
Di ruang keluarga tempat biasanya Max dan Zevana bersantai kini di penuhi dengan ayah dan ibu mereka, mereka terlihat berbincang santai meramaikan suasana sembari menikmati hidangan makan malam yang di masak oleh Zevana serta ibunya dan calon ibu mertuanya.
Setelah selesai menyantap makan malam mereka Zevana beranjak ke dapur untuk mengemas semua itu lalu tak lama kemudian kembali lagi dengan beberapa gelas jus di tangannya, meskipun sebelumnya ia tidak menyambut mereka dengan baik setidaknya ia harus menjamu mereka dengan sangat baik.
Zevana meletakkan gelas berisi jus mangga itu di hadapan mereka masing-masing “Terima kasih, nak” ucap ayah mertuanya begitu juga dengan yang lainnya.
“Sebenarnya maksud kami mengajak kalian bertemu untuk membahas pernikahan kalian, kita tidak punya banyak waktu lagi. Hanya ada dua minggu lagi untuk kita merencanakan semuanya” ucap Jessica, nyonya Abiezer.
Zevana menganggukkan kepalanya setuju “Untuk gedung, katering dan dekor aku sudah serahkan semuanya dengan W.O” ucapnya terhenti sebentar lalu kembali berbicara “Untuk dressnya, aku sudah punya beberapa pilihan di ponselku tapi kupikir aku harus melihatnya secara langsung dulu” jelasnya.
Kini giliran ibu dan ibu mertuanya yang mengangguk setuju dengan ucapannya “Ya nak, kau harus melihatnya langsung dan mencobanya” ucap ibunya.
“Mulai besok kau harus menyibukkan diri dengan persiapan pernikahan ini karena itu jangan bekerja” sambungnya lagi.
Zevana melirik ke arah Maxime untuk melihat bagaimana tanggapan pria itu tentang saran ibunya, secara di sini Max selain calon suaminya pria itu juga berperan sebagai atasannya. Ia mendongak menatap pria itu menunggu Max menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sepertinya ia harus berjuang ekstra menyiapkan semuanya meskipun ini semua hanya sandiwara.
“Kenapa kau menunggu jawabannya nak? Kau akan menikah dengan pria pemilik tempatmu bekerja karena itu kau boleh sesuka hatimu untuk mengambil libur” ucap tuan Abiezer yang tanpa ia sadari sejak tadi memperhatikannya.
Zevana tertawa pelan “Apa kau dengar itu, aku boleh melakukan apa pun mulai sekarang” ucapnya bercanda.
Zevana berharap Max menanggapi ramah gurauannya tapi pria itu justru tetap setia dengan wajah datarnya sembari menatap kosong ke arahnya, tidak seperti yang lainnya yang ikut tertawa dengannya.
Mereka mengakhiri pembicaraan tentang pernikahan dengan berlalu begitu saja dan kini mereka kembali membicarakan tentang personal dan bisnis.
Zevana menarik perhatian yang lainnya saat memasang ekspresi seakan baru saja mengingat sesuatu “Ah, kalian datang saat kami tertidur bukan?” tanyanya dan mereka mengangguk sebagai jawaban.
“Lalu bagaimana kalian bisa masuk?” tanyanya lagi, kebingungan.
Belum sempat mereka menjawab, Max lebih dulu menjawab pertanyaannya itu “Orang tuaku dan saudara-saudaraku mengetahui kode penthouse-ku” ucapnya santai.
__ADS_1
Zevana kembali ber-oh ria saat mengingat kejadian saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di penthouse Max dan di hadang oleh saudara laki-laki Maxime.
“Ya, itu terjadi karena Max sangat suka susah dihubungi dan ibunya sering khawatir kepadanya. Jadi kami memutuskan untuk mengetahui kode penthousenya untuk berjaga-jaga” jelas tuan Abiezer mengundang tawa, mereka memperlakukan Max seakan anaknya itu hanya seorang pria kecil yang lemah.
Zevana dengan cepat menggelengkan kepala dan menggerakkan tangannya saat mendengar suara ibu mertuanya yang panik “Oh tapi kau tenang saja nak, kami tidak akan main masuk lagi jika itu membuat kau jadi tak nyaman” ucap Jessica.
“Tidak apa ma, itu tidak jadi masalah untukku. Aku hanya penasaran saja malah aku akan senang jika mendapat kejutan seperti ini” ucap Zevana tulus.
Suasana menjadi hening sebelum akhirnya tuan Abiezer memecahkan keheningan “Sebenarnya ada yang inginku tanyakan padamu nak, sudah sejak lama” ucapnya menatap Zevana ragu.
Zevana balik menatapnya dengan kening yang sedikit mengerut dan alis yang naik “Apa kau hamil?” tanya tuan Abiezer lagi.
Zevana yang baru saja hendak menelan jus mangganya dibuat tersedak karena pertanyaan tak terduga itu, ia melirik tajam Maxime karena kini pria di sebelahnya itu tengah mati-matian menahan tawanya dan hal itu membuat Zevana jadi sangat kesal.
“Sayang, jika memang itu alasan kalian menikah mendadak seperti ini maka kalian tidak perlu melakukan itu. Kalian bisa menikah saat kalian merasa siap” ucap Jessica lemah lembut dan disetujui oleh Emily.
“Itu benar nak, kalian boleh memiliki baby meski belum menikah kami tidak akan mempermasalahkan itu. Lagi pula mengurus semua persiapan saat sedang hamil sangat tidak bagus untuk kesehatan baby karena kau akan mudah lelah dan stres” jelas ibunya, Emily panjang lebar.
Bukannya menjelaskannya Zevana justru menyeringai dan membantu nyonya Abiezer untuk menyudutkan Max “Itu benar, kau tidak boleh seperti ini Max” ucapnya.
Maxime menyipitkan matanya dan menatap tajam Zevana sedangkan yang ditatap sedang berusaha untuk menahan tawanya.
“Ma, ayolah... Dia tid--” ucapan Max terpotong dan Zevana mengejeknya dalam diam.
“Mari pikirkan lagi Max karena mama sangat yakin jika waktu yang ada tidak cukup untuk menyiapkan segalanya” ucap ibunya lagi.
“Ma!” pekik Max menghentikan ocehan ibunya itu, bukannya ibunya saja yang kaget Zevana dan ibunya juga ikut kaget karena mendengar teriakan tiba-tiba itu.
“Dia tidak hamil” ucapnya lagi.
__ADS_1
“Kenapa kau tidak percaya pada insting wanita? Ini tubuhku bagaimana mungkin kau tahu pasti apa yang sedang aku alami” ucap Zevana mempermainkan Max.
Maxime menatapnya tajam, tatapannya seakan tertulis bahwa ia akan membunuhnya “Zee!” hardiknya.
Pria itu pasti sangat tahu pasti tentang kondisinya, ia tidak mungkin hamil karena baru tadi malam pria itu memasukinya dan mengambil keperawanannya.
Zevana tertawa hambar “Tidak, aku hanya bercanda. Maafkan aku tapi aku benar tidak hamil” ucapnya.
“Tapi kenapa kalian sampai berpikir jika aku hamil?” tanyanya balik penuh kebingungan.
Ayahnya mengangkat bahunya “Um entahlah tapi saat liburan di Vila kau terkadang melakukan tindakan yang biasa dilakukan oleh ibu hamil” jelasnya.
Zevana mengernyitkan keningnya, ia tak ingat pernah melakukan hal-hal seperti itu “Aku tidak, bagaimana mungkin aku melakukannya” ucapnya kembali tertawa pelan.
“Tapi bagaimana pun kami ingin segera menimang cucu” ucap Emily, ibunya yang mengacu pada ayahnya dan kedua mertuanya itu “Sering berjalannya waktu kami juga bertambah tua” ucapnya lagi.
“Ma, hentikan!” ucap Zevana canggung, ia bahkan mencuri-curi pandang kepada Max untuk melihat raut wajah pria itu.
Dan sekali lagi mereka semua terlihat ragu saling berpandangan sebelum akhirnya ayahnya memulai pembicaraan.
“Nak, kami hanya ingin tau keadaanmu. Apa kau baik-baik saja sekarang?” tanya ayahnya.
Zevana tahu ke mana arah pembicaraan ini, ia hanya bisa memperlihatkan senyuman manisnya itu “Em, aku baik-baik saja karena aku punya Max di sampingku” ucapnya sembari menaikkan kedua bahunya, seakan ingin memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja.
Tanpa peringatan apa pun kedua wanita paruh baya itu bangkit dari kursi mereka dan memeluknya secara tiba-tiba dan Zevana dengan senang hati membalas pelukan itu.
“Jika kau butuh sesuatu katakan saja padaku bahkan jika Max menyakitimu kau harus segera melaporkannya padaku. Aku akan memarahinya untukmu” ucap calon mertuanya itu.
Setelahnya mereka kembali berbincang-bincang ringan seperti biasa saat para pria berbincang tentang bisnis, para wanita berbicara tentang personal dan fashion dan kedua orang tua mereka itu saling berbagi tips dan kisah hidup mereka dan pernikahan mereka.
__ADS_1
Pertemuan mereka malam ini sangat menyenangkan dan juga sedikit mengharukan, kini sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu bersama mereka pun memutuskan untuk kembali dan mereka saling berpelukan sebelum akhirnya berpisah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...