
“Bagaimana kondisimu?” tanya Max sembari meletakkan sepiring pasta di hadapan Zevana lalu menuangkan segelas air untuk wanitanya itu.
Zevana melirik Max sembari menganggukkan kepalanya “Y-ya, aku baik-baik saja” ucapnya entah kenapa membuatnya sedikit malu.
Max tersenyum manis ke arah Zevana membuat wanita itu langsung menundukkan kepalanya, Max kembali tersenyum sembari menggelengkan kepalanya gemas melihat tanggapan dari Zevana. Ia segera mengambil pasta dan menuangkan segelas air untuknya lalu duduk di samping Zevana tapi bukannya segera memakan pastanya ia malah memperhatikan Zevana lebih dulu.
Meskipun fokus pada pastanya namun tak bisa dibohongi bahwa ia merasakan tatapan dari arah samping namun ia tetap berusaha mengabaikan dan memilih untuk memakan pastanya saja. Pemandangan Maxime terganggu saat rambut panjang Zevana menutupi sisi kanan wajah Zevana dengan perlahan ia pun menyelipkan rambut tersebut ke belakang telinga Zevana dan sontak saja hal itu membuat wanita itu tersentak kaget.
“Ah maaf, apa kau kaget?” tanya Max lembut.
Jujur saja Zevana sangat di buat bingung dengan sikap Max yang berubah padanya sejak kejadian di Vila pria itu lebih sering memperhatikannya, bersikap lembut bahkan peduli padanya.
“T-tidak apa” ucap Zevana grogi.
Max masih menatap Zevana sembari memainkan rambut wanitanya itu “Apa ini tidak mengganggu? Mauku ikatkan?” tawarnya.
Zevana menggelengkan kepalanya “T-tidak perlu, rambutku belum sepenuhnya kering” ucap Zevana, biasanya ia tak mengikat rambutnya saat masih basah.
Max menganggukkan kepalanya mengerti, ia masih mengelus rambut Zevana lembut namun terhenti karena perkataan Zevana “Makanlah pastamu, itu akan jadi sangat lembek nanti” ucapnya.
Max tersenyum ke arah Zee dan menjauhkan tangannya dari rambut Zevana “Baiklah, selamat makan” uucapnya
Setelah itu mereka makan dengan tenang namun di tengah-tengah makan siangnya itu, Max justru mengatakan sesuatu yang membuat Zevana tersedak.
“Bagaimana apa kau puas, hem?” tanya Max
__ADS_1
Zevana menganggukkan kepalanya “Iya, ini sangat enak. Ternyata kau juga bisa masak” puji Zevana.
Max memiringkan kepalanya “Oh terima kasih pujiannya tapi bukan ini yang aku maksud” ucapnya membuat Zevana menoleh ke arahnya.
“Maksudku apa kau puas dengan permainanku tadi malam?” tanyanya blak-blakan.
Di detik itu juga Zevana tersedak dan membulatkan matanya sempurna, ia sama sekali tak menyangka jika Max akan bertanya hal seperti ini padanya. Justru ia berpikir bahwa pria itu akan berpura-pura bahwa tidak ada terjadi apa pun pada mereka tadi malam.
“Itu tidak terlalu sakitkan? Aku sudah melakukannya dengan lembut tapi aku penasaran apa aku benar-benar tak menyakitimu” ucapnya.
Wajah Zevana kini sudah merah padam rasanya ia ingin sekali menyumpal mulut pria itu agar berhenti berbicara “M-max, Max...” lirihnya.
“Um, kau memanggilku? Ada apa, apa aku menyakitimu?” tanya Max lagi.
“H-hentikan!” ucapnya setengah berbisik bahkan Max sendiri meragukan pendengarannya dan memasang wajah seakan ia tak mendengar apa yang dikatakan Zevana.
Max tersenyum gemas saat melihat wajah merah Zevana “Kau terlihat seperti kepiting rebus sekarang, apa kau tau?” ledeknya sembari tertawa pelan.
“Aku sangat menikmatinya tadi malam, aku harap kau juga begitu” ucap Max membuat Zevana menghela nafasnya pasrah sepertinya pria itu tidak akan berhenti membahas kejadian tadi malam.
Max memiringkan kepalanya menunggu jawaban darinya dan ia menyadari hal itu “A-aku, aku juga” ucap Zee tak berani menatap Max.
Max menyeringai puas saat mendengar jawaban Zevana lalu ia menggenggam tangan Zevana membuat wanita itu refleks mengangkat wajah menatapnya.
“Aku ingin mengulanginya lagi” ucap Max sukses membuat Zevana membulatkan matanya tak percaya dengan yang barusan ia ucapkan.
__ADS_1
“K-kau ingin melakukannya lagi?” tanya Zee kaget, ia pikir kejadian tadi malam hanya akan di anggap kesalahan dan ia sama sekali tak menyangka bahwa akan terulang lagi.
“Ya!” ucap Max tersenyum manis menatapnya.
“K-kenapa?”
“Karena sebentar lagi kita akan menikah selama setahun jadi kupikir daripada menggunakan wanita lain lebih baik aku melakukannya denganmu karena kau istriku untuk setahun ke depan” ucap Max dengan wajah datarnya.
Zevana mengernyitkan keningnya padahal baru saja pria itu terbuka padanya, tersenyum bahkan peduli padanya tapi kini entah kenapa rasanya seperti pria itu kembali memberi batasan yang jelas di antara mereka.
“Aku tidak akan bisa menolak bukan?” tanya Zevana menghela nafasnya.
Max menyeringai karena kini wanitanya itu sudah sangat mengerti dirinya dengan baik “Jika kau menolakku, aku akan memperkosamu terlebih karena kau akan menjadi istriku sudah kewajibanmu melayaniku” ucapnya.
Zevana kembali menghela nafasnya “Baiklah tapi aku tidak ingin melakukannya setiap malam” ucapnya, mengingat sebelumnya Max selalu membawa wanita pulang setiap malam.
“Kenapa tidak? Kita harus melakukannya setiap malam agar kau terbiasa” ucap Max.
Zevana memutar malas bola matanya “Apa kau gila? Tidak akan pernah, tiga kali seminggu itu sudah cukup” ucapnya.
Max menggelengkan kepalanya tak terima “Tidak sayang, kita harus melakukannya kapan pun aku mau tapi saat kau benar-benar lelah aku tak akan memaksa” ucapnya.
Zevana terlihat berpikir sebentar sebelum ia menyetujui hal itu “Tapi berjanjilah untuk tidak memaksaku melakukannya?” ucapnya.
“Tentu saja, aku berjanji. Tapi jika kau membohongiku maka aku akan memperkosa mu. Deal?” ujar Max menyeringai.
__ADS_1
“Oke, deal”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...