Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.7 Kopi Hitam & 2potong Gula


__ADS_3

Zevana tidak percaya dengan pendengarannya, ia mengerti apa maksud dari bisikan pria itu karena ia berada di umur yang mau tidak mau pasti mengerti tentang hal itu.


Overall perilaku pria itu sangat buruk, tidak ia tidak bisa membenarkan hal itu karena pria itu tidak terlalu buruk karena telah menyelamatkannya dari pria mesum bernama Blake itu. Tetapi tentu saja ia juga tidak bisa untuk tidak mengatakan bahwa pria itu buruk karena sampai detik ini yang ia lihat dan yakini bahwa pria itu buruk hanya saja memiliki sedikit sikap baik.


Pintu lift yang hampir tertutup menyadarkan Zevana dari lamunannya dengan cepat ia menekan tombol agar pintu itu kembali terbuka dan dengan cepat ia berjalan menuju meja sekretaris yang di sana sudah ada Emma yang menunggunya.


“Halo Ms. Julian, selamat pagi” sapa Zevana sopan, wanita di balik meja itu tersenyum ramah sembari membenarkan kacamatanya.


Itu keren, kharismanya sangat luar biasa “Pagi juga Ms. Afsheen, itu terdengar sedikit tidak biasa cukup panggil Emma saja” ucap wanita itu.


“Um kalau begitu panggil saya Zevana saja”


“Oke mari kita mulai bekerja. Ah sebelum itu, senang bisa bekerja sama Zevana” ucapnya sembari mengulurkan tangannya.


Zevana menyambut hangat uluran tangan itu “Saya juga senang bisa bekerja sama denganmu Emma, untuk ke depannya saya mohon bimbingannya” ucap Zevana ramah.


Emma menganggukkan kepalanya, Zevana mengambil posisi duduk di samping Emma yang di sana sudah di sediakan dua kursi yang satu milik Emma dan satu lainnya adalah milik dirinya.


“Baiklah, Tuan Maxime akan mengadakan pertemuan karena itu kita memiliki waktu tiga puluh menit untuk menyiapkan ruangan dan keperluan meeting. Dan untuk itu saya ingin kamu, ah apa kamu tau cara menggunakan mesin fotokopi?” tanya Emma


Zevana menganggukkan kepalanya “Ya, selama mesinnya sama dengan yang pernah kugunakan sebelumnya” ucapnya


Emma tertawa kecil “Saya rasa itu akan sama” ucapnya dan Zevana hanya menganggukkan kepalanya mengerti “Jadi untuk pertama-tama bisakah kamu memfotokopi ini sebanyak lima belas rangkap?” pinta Emma


“Baiklah akan saya coba, ah maaf tapi mesin fotokopinya ada di ruangan mana ya?”

__ADS_1


“Maaf-maaf aku lupa memberitahumu, kamu bisa berjalan ke ruangan paling ujung itu kamu bisa menemukannya di sana. Nanti kamu akan melihat pantry dan tolong siapkan snack yang sudah di sediakan di sana untuk delapan tempat”


“Jika sudah selesai kamu bisa memanggilku, aku akan menemanimu untuk menuju ruang meeting karena itu akan memakan banyak waktu” jelasnya lagi.


Zevana menganggukkan kepalanya mengerti dan bergegas berjalan menuju ruang fotokopi, meskipun pekerjaan pertamanya terdengar mudah tapi itu tidak sama sekali karena entah kenapa ia menjadi gugup.


Setelah menyelesaikan semua keperluan rapat Zevana kembali memanggil Emma dan bersama menuju ruang meeting dan untuk pekerjaan pertamanya ini ia mendapat pujian dari Emma.


...***


...


Emma mengajarinya banyak hal dalam kurun waktu sebelas hari ia sudah mulai menguasai banyak hal dan hampir menghafal semua yang biasa harus di kerjakannya bahkan Emma juga menyuruhnya untuk menghafal klien-klien besar dan klien tetap perusahaan.


Dan hari ini adalah hari pertamanya bekerja tanpa di bimbing Emma. Zevana menjadi gugup padahal ia sangat yakin dengan kinerjanya bahkan selama diajari oleh Emma ia selalu mendapat pujian hanya saja ia takut jika atasannya itu tidak menyukai cara kerjanya, bagaimana jika ia berteriak kepadanya karena pekerjaannya tak sesuai harapan? Hah ia benci pikirannya ini namun ia benar-benar gugup, bagaimana jika ia di pecat? Itu tidak mungkin bukan?


Kopi hitam dengan dua potong gula, dia tidak boleh main-main dengan minuman itu karena jika tidak bisa-bisa pria itu meneriakinya karena kopinya terlalu manis. Setelah selesai membuat kopi Zevana pun melangkahkan kakinya menuju ke mejanya untuk meletakkan kopinya lalu mengetuk pintu ruang kerja atasannya itu.


“Masuk”


Mendengar seruan itu Zevana pun membuka pintu perlahan dan berjalan pelan dengan secangkir kopi panas di tangannya. Ia mendekat ke arah Maxime dan meletakkan kopi itu di sisi kanan pria itu, matanya melirik ke sekeliling jujur saja ruangan ini sangat besar dan megah matanya terasa di manjakan hanya dengan melihat ruangan atasannya ini.


Saat sedang asyik memperhatikan sekeliling ruangan tanpa ia sadari Maxime memperhatikannya “Ekhem...”


Mendengar deheman itu Zevana langsung tersadar “Ah maafkan saya Tuan, Anda akan melakukan makan siang bersama Mr. Richard saya sudah mereservasinya dan itu jam dua belas siang”

__ADS_1


“Hem”


Hem? Apa maksudnya itu? Apa dia tidak bisa mengatakan seperti oke, baiklah atau terima kasih karena aku sudah mengingatkannya? Apa biasanya dia seperti ini? Tidak, jika itu Emma dia pasti berterima kasih.


“Hem? Anda tidak berterima kasih padaku?” ucap Zevana tak sadar jika ia baru saja menyuarakan isi hatinya.


Maxime menatap Zevana sembari menahan tawanya “Zevana, aku tidak mengucapkan kata itu karena tidak ada yang membuatku sampai harus berterima kasih” ucapnya menyeringai


Ucapan pria itu sukses membuat Zevana terperangah, tidak ada yang membuatnya sampai harus berterima kasih? Lalu apa yang ia lakukan saat ini, ia bahkan membuatkan pria itu kopi. Ia tahu jika ini tugasnya tapi bukankah setidaknya ia harus mendapat ucapan itu? Sekali lagi ia tidak terobsesi dengan ucapan terima kasih tapi bukankah itu bentuk sopan santun.


“Tapi itu bentuk sopan santun bahkan anak kecil saja akan berterima kasih saat seseorang melakukan sesuatu untuknya” ucap Zevana sekali lagi mengutarakan isi hatinya, ia butuh alasan jika tidak ia akan terus memikirkan dan merutuki pria itu.


“Aku bukan pria sopan, bukankah kau lebih tau itu bahkan di pertemuan pertama kau menebak semua tentangku dengan benar” ucap Maxime berdiri dari duduknya membuat Zevana tersentak mundur ke belakang.


Maxime melangkah mendekat ke arah Zevana yang kini punggungnya sudah menempel ke dinding, ia berhenti tepat di hadapan Zevana wajah mereka yang beberapa inci saja jika lebih dekat mungkin jika ada yang melihat mereka akan salah paham dengan mengatakan bahwa mereka sedang bercumbu.


Ini terlalu dekat Zevana beberapa kali mengedipkan matanya ia bahkan mengulum bibir bawahnya, ia tahu jika pria di hadapannya ini pria menyebalkan yang merangkap menjadi bosnya tapi bosnya ini sangat hot.


Maxime memajukan wajahnya lebih dekat bahkan nafasnya menerpa wajah sekretarisnya itu hingga membuat wanita itu memejamkan matanya dan sepuluh detik berselang ia menjauhkan wajahnya lalu kembali melangkah menuju kursinya dan menyesap kopinya.


Zevana? Jangan di tanya lagi wajahnya memerah malu tanpa ia sadari karena terlalu dekat ia jadi memejamkan matanya dan lebih memalukannya lagi pria itu meninggalkannya dan terdengar tawa kecil dengan bibirnya menyeringai.


“Bukankah kau sudah terlalu lama meninggalkan mejamu Ms. Afsheen” ucapnya santai


Mendengar ucapan itu tanpa pamit dan mengatakan apa-apa lagi Zevana langsung menyelonong keluar dari ruangan itu, Maxime yang melihat tingkah sekretarisnya itu hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Di luar sana Zevana terlihat merutuki dirinya “Bodoh, kenapa kau menutup matamu? Apa yang kau pikirkan Zee, pria arogan itu akan salah paham padamu” ucapnya sembari mengentak-entakan kakinya.


...****************...


__ADS_2