Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.51 Apa Aku Terlihat Menyedihkan?


__ADS_3

Setelah hidangan yang mereka pesan datang, mereka memakannya dengan tenang, tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka dan saat selesai mereka pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.


“Ingin mampir ke mal dulu?” tanya Max berniat untuk membiarkan wanitanya itu refreshing dulu, agar pikirannya tak terus-terusan mengingat kejadian kemarin.


Zevana menggelengkan kepalanya “Um... Apa boleh mampir ke taman sebentar?” tanyanya ragu.


Ia sedikit tak enak hati meminta Max untuk ke taman dan ia juga ragu apa pria itu akan menyetujuinya karena mereka harus berbalik arah dan pergi agak jauh dari apartemen mereka tapi Max justru menyetujuinya begitu saja.


Meskipun sekarang sudah hampir jam sepuluh malam di taman itu masih terlihat cukup ramai orang bahkan ada beberapa anak kecil yang terlihat datang bersama orang tua mereka.


Zevana bersiap untuk turun dari mobil lalu melirik ke arah Max “Aku akan jalan-jalan melihat, kau ingin turun atau menunggu di sini saja?” tanyanya.


“Aku ikut denganmu” ucap Max mematikan mobilnya dan bersiap turun bersama Zevana.


Mereka benar-benar hanya berjalan saja bahkan Zevana maupun Maxime tidak ada yang memulai pembicaraan, Max memperhatikan dan menjaga Zee dari belakang membiarkan wanita itu berjalan di hadapannya.


Setelah berjalan singkat mereka memutuskan untuk kembali dan saat dalam perjalanan menuju parkiran, Zee tak sengaja melihat stan wafel di ujung sana.


Ia berbalik badan menatap Max dan menghentikan langkah pria itu “Kenapa?” tanya Max.


“Apa kau punya uang cash?” tanyanya ragu, ia ingin membeli wafel topping ice cream itu tapi tidak membawa dompetnya.


Max merogoh kantongnya dan membuka dompetnya namun tidak ada uang cash di sana, ia sebenarnya sedikit malu tapi ia benar-benar tidak suka memegang uang cash karena ribet.


“Kau ingin beli apa?” tanyanya menatap Zevana lalu melirik ke sekelilingnya “Apa tidak bisa pakai card saja?” tanyanya lagi.


Zevana menunjuk ke arah stan wafel itu di ikuti dengan Max yang juga melihat ke arah stan tersebut “Sepertinya mereka tidak menggunakan kartu” ucapnya.


“Aku akan menukarnya dulu, kau tunggu di sini saja sebentar” ucap Max.


Zevana dengan cepat menghentikan pria itu “Tidak, tidak perlu. Aku bisa membelinya lain kali saja” ucapnya sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


Sebenarnya ia sangat menginginkan wafel itu tapi ia tak ingin merepotkan Max yang harus menukar uang terlebih dahulu dan ia juga tak ingin di tinggal sendiri di sini.


“Kau yakin? Di dekat sini ada mesin ATM, tidak akan lama” tanya Max memastikan.


Zevana menganggukkan kepalanya “Hem tidak apa, lain kali saja” ucapnya lalu berjalan lebih dulu menuju parkiran.


Max menghela nafasnya kasar lalu mengikuti langkah kaki wanitanya itu dan sampainya di mobil ia membiarkan Zevana masuk sendiri “Tunggu di sini, sebentar saja. Jangan bukakan pintu pada orang asing” ucapnya lalu berjalan setengah berlari meninggalkan Zevana di dalam mobilnya.


Kurang lebih lima belas menit ia kembali dengan sebuah wafel dengan topping ice cream vanila stroberi di tangannya “Ini, apa rasanya benar?” tanyanya sembari memberikan wafel itu pada Zevana yang hampir memakinya karena menunggu lama.


Zee mengernyitkan keningnya namun tetap menerima wafel itu dan menatap Max penuh tanda tanya “Ah, terima kasih” ucapnya.


Setelah meninggalkan Zevana di mobilnya tadi ia berjalan kembali menuju stan wafel itu dan menanyakan apa bisa membayar dengan card namun memang benar mereka tidak punya mesin card. Karena melihat Max yang bertanya tentang mesin ATM terdekat penjual tersebut pun menyarankan untuk membayar lewat ponsel saja dan begitulah bagaimana Max bisa mendapatkan wafel itu.


Mereka kini sedang dalam perjalanan pulang, Max sesekali melirik ke arah Zevana yang asik memakan wafelnya dan yang ditatap pun akhirnya menyadari itu.


“Ah, kau mau coba?” tawarnya setelah wafelnya itu tinggal seperempat.


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan tidak menawarkan Max untuk mencobanya lagi dan dalam sekejap wafel itu hanya tinggal bungkusnya saja.


...****************


...


“Zee bangun! Hey, bangun! Zee!”


Max terus mengguncang tubuh Zevana untuk membangunkan wanita itu, Zee terlihat gelisah dalam tidurnya bahkan ia mengeluarkan lenguhan-lenguhan kecil. Ia terlihat tak nyaman dalam tidurnya dan sepertinya wanita itu kembali memimpikan kejadian di vila kemarin.


“Zee bangun!” ucap Max yang terus mengguncang tubuh Zee, hingga wanita itu tersentak bangun dari tidurnya.


Dengan dada yang naik turun dan nafas terengah-engah Zee menatap lemah Max “K-kenapa, apa aku telat?” tanyanya lemah.

__ADS_1


Max menggelengkan kepalanya “Tidak, ini masih jam satu pagi. Apa kau baik-baik saja, apa kau memimpikan hal itu lagi?” tanya Max.


Zevana menghela nafasnya kasar lalu menganggukkan kepalanya pelan “Em, aku baik-baik saja” lirihnya.


“Tunggu sebentar” ucap Max lalu pergi keluar dari kamar Zee.


Saat kembali Max terlihat membawa segelas air putih namun ketika pintu kamar itu terbuka langkahnya menjadi terburu-buru karena melihat wanitanya itu duduk meringkuk dan menangis. Dengan cepat Max meletakkan air itu di nakas lalu memeluk erat Zevana, mencoba menenangkan wanitanya itu.


“Ada apa, hem?” tanya Max dengan lembut


Zevana balik memeluk erat Max “K-kenapa dia selalu menghantuiku? Setiap ingin memejamkan mata bayangan itu selalu datang, aku... aku...” ucapnya hampir menangis.


Max mengelus punggung Zevana dengan lembut “Iya, sekarang kau aman. Kau akan baik-baik saja” ucapnya.


Ia memberikan segelas air putih yang tadi dan meminumkannya pada Zevana setelahnya ia kembali memeluk wanita itu hingga menjadi sedikit tenang.


“Sekarang tidur ya? Aku akan menemanimu dan aku pastikan ingatan itu tak akan berani datang lagi” ucap Max seakan ia bisa mengontrol mimpi, Zevana mendongak ke atas menahan tawanya lalu mengangguk pelan.


Max membaringkan Zevana lalu ikut baring di sampingnya mereka bahkan berada di dalam selimut yang sama, Max menarik kembali Zevana ke pelukannya menenggelamkan wanita itu di dadanya.


“Jangan takut lagi, aku akan menjagamu” ucapnya lembut sembari mengelus lembut kepala Zevana.


“K-kenapa kau begitu baik hari ini? Apa aku terlihat menyedihkan?” tanya Zevana lirih.


Zee bisa merasakan jika pria yang sedang memeluknya itu menggelengkan kepalanya “Tidak, besok kita akan kembali bekerja. Jika kau tidak tidur sekarang maka kau akan membuatku terlambat besok” ucap Max kembali datar.


“Aku akan baik-baik saja meski tidak tidur, aku tidak akan membuatmu terlambat. Kau tidak perlu menemaniku seperti ini” ucap Zevana yang justru mengeratkan pelukannya.


Max tersenyum karena ucapan wanita itu sangat berbeda dengan perilakunya “Bisakah jangan membantah dan tidur saja? Aku juga butuh tidur” ucapnya kembali berbicara dengan nada dingin dan datarnya.


Itu terdengar memuakkan tapi ia sama sekali tak ingin lepas dari pelukan Max meskipun menyebalkan tapi ia butuh Max, pelukan pria itu nyaman dan hangat memang tak bisa di ungkiri bahwa pelukan Max membuatnya jadi tenang. Setelah beberapa saat berbaring dalam keheningan Zevana pun tertidur dan tak lama setelahnya Maxime juga ikut terlelap.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2