
“Karena aku yang menyarankan permainan ini maka aku harus jadi yang pertama” ucap Sylva bersemangat, sudah sejak tadi ia menantikan permainan ini.
Zevana dengan cepat menyela “Tidak bisa begitu, seharusnya aku yang maju pertama karena ini game pertamaku dengan kalian semua” ucap Zevana.
Zack menganggukkan kepalanya setuju “Itu benar, karena itu aku juga masuk dalam hitungan” ucapnya.
“Tidak, kau tak boleh pertama” cegah Zevana
Kedua kakak beradik itu berebutan ingin memulai permainan ini sebagai yang pertama sehingga membuat yang lainnya tertawa gemas melihat tingkah keduanya, kecuali Maxime yang setia dengan wajah datarnya yang terkesan tak peduli dengan sekeliling itu.
“Cukup! Ayo mulai dari Sylva” ucap Maxime yang membuat Zevana memajukan bibirnya tak suka dan seketika suasana jadi sedikit canggung.
Miller tertawa di tengah kecanggungan itu “Haha, ayo kita mulai” ajaknya sembari bertepuk tangan mengalihkan perhatian yang lainnya “Oke honey, truth or dare?”
“Of Course, Dare!” ucap Sylva yang sudah tak sabar untuk memulai permainan.
“Wow, dare (tantangan) di putaran pertama itu sangat langka” puji Zack dan disetujui oleh adiknya Zevana, karena biasanya mereka selalu memulai permainan ini dengan truth (kejujuran).
Miller tersenyum bangga “Istriku wanita yang sangat pemberani” ucapnya menepuk pundak istrinya pelan “Karena itu honey, cium aku sekarang juga di depan mereka semua” pintanya.
Sylva membelalakkan matanya, ia tak pernah melakukan ini sebelumnya terlebih di depan ipar-iparnya “Hah, sepertinya diotakmu hanya ada pikiran kotor. Ini baru putaran pertama tapi kau sudah memulainya” protes Sylva yang sebenarnya malu untuk melakukan tantangan itu.
“Santai saja sayang, lakukan saja” perintahnya.
Tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi Sylva pun akhirnya setuju dan mencium pipi suaminya namun bukan Miller dan otak mesumnya jika sudah puas hanya dengan kecupan saja.
“Ciuman honey bukan kecupan” protesnya, Sylva menghela nafasnya kasar lalu mencium bibir suaminya itu meskipun ia sangat malu karena dilihat ipar-iparnya yang bersorak karena mereka berdua.
“Sekarang giliranmu bungsu kami” ucap Sylva menatap gemas Maxime.
Zevana tertawa saat mendengar wanita itu memanggil pria garang seperti Maxime dengan sapaan ‘bungsu kami’ itu sangat tidak cocok dengan imagenya.
“Bungsu kami” ucap Zevana pelan menirukan cara Sylva memanggil Maxime “Itu sangat imut” ledeknya
Ia kira Maxime akan menerima gurauannya itu karena kini saudara-saudaranya sedang berada bersama mereka namun itu tak berpengaruh untuknya karena kini Maxime tengah menatap tajam dirinya yang mengisyaratkan agar tak main-main dengannya, sehingga kini Zevana merasa malu dan canggung di waktu yang bersamaan.
“Truth or Dare?” tanya Sylva lagi
Maxime mengangkat tangannya dan menatap remeh kakak iparnya itu “Tentu saja dare! Truth hanya untuk pecundang” ucapnya santai.
__ADS_1
Sylva tertawa saat ia mendengar pilihan Maxime karena tantangan yang sudah ia siapkan membuatnya tambah bersemangat “Cium Mathew sekarang juga!” ucapnya.
“Aku pria normal dan tidak tertarik dengan pria” tolak Maxime dengan wajah datarnya.
Yang lainnya menyorakinya “Kau sama saja seperti pecundang” ucap Miller yang tak kalah bersemangat dari istrinya untuk tantangan ini.
“Aku bukan pecundang! Tapi aku seorang Maxime Abiezer tak akan pernah mencium seorang pria!”
“Come on, dude! Dia adalah kakakmu” ucap Sylva mencoba membujuk Maxime namun nihil “Jika tidak aku akan menggantinya, selama kita di sini kau harus melayani dan menuruti semua perkataanku. Oke?”
Maxime berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Mathew untuk melakukan tantangan yang pertama “Aku tidak terlahir untuk jadi seorang budak” ucapnya angkuh.
Bukannya kesal dengan ucapan Maxime barusan mereka semua tampak bahagia karena ia sukses masuk perangkap dan kini semuanya terfokus pada Maxime yang tengah meraih pipi Mathew dan menciumnya.
Berbeda dengan yang lainnya Miller justru tampak kecewa “Hah, seharusnya kau menciumnya di bibir seperti yang di lakukan istriku tadi”
“Tutup mulutmu!”
“Sekarang giliranmu Max” ucap Sylva
“Lakukan saja”
Ia melirik beberapa orang yang di ada di sana tapi tidak dengan istrinya namun tatapan itu terhenti dan penuh curiga ketika matanya bertemu dengan Zevana. Zee berusaha untuk menghindari tatapan itu karena ia tak ingin mendapat giliran dan kini ia menjadi sangat deg-degan.
“Oke! Our new family, truth or dare?”
“Aku rasa aku tau apa yang ada di pikiranmu hanya dengan melihat matamu karena itu aku akan memilih truth (kejujuran)”
Tak peduli meskipun ia akan terlihat seperti pecundang karena memilih kejujuran, itu adalah pilihan yang terbaik karena firasatnya sangat tidak bagus untuk memilih dare setelah beradu tatap dengan Mathew tadi.
“Oh come on! Kau akan jadi pecundang di sini. Lebih baik kau pilih dare” ucap Mathew mencoba untuk memujuk Zevana mengubah pilihannya.
“Tidak! Tidak akan, aku akan tetap memilih truth. Tatapanmu sangat mencurigakan” tolak Zevana
Mathew menghela nafasnya karena rencananya liciknya gagal namun truth tidak melunturkan akal busuknya “Baiklah jika kau tak ingin mengubah pilihanmu” ucapnya menyeringai.
Sylva, Miller dan Anna bersorak saat melihat Mathew menunjukkan seringainya “Ooo... Kau akan berada dalam masalah, cantik” ucap Anna pada Zevana.
“Calon Nyonya Maxime Abiezer yang terhormat izinkan saya bertanya, berapa banyak pria yang sudah tidur dengan Anda sebelum Max? Siapa saja mereka?” tanyanya kemudian terdengar suara sorakan bahagia dari yang lainnya kecuali Zevana, Maxime dan Zack.
__ADS_1
“Aaaa, tolong ganti pertanyaannya” protes Zevana
Zack mengangguk setuju “Itu privasinya, lagi pula sangat tidak lucu untukku mendengar cerita kehidupan **** saudara perempuanku” ucapnya.
Karena desakan dan paksaan dari yang lainnya Zevana pun memilih untuk mengalah dan mengatakannya meskipun itu sedikit memalukan.
“Aku pernah melakukannya dengan beberapa pria di masa lalu tapi aku tak bisa mengatakan siapa mereka” ucapnya jujur.
Meskipun sudah menutup telinganya namun tak bisa dipungkiri bahwa ia mendengar ucapan adiknya itu sehingga membuatnya merinding. Sedangkan Zevana setelah mengatakan hal itu karena rasa penasarannya ia pun melirik ke arah Maxime namun ia di buat sedikit kecewa karena pria itu sama sekali terlihat tak masalah dengan ucapannya dan tetap tenang dan setia dengan wajah datarnya itu.
Tak ingin berlarut dengan kekecewaannya Zevana pun memutuskan untuk bertanya pada saudara laki-lakinya itu “Oke Zack, truth or dare?”
“Aku tak akan memilih dare karena ini bukan pertama kalinya kita memainkan permainan ini, jadi aku pilih truth” ucapnya.
Ia sangat paham dan tahu akal busuk adik perempuannya itu karena ini bukan pertama kalinya mereka memainkan permainan ini bersama. Tak masalah meskipun dianggap pecundang karena ia sangat tahu jika memilih dare maka ia akan di buat malu dan itu akan jadi aibnya.
“Saat kau memasuki usia remaja, apa yang kau lakukan pada anjingku?”
Zack terlonjak dari duduknya karena pertanyaan itu, meski ia tak memilih dare tapi pertanyaan itu sudah sama seperti tantangan untuknya karena jika salah menjawab maka ia akan mempermalukan dirinya.
“Aku tak melakukan apapun pada anjingmu” bantah Zack
Zevana tak membiarkan saudara laki-lakinya itu lolos begitu saja “Ayolah, Zack... Kenapa kau menjadi pembohong seperti ini”
“Kau salah paham, aku tak melakukannya”
“Apa kau pikir anjingku bisa memotong *********** sendiri?” ucap Zevana yang sengaja mengungkapkan semuanya.
Yang lainnya syok berat mendengar itu dan kemudian disertai dengan tawa “Apa kau punya kebiasaan sex yang aneh sejak kecil, brother?” tanya Miller yang tak dapat menahan tawanya.
Zack malu setengah mati lalu menatap horor adiknya meskipun begitu ia tak pernah bisa marah pada saudara perempuannya itu “Itu tidak benar, aku hanya penasaran dengan apa itu lalu aku memotongnya”
“Kau seorang psikopat?” sambung Zaneth
Zack menghela nafasnya kasar “Oh ayolah guys, aku benar-benar tak mengetahuinya saat itu. Aku hanya seorang remaja berumur tiga belas tahun dengan segala keingintahuannya” jelasnya.
Maxime mengangguk setuju dengan penjelasan Zack barusan karena menurutnya anak remaja selalu penuh dengan rasa ingin tahu jadi ia sama sekali tak mempermasalahkan hal itu, tidak seperti yang lainnya yang tak menganggap itu hal yang normal meskipun di usia remaja.
“Kalian berdua sangat cocok berperan sebagai orang sinting” celetuk Sylva yang melihat Maxime menyetujui ucapan Zack.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...