Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Episode 87


__ADS_3

Zevana kini tidak lagi bekerja di depan ruangan Maxime dan tempat itu kini sudah ditempati oleh Jennie sekretaris Maxime yang dulunya berada di ruangan lain, Jennie dari awal tidak menempati meja di depan ruangan Maxime karena dari awal itu adalah tempat Emma sekretaris pribadi Max lalu berganti ke Zevana.


Karena sudah ada Emma yang mengurus semua keperluan dan membantu pekerjaan Maxime jadi Jennie tidak terlalu berguna untuk kepentingan Maxime dan Jennie difokuskan untuk lebih banyak mengurus tentang karyawan perusahaan serta menyampaikan keluh kesan karyawan perusahaan.


Ia kini bekerja di ruangan yang sama dengan Maxime bahkan bos sekaligus suaminya itu membelikan meja dan kursi baru khusus untuknya dan kini mereka berdua terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Maxime sejak tadi terus curi-curi pandang ke arah istrinya itu namun yang diperhatikan justru terlihat sibuk dengan dunianya sendiri, tidak hanya tersenyum sendiri bahkan sesekali terdengar suara tawa malu dari arah Zevana.


Mendengar tawa yang seperti itu entah kenapa membuat Maxime kesal, ia menghentikan kegiatannya dan bangkit dari kursinya menuju ke meja kerja Zevana.


“What are you doing, Zee?” tanya Max


Zevana tak menghiraukan pertanyaan Max bahkan ia tidak menyadari jika prianya itu sedang berjalan ke arahnya bukan sengaja tapi karena sekarang kupingnya sedang terpasang earphone dan seluruh perhatiannya tertuju pada ponselnya. Maxime kini berada di sampingnya namun karena ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri ia sampai tidak menyadari hal itu dan Maxime pun mengetuk meja Zevana dan sukses membuat wanitanya itu mengalihkan perhatiannya.


“Apa yang sedang kau lakukan saat ini?” tanya Max sedikit kesal.


“Oh? Aku sedang menonton, film ini sangat bagus” ucap Zee santai.


Max menghela nafasnya kasar “Ini waktunya bekerja bukan menonton” ucapnya.


Zevana menatap Max dengan kening yang mengerut “Ah, apa terjadi sesuatu?” tanyanya lagi.


“Kau mengabaikanku, sayang” ucap Max menekankan setiap katanya.


“Oh sorry, aku tidak mendengarnya karena menggunakan earphone” ucap Zevana menyengir namun segera mengganti raut wajahnya menjadi memelas saat Max terlihat serius.


“Apa kau butuh sesuatu, sayang?” tanya Zevana tersenyum cerah di akhir kalimat.


Max kembali menghela nafasnya kasar “Ayo keluar sudah waktunya makan siang” ajaknya dan Zevana dengan segera merapikan barang di mejanya lalu beranjak dari kursinya dan berjalan di belakang Max dan memasuki lift.


Begitu keluar dari lift pun Zevana masih berjalan di belakang Max bahkan saat karyawan lainnya menunduk hormat ke arah Max dan dirinya Zevana justru membalas setiap sapaan karyawan itu dengan hormat juga. Maxime sudah melarangnya dan mengatakan bahwa ia tidak perlu membalas setiap sapaan karyawan itu dengan hormat karena dengan senyuman saja sudah cukup namun Zevana tetap melakukannya karena tak nyaman dan tak terbiasa.


Maxime menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dan berbalik badan membuat Zevana terbentuk dadanya “Aw, apa yang kau lakukan?” tanya Zee sembari melihat ke belakangnya, ia pikir ada seseorang di belakangnya sampai Max menghentikan langkahnya.


“Kan sudah kukatakan berjalanlah di sampingku jangan di belakangku” protesnya.


Zevana memutar bola matanya malas “Salah kau jalan cepat sekali” ketusnya.


Maxime menarik tangan Zevana lalu melingkarkan tangan Zevana di lengannya “Kau membuatku menjadi pria yang buruk, jangan berjalan di belakangku lagi” ucapnya.


Zevana mendengus kesal padahal ini bukan salahnya, salah Max sendiri yang memiliki langkah kaki yang sangat besar dan cepat sekali, berbeda dengannya yang kesal karena perlakuan Maxime karyawan-karyawan yang ada di sekitar mereka justru tersenyum karena di mata orang lain mereka terlihat serasi dan mesra.


Mereka memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat, Zevana yang sejak tadi ditanya ingin memakan apa terus menjawab dengan ‘terserah, ia akan makan apa pun itu’ tapi begitu sampai di restoran tempat biasa mereka makan Zevana justru tak ingin turun dari mobil.


“Aku tidak ingin turun, di sini sangat sepi Max” ucapnya.


“Lalu kau ingin makan di mana?” tanya Max


“Terserah saja”


Max menghela nafasnya “Ya sudah, kalau begitu di sini saja” ucapnya.


“Tidak, aku tidak ingin disini. Di sini sangat sepi” ucapnya lagi.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat lagi Maxime kembali menjalankan mobilnya menuju restoran seafood yang tak berapa jauh dari tempat mereka berada sekarang ini namun sekali lagi Zevana tidak ingin turun dari mobilnya.


“Ayo turun sayang, waktu makan siang kita tidak banyak karena habis ini kita harus menemui klien” ucap Max.


“Aku tidak suka seafood, Max” celetuknya asal.


Max membulatkan bola matanya “Sejak kapan kau tidak menyukai seafood?” tanyanya yang mulai sedikit jengkel.


“Sejak hari ini”


Max menghela nafasnya kasar “Jangan mengada-ada, cepat turun” ucapnya lalu turun lebih dulu.


Zevana yang teguh pendiriannya dengan alasan alergi seafoodnya itu tetap tidak turun dari mobil membiarkan Max menunggunya lama di luar sana, Max mengetuk kaca mobil lalu membuka pintunya.


“Ayo sayang, kita tidak punya banyak waktu” pujuk Max.


“Ugh.. aku benar-benar alergi seafood, Max”


Maxime kembali menghela nafasnya kasar, hari ini entah sudah yang ke berapa kalinya ia menghela nafasnya karena Zevana. Ia kembali masuk ke dalam mobilnya sebelum itu ia memutuskan untuk mendiskusikan apa yang harus mereka makan.


“Lalu apa yang ingin kau makan?” Tanya Max


“Aku ingin pasta” ucapnya


“Kau serius ingin pasta, tidak ada alergi pasta?” tanya Max dengan wajah seriusnya dan hampir membuat Zevana tertawa.


Max kembali menjalankan mobilnya tapi setelah setengah perjalanan Zevana tak sengaja melihat McD dan tiba-tiba menginginkannya tapi ia tidak mengatakannya dan hanya berdiam entah sengaja atau tidak ia baru mengatakannya saat mereka sampai.


“Ayo” kata Max bersemangat membuka sabuk pengamannya.


Zevana menghela nafasnya dan turun dari mobil tapi sebelum mereka benar-benar memasuk ke dalam restoran itu Zevana mulai memperlambat langkahnya “Ah tadi aku melihat McD sepertinya kentang goreng sangat enak” ucapnya sengaja terdengar sedih.


“Kita bisa memesan kentang goreng disini” ucap Max yang tak ingin terpengaruh karena mereka benar-benar tidak punya banyak waktu lagi.


Max benar-benar tak menghiraukan Zevana kali ini bahkan dia berjalan lebih dulu masuk ke dalam restoran tersebut dan Zevana berada di belakangnya mengikuti langkahnya dengan wajah yang masam.


“Kau sangat jahat, aku membencimu” ucap Zevana merengut.


“Kau ingin kentang goreng bukan? Di sini juga ada, aku akan memesankannya untukmu” ucap Max yang terlihat seperti tak ingin terpengaruh dengan perkataan Zevana.


Maxime segera memanggil pelayan dan memesan dua piring pasta dan kentang goreng untuk mereka dan Zevana yang sedari tadi memasang wajah kesalnya dibuat tambah kesal karena prianya itu tak mendengarkannya.


Dan tak lama kemudian makanan mereka pun tiba dan Max kini baru saja memulai menyantap pastanya tapi tidak dengan Zevana jangankan memakan pastanya ia bahkan tak menyentuh kentang goreng yang ia inginkan itu.


“Kenapa tidak memakannya? Di makan sayang, kita benar-benar tidak punya banyak waktu lagi” ucap Max.


“Aku ingin pulang saja, aku tidak ingin bekerja” ucap Zee tiba-tiba.


Max yang baru saja ingin melanjutkan makannya terhenti karena ucapan Zevana barusan, ia benar-benar lapar karena tadi pagi ia tidak makan begitu banyak karena akan enek jika memakan terlalu banyak sosis darah terlebih di pagi hari.


“Kali ini kenapa lagi, sayang” keluh Max.

__ADS_1


Zevana tak menghiraukannya “Cepat selesaikan makanmu setelah itu antar aku pulang” ucapnya.


“Sayang, kita bertemu Ny. Caroline dulu ya setelah itu kita akan langsung pulang” ucap Max membujuk Zevana “Tidak enak membuatnya menunggu”


“Kemarikan dompetmu, aku akan pulang dengan taksi” ucap Zevana


Max menghela nafasnya, ia sangat bingung harus mengisi perutnya yang kosong ini atau meladeni istrinya yang ngambek tidak jelas ini.


“Tidak boleh, makan dulu. Apa kau tidak kasihan dengan baby kita” ucap Max.


“Bukan salahku, itu salahmu” ucap Zevana kesal ketika Max membawa-bawa bayinya.


“Aku kan sudah menyuruhmu makan bahkan aku sudah memesankan makanan untukmu, apa kau ingin kusuapi?” tanya Max.


“Aku kan ingin kentang goreng bukan ini” ucap Zevana


Max kembali menghela nafasnya “Ayolah sayang, kan ini kentang goreng” ucap Max bahkan sekarang ia tidak bisa melanjutkan makannya.


“Aku ingin kentang goreng di McD bukan di restoran pasta” ucap Zevana.


“Sama saja sayang, itu sama-sama kentang goreng” ucap Max yang perlahan mulai kesal.


“Itu berbeda, Max” ucap Zevana balik kesal.


Maxime mengalah dan bangkit dari kursinya “Ayo pergi membeli kentangmu itu tapi berjanjilah untuk memakannya” ucapnya dan Zevana menganggukkan kepalanya dengan semangat.


Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di McD dan kini mereka sudah berada di bagian drive thru untuk memesan makanan mereka.


“Selamat siang tuan, ada yang bisa saya bantu” ucap pelayan itu.


“Ah siang, saya ingin kentangnya dua, burgernya juga dua-” ucapnya terpotong.


“Jangan dua, satu saja aku tidak ingin burger” ucap Zevana


“Sorry, kentangnya dua, burger satu, kola dua, ice cream satu” ucap Max.


Maxime menyelesaikan transaksinya sebelum akhirnya kembali menjalankan mobilnya menuju tempat pengambilan makanan mereka. Maxime kembali mengendarai mobilnya menuju tempat sepi untuknya memarkirkan mobil karena mereka akan menyantap makanan mereka di mobil saja, rasanya jika mereka kembali ke kantor lebih dulu maka ia akan membuat perutnya kelaparan hingga makan malam tiba.


Max tersenyum melihat Zevana benar-benar memakan kentangnya dengan lahap “Apa kau kenyang dengan kentang itu?” tanya Max


“Keduanya untukku bukan?” tanya Zevana dan Maxime pun menganggukkan kepalanya “Kalau begitu tak masalah” ucapnya.


Max tersenyum dan mengacak pelan rambut Zevana “Makanlah yang banyak” ucapnya.


Max pun mulai menyantap hamburgernya setidaknya ia punya hamburger untuk mengganjal perutnya dan baru saja ia ingin memakan hamburgernya untuk gigitan keduanya, matanya tak sengaja melihat Zevana yang menatapnya.


“Hem?” tanya Max


“Hem??” tanya Zevana balik lalu ia kembali memperhatikan tangan Max yang memegang hamburger “Um.. itu enak? Apa aku boleh mencobanya?” tanya Zevana ragu.


Maxime menyodorkan hamburgernya tanpa pikir panjang tapi karena kesalahannya itu ia tidak bisa mendapatkan hamburgernya kembali dan berakhir hanya memakan es krim dan meminum kolanya sampai habis.

__ADS_1


#RIPperutmalangMaxime


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2