Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.52 Dinner di Rooftop


__ADS_3

Tiga hari sejak kembalinya mereka dari liburan telah berlalu, Zee dengan mudah melupakan bayang-bayang atau ingatan tentang kejadian di Vila karena pria yang berada di sampingnya dengan sabar menjaga dan menemaninya. Hubungan mereka mulai membaik, saling perhatian dan saling menjaga satu sama lain namun jika di kantor mereka bersikap profesional bahkan seperti biasa jika kerjanya tak benar dengan siap siaga pria itu akan memarahinya.


Kini kedua insan itu terlihat berhenti di sebuah restoran mewah yang biasa mereka singgahi dalam perjalanan pulang atau yang biasa mereka kunjungi saat mereka lelah untuk memasak di rumah. Zevana keluar dari mobil tersebut diikuti dengan Max yang memberikan kunci mobilnya pada petugas restoran tersebut dan mereka masuk bersama ke dalam.


“Ada yang bisa saya bantu, tuan dan nyonya?” tanya salah satu pelayan restoran tersebut.


“Kami akan dinner di rooftop” jawab Zevana.


Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya paham “Maaf sebelumnya, apa Anda sudah reservasi?” tanya pelayan itu lagi.


Zevana mengangguk pelan “Ya, atas nama Maxime Abiezer” ucapnya.


Pelayan tersebut terlihat mengecek sesuatu dan beberapa menit kemudian ia pun memanggil pelayan lainnya lalu untuk mengantar mereka menuju meja rooftop.


“Maaf sudah membuat menunggu tuan dan nyonya, silakan ikut saya” ucap pelayan yang baru datang itu sopan.


Tanpa tunggu lama mereka pun mengikuti pelayan itu masuk ke dalam lift menuju rooftop, sampai di atas mereka menempati meja nomor lima dan memesan steik dan wine serta hidangan penutup ice cream untuk mereka santap malam ini.

__ADS_1


“Wah, malam ini sangat indah. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku menikmati pemandangan langit malam seperti ini” ucap Max kagum melihat ke langit bebas.


Setelah seharian berada di kantor berkutat dengan komputer dan dokumen lalu melihat hal seperti ini rasanya sangat menyenangkan, bisa di bilang sama seperti 'me time’ baginya.


Zevana menganggukkan kepalanya setuju sembari menatap langit malam dengan bintang-bintang yang indah serta bulan sabit di antaranya “Em benar, ini sangat indah” ucapnya setuju.


Cuaca pun sangat mendukung tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, ia kembali mengarahkan pandangannya ke sekitar semua yang ada di rooftop ini adalah pasangan. Sepertinya rooftop adalah tempat kencan paling bagus mengingat keindahan yang disuguhkan oleh pihak restoran dan langit pun ikut ambil andil atas keindahan malam ini.


“Apa warna kesukaanmu?” tanya Max tiba-tiba membuat Zevana mengalihkan pandangannya.


Max melepaskan jasnya meletaknya di sandaran kursi dan menggulung lengan kemejanya lalu menopang dagunya dengan siku di atas meja. Melihat itu Zevana pun melakukan hal yang sama, ia menatap Max dengan menyipitkan matanya ia benar-benar penasaran kenapa pria itu tiba-tiba bertanya tentang dirinya pribadi.


“Bukankah itu hal dasar yang harus diketahui? Kurang dari dua minggu lagi kita akan melaksanakan pernikahan” ucap Max yang entah kenapa membuat Zevana kurang bersemangat.


“Black, Peach dan Lilac. Tapi kenapa harus warna favorit, memangnya ada orang yang menanyakan warna kesukaanku padamu?” tanya Zevana memiringkan kepalanya, tak mengerti.


“Tidak, pertanyaanku bukan itu saja. Masih banyak hal yang harus aku ketahui menjelang pernikahan kita jadi kau juga boleh bertanya jika ingin” ucapnya datar.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu ‘Apa warna kesukaanmu?’” tanya Zevana mencoba meniru suara bahkan mimik datar Max hingga membuat pria itu tertawa kecil.


“Kau hanya meledekku atau penasaran? Aku suka warna hitam dan putih” jawabnya lalu kembali menanyakan beberapa hal pada Zevana “Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi atau yang belum pernah kau kunjungi?” tanyanya.


“Mungkin Maldives...” ucapnya sedikit ragu “Um, airnya jernih dan sepertinya itu menjadi idaman banyak orang tapi itu terlalu jauh untuk dituju” ucapnya lagi lalu menghela nafasnya.


“Kenapa tidak bora-bora?” tanya Max


Zevana menaikkan kedua bahunya “Entahlah, mungkin karena sebelumnya sudah dihantui dengan keindahannya” ucapnya.


Ia bukan tipe anak yang hobi liburan apalagi hanya sekedar jalan-jalan tanpa tujuan penting, seumur hidupnya ia hanya pernah pergi ke Italia, Prancis, Turki, Jepang, Korea dan yang paling ia datangi adalah Los Angles. Terlebih lagi sejak semester akhir High School ia tak pernah lagi pergi berlibur karena terlalu sibuk dengan tugas-tugas dan ujian sekolah dan universitas.


Max hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan dan mereka saling menanyakan banyak hal tentang pribadi lebih banyak lagi sampai akhirnya sebuah pertanyaan yang menjadi perdebatan kecil terjadi di antara keduanya.


“Um... Jika kau di suruh untuk memotong antara *milikmu dan ibu jarimu mana yang akan kau potong?” tanya Zevana tiba-tiba.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2