
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu, hari di mana Zevana akan resmi menjadi bagian dari keluarga besar Abiezer begitu juga dengan Maxime yang akan resmi menjadi bagian dari keluarga besar Afsheen dan menjadi menantu pertama dan menantu pria satu-satunya bagi keluarga itu.
Beberapa hari terakhir ini mereka super sibuk mengurus pernikahan dan pergi ke segala tempat dan juga pekerjaan kantor yang entah kenapa tiba-tiba betimbun dan itu semua Maxime kerjakan dalam sehari bahkan mereka lembur dua hari yang lalu untuk menyelesaikan semuanya secepatnya karena satu hari sebelum menikah mereka berdua tidak masuk kerja.
Saat ini Zevana tengah duduk menatap pantulan dirinya di kaca besar di depannya itu sembari menunggu MUA nya itu selesai memoles wajahnya, sebenarnya sudah sejak tadi wajahnya selesai di rias bahkan ia sudah merasa sangat cantik tapi entah kenapa tangan wanita itu tidak pernah berhenti dan selalu bolak-balik di wajahnya.
Setelah sekian lama akhirnya riasannya selesai Zevana bangkit dari duduknya menatap dirinya yang terlihat sempurna di balik gaun indahnya itu, ia tak bisa menyembunyikan senyumannya saat melihat pantulan dirinya tak bisa dipungkiri bahwa ia sangat cantik hari ini.
Ibunya yang tadinya duduk agak jauh darinya pun berjalan mendekat ke arahnya “Bagaimana sayang, kau siap?” tanya ibunya dengan wajah yang di penuhi dengan senyuman.
Zevana mengangguk pelan menunjukkan senyuman manisnya, ia melirik ke sekelilingnya juga di sana ada calon kakak iparnya dengan balutan gaun indah senada dengan ibunya dan jangan lupakan sahabat sejatinya Justin yang juga menjadi pengiringnya yang kini tengah berdiri di samping Zack dan sesekali memperbaiki penampilannya.
Mungkin ini terdengar aneh karena Justin ikut menjadi pengiringnya tapi ia tidak memiliki siapa pun lagi untuk ia jadikan pengiring dan di sisi lain ini mungkin terdengar gila karena cinta pertamamu menjadi pengiring pengantinmu, lebih tepatnya Justin dan Zack akan berdiri menemani Max di altar nantinya.
Jika mengingat masa lalu mungkin tidak ada habisnya terutama dengan kisah cinta pertama, mungkin ini terdengar biasa tapi ia jatuh cinta pada Justin sejak pertama kali ia melihat kakaknya membawa Justin main ke rumahnya. Dan perlahan mereka mulai saling menyapa hingga akhirnya bercanda dan sejak saat itu ia percaya kalau yang ia rasakan itu adalah cinta.
Tragisnya saat ia masih duduk di sekolah menengah ia mengungkapkan perasaannya pada pria yang bahkan saat itu sudah hampir menyelesaikan pendidikan sekolahnya dan tentu saja dengan segala macam alasan ia tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya. Pada awalnya setelah ditolak suasana di antara mereka sedikit canggung tapi lama kelamaan mereka semakin dekat dan akrab bahkan ungkapan perasaan yang di lakukan Zevana itu menjadi bahan gurauan untuk mereka dan mulai saat itulah mereka menjadi dekat seperti saat ini.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian pintu ruangan yang mereka tempati dibuka oleh seseorang dan betapa kagetnya Zevana saat melihat ayahnya yang dengan sangat tampan itu datang menjemputnya sepertinya acaranya akan segera di mulai dan saat ayahnya itu berjalan menghampirinya yang lainnya termasuk ibunya yang juga ada di ruangan tersebut keluar dari sana menyisakan ia dengan ayahnya saja.
Ayahnya berdiri di sampingnya ikut memperhatikan pantulan dirinya di cermin tersebut “Sudah siap? Jangan terlalu gugup sayang, semua akan berjalan dengan lancar” ucap ayahnya itu.
Zevana menganggukkan kepalanya “Iya pa, semoga saja” ucapnya.
“Kau terlihat sangat cantik sayang, meskipun hari biasanya pun sudah cantik tapi hari ini istimewa” ujar ayahnya sedikit parau.
Zevana memperhatikan ayahnya dan saat ia menatap ayahnya itu ia dapat melihat mata berkaca-kaca yang hampir menurunkan air dari sana, ia yang melihat itu pun tak dapat menahan harunya lalu menangis begitu pula dengan ayahnya saat mengedipkan matanya air yang memupuk dimatanya itu pun jatuh.
“Sayang meskipun masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentang personalmu tapi percayalah aku sangat menyayangimu dan selalu bangga padamu, aku bangga karena kau adalah putriku” ujar ayahnya membuat Zevana semakin menangis.
“I’m so proud of you, berjanjilah untuk mengeluh padaku apa pun masalahmu apalagi jika itu berhubungan dengan calon suamimu” ucapnya lagi dan Zevana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Ayahnya menggandeng tangannya serta memimpinnya untuk keluar dari sana dan kembali berhenti di pintu lain yang masih tertutup dan di dalam sana ada semua orang yang sedang menunggunya, orang-orang yang akan menjadi saksi pernikahannya bersama Maxime.
Tak lama setelah berdiri di depan pintu yang tertutup rapat itu pun akhirnya terbuka dan diiringi lagu yang memenuhi ruangan tersebut Zevana berjalan dengan di temani ayahnya untuk melangkah ke arah Max yang berada di altar. Di sekitar altar semua orang berdiri, ia sesekali melirik ke arah samping kiri dan kanan dengan senyuman yang dipaksakan namun saat hampir sampai di altar ia menampilkan senyuman manis dan tulus karena ia melihat ibu dan calon kakak iparnya serta keluarga besar Abiezer di sana.
Kini pandangannya terkunci ke arah depan yaitu Max yang kini tengah menatapnya dengan kagum, ya itu mungkin palsu karena kini ada banyak orang yang hadir. Di sebelah Max ada Zack yang menatapnya bangga dengan mata yang berkaca-kaca begitu pula dengan Justin yang menatap bangga ke arahnya.
__ADS_1
Ayahnya meraih tangannya yang sejak tadi menggenggam erat lengan ayahnya itu dan meletakkannya ditangan Max namun tangan ayahnya masih ada di antara mereka.
“Saat aku melepaskan tangan putriku ditanganmu maka tanggung jawabku akan aku pindahkan padamu karena itu kau harus tanggung jawab atas kebahagiaannya, melindunginya dan yang pasti memberinya banyak cinta” ucap ayahnya sebelum akhirnya ia menjauhkan tangannya.
Maxime menganggukkan kepalanya mengerti dan tersenyum meski ia tidak berbicara tapi di wajahnya seakan semua sudah tertulis di sana.
“Jangan kecewakan kepercayaanku, nak” ucap ayahnya lagi menepuk pundak Max dua kali kemudian turun dari altar dan kembali ke samping ibunya di bawah sana.
“Tentu tuan, saya tidak akan mengecewakan Anda” ucap Max formal dan terdengar sangat meyakinkan meskipun begitu Zevana tahu pasti bahwa ini hanya skenario yang ditulis oleh Max.
Max menempatkan tangannya di lengan Max dan saat upacara di mulai Max selalu berusaha membuatnya agar tidak tegang dan setelah selesai pembacaan janji suci Maxime pun mencium singkat kening dan pipinya lalu mencium bibirnya cukup lama.
Setelah itu mereka menghadap ke arah para keluarga dan tamu kemudian seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua gelas champagne untuk Maxime dan Zevana, Max mengangkat gelasnya diikuti dengan para tamu dan keluarga besar untuk bersulang bersama.
“Terima kasih untuk semuanya yang sudah hadir menjadi saksi kisah cinta kami berdua terutama keluarga besar saya dan Afsheen karena sudah merestui dan mendukung hubungan kami hingga bisa berada dititik saat ini. Karena itu mari kita bersulang bersama, terima kasih atas kehadirannya” ucap Max dan membuat para tamu bersorak atas kebahagiaannya.
Max dan Zevana melakukan gerakan love shot saat meneguk habis champagne itu dan semua orang menikmati acara dengan gembira dan sesuai harapan semuanya berjalan dengan lancar, Zevana dan Maxime berada di kursi yang ada di altar dan membiarkan para tamu menikmati hidangan yang sudah di sediakan tentu saja ada sesi foto-fotonya juga.
__ADS_1