidur, tidur saja sana jika tidur adalah hal mengagumkan untukmu" kesalnya


“Cih, yang benar saja” ucap Max berdecih.


Zevana tak bisa mengontrol raut wajahnya yang cemberut itu “Sebenarnya apa sih masalahmu? Apa kau membangunkanku hanya untuk mengagumi cara tidurku?!” ucapnya semakin kesal.


Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya sebuah kantong plastik berada di depan wajahnya, Max menggoyang-goyangkan plastik itu “Ayo makan bersama tapi aku akan mengganti pakaianku dulu” ucapnya lalu pergi dari kamar Zee.


“Biarkan aku mengumpulkan tenaga, kalau kau lapar makan saja dulu” teriak Zevana tepat saat Max menutup pintu kamarnya.


Kini sudah beberapa menit sejak Max meninggalkan kamarnya dan Zevana benar-benar tidak beranjak dari kasurnya dan malah kembali berbaring dengan alasan ingin mengumpulkan tenaganya dulu, saat merasa kantuk perlahan kembali menyerangnya ia pun segera bangkit keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur tempat Maxime berada.


Di atas meja bar sudah tersusun rapi piring dan makanan yang sudah tersaji dan Maxime kini tengah menuang wine ke dalam gelasnya dan air putih untuk Zevana


“Um.. aku juga ingin wine, itu terlihat enak” lirihnya


Max mendengar itu karena itu cukup kuat untuk di dengar orang lain namun ia tak menghiraukannya “Duduklah, ayo makan” ajaknya setelah menyimpan kembali botol winenya.


Zevana mengerucutkan bibirnya karena ia tahu bawa Max sengaja mengabaikan ucapannya itu, ia mengentakkan kakinya dan menggerutu “Aku juga ingin wine” ucapnya lagi.


“Tidak ada wine untukmu” larangnya kemudian melirik sekilas ke arah Zevana yang cemberut “Kau ingin jus?” tawarnya.


“Tidak perlu, air putih sudah cukup untukku” jawabnya ketus.

__ADS_1


Max sangat tidak peka, ia menganggukkan kepalanya mengerti “Iya, air putih bagus untuk kesehatanmu” ucapnya lagi.


Zevana makan dalam diam tapi raut wajahnya sangat tidak enak untuk dipandang, meskipun ia sedang sangat kesal ia tidak boleh ngambek dan meninggalkan makanannya karena ia sangat lapar.


Max merasa bersalah karena merusak suasana hati wanitanya itu, ia pun berdiri mengambil gelas baru dan menuangkan sedikit wine ke dalam gelas itu.


“Ini minumlah” ucapnya menyodorkan gelas itu pada Zevana yang seketika membuat Zevana menyunggingkan senyumnya “Hanya itu, kau tidak boleh minum wine terlalu banyak. Kau pasti lelah berkeliling seharian jika kau minum wine besok pagi tubuhmu akan sakit” jelasnya panjang lebar.


Zevana hanya mengangguk paham “Thank you, Max” ucapnya.


Kini suasana meja makan terasa berbeda dari sebelumnya meskipun masih sama-sama hening tapi jika melirik ke samping suasananya jadi terasa berbeda.


“Ah ya, um.. apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanyanya lagi.


Max menghentikan makannya dan menatap Zevana “Kenapa harus bertanya? Meskipun aku bilang tidak kau akan tetap bertanya” ucapnya lalu mengalihkan pandangannya.


“Jangan mengajakku berdebat, aku bertanya karena aku benar-benar penasaran” ucap Zee.


“Kau bilang kau menikahiku karena urusan bisnismu bukan?” tanyanya dan diangguki oleh Max sebagai jawaban.


“Lalu kenapa itu harus aku? Jika kau perlu aku maka urusan bisnismu itu ada hubungannya dengan keluargaku bukan? Tapi sejauh ini aku tidak pernah melihatmu meeting atau bertemu dengan ayah atau Zacky untuk urusan bisnis” tanyanya menyelidik.


Max bangkit dari kursinya berjalan ke arah wastafel meletakkan piring kotornya di sana dan bersandar di sana “Sebenarnya ini tidak ada hubungan spesifik dengan orang tuamu atau bisnis mereka” ucapnya.


Zevana ikut bangkit dari kursinya dan mendekat ke arah Max, ia menggeser Max sedikit menjauh dari sana agar ia leluasa untuk mencuci piring kotor mereka.


“Hanya itu?” tanya Zee pada Max yang masih ada di sebelahnya itu.


“Yang aku butuhkan itu adalah pernikahan, kenapa kau? Karena kebetulan saja kau yang ada bersamaku saat itu dan kau sedikit menarik perhatianku saat itu” jelasnya membuat Zevana terhenti sejenak lalu melanjutkan lagi kegiatan mencuci piringnya.


“Jadi maksudmu, siapa pun orangnya kau akan tetap melakukan pernikahan ini?” tanya Zevana memastikan pemahamannya.

__ADS_1


Maxime menganggukkan kepalanya membenarkan pemahaman wanitanya itu mengambil piring yang sudah di cuci Zevana dan menyusunnya.


“Kenapa kau butuh pernikahan untuk bisnis?” tanyanya lagi, ia sama sekali belum bisa memahami maksud dan tujuan Maxime.


“Karena pernikahan cara terbaik untuk menyelesaikan segala masalah yang ada. Jangan terlalu dipikirkan kau cukup tau satu hal ‘aku sangat membutuhkanmu’ jangan pikirkan yang lain lagi” ucapnya lalu pergi dari sana karena Zee sudah selesai menyuci piring.


Zevana diam mematung dengan segala pikirannya di sana sedangkan Maxime kini sudah berada di ruang keluarga duduk di sofa dan menonton televisi yang menayangkan Variety Show Comedy.


Setelah beberapa menit ia tak melihat tanda-tanda Zevana sudah beranjak dari dapur dan ia juga tak mendengar suara bising atau suara air mengalir dari sana.


“Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah” teriaknya cukup kencang untuk membuat Zevana mendengarnya dengan jelas.


Zevana tersadar dari lamunannya tanpa pikir panjang ia pun berjalan menuju ruang keluarga dan melihat Max yang sedang menatapnya sejak tadi.


“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Max saat melihat Zevana berdiri diam tak jauh darinya “Kemarilah...” ucapnya lagi sembari menepuk-nepuk pangkuannya.


Ia kembali membeku sejenak berdebat dengan pikirannya untuk duduk di sofa saja atau di pangkuan Max, entah apa yang terjadi dengannya sangat tidak biasa ia memikirkan hal seperti ini. Zevana bergerak dan berakhir duduk di pangkuan Max, persetan dengan harga diri toh setelah ini mereka akan tetap melakukan hubungan intim.


Ia duduk di pangkuan Maxime seakan itu hal yang normal dan bukan masalah besar padahal ia sangat malu karena memulainya lebih dulu dan ia sangat beruntung karena pria yang memangkunya itu juga berpikir bahwa ini hal yang normal.


Maxime merangkul tubuhnya memeluknya dari belakang sangat erat lalu menarik Zevana agar lebih melekat dengan tubuhnya yang otomatis membuat benda di bawah sana bergesekan.


“Aku akan anggap ini sebagai jawaban” ucap Max lalu mengecup leher belakang Zevana, hawa dingin dan hembusan nafasnya menyeruak masuk ke dalam kulit mulus Zee.


Persetan dengan Variety Show Comedy itu, kini keduanya sudah di penuhi nafsu untuk tetap fokus menonton acara tersebut. Zevana yang tak henti-hentinya mendapatkan kecupan beruntun di bagian leher belakangnya pun dengan gerakan cepat mengubah posisinya jadi mengangkang.


Tanpa menunggu lama setelah Zevana merubah posisi duduknya kini bibir mereka sudah saling menyatu bahkan menimbulkan suara decak karena mereka sling mencecap satu sama lain, tak hanya itu Zevana bahkan tidak lagi menahan erangannya dan membiarkannya lolos begitu saja dan membuat Maxime menyeringai disela ciuman mereka.


Malam itu mereka melakukannya lagi~


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2