
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Zevana perlahan bangkit dari dudukku dan bergerak menuju dapur untuk mencuci piring. Dan setelahnya karena masih tidak ada seorang pun yang keluar dari kamar mereka, ia pun memutuskan untuk kembali ke ruang keluarga dan melanjutkan menonton film ‘Parasite’ yang sebelumnya ia tonton.
Meskipun itu film garapan Korea dan menggunakan bahasa Korea namun itu tak membuatnya mengganti siaran karena film itu sangat menarik perhatiannya terlebih ada subtitle di sana yang memudahkan dirinya untuk memahami setiap perkataan pemain film tersebut.
Zevana tak menyadari sudah berapa lama ia menghabiskan waktu sendirian sembari menonton film tersebut hingga akhirnya suara langkah kaki beberapa orang yang menuruni tangga masuk ke indra pendengarnya dan sukses mengalihkan perhatiannya.
Ia mendongakkan kepalanya lalu menoleh ke belakang sembari tersenyum mengikuti langkah dua orang wanita yang kini tengah berjalan mendekatinya “Good morning, gurls” sapanya.
Mereka membalas sapaan Zevana dan juga ikut tersenyum karena melihat senyumannya yang menyilaukan itu.
“Astaga!” pekik Sylva membuat Zevana dan Anna kaget “Oh My God, Zee! Apa yang kau lakukan? Kami berusaha keras duduk di depan meja rias sangat lama hanya untuk menghilangkan bekas cupang” ucapnya menarik perhatian Anna dan membuat Zevana kebingungan.
“Tapi kau... Apa kau sengaja membiarkan mereka agar terlihat olah yang lainnya?” ucap Sylva berakhir menggoda Zevana.
__ADS_1
“Cupang? Aku? Apa yang kau bicarakan, aku tidak memilikinya” bantah Zevana yang masih kebingungan.
Anna pun akhirnya bersuara dan membenarkan hal itu “Itu benar sayang, ada beberapa di lehermu” ucapnya.
Di buat penasaran dengan hal itu Zevana mencoba untuk bercermin namun tidak ada cermin di sekitarnya, ia pun memutuskan untuk mematikan televisinya dan melihat di bayang-bayangan televisi namun hasilnya samar. Baru saja kakinya ingin melangkah menuju ke kaca-kaca lemari hias yang ada di ruang tersebut Sylva menghentikan langkahnya dan memberinya ponsel untuk bercermin.
Sial! Itu benar, ia memiliki beberapa bekas kemerahan di lehernya. Sylva meraih tangannya dan membawanya untuk kembali duduk di sofa tersebut dan Zevana yang tadinya dengan percaya diri mengangkat kepalanya kini hanya menatap ke bawah karena merasa malu jika sampai di lihat orang lain.
“Apa kau tidak melihatnya saat mandi tadi atau saat kau berhias mungkin?” tanya Sylva.
Zevana menghela nafasnya kasar ia sangat merutuki dirinya yang tak memperhatikan hal sedetail ini bahkan bekas kecupan itu tak hanya satu dan tak samar bagaimana bisa ia tak dapat melihat hal itu dengan baik.
Dan dari semua kecerobohannya itu ia lebih tak mengerti kenapa orang bodoh itu memberikan tanda di lehernya “Pergilah ke kamarmu, tutupi itu dengan concealer atau foundation dengan baik sebelum yang lainnya juga melihat tanda itu” ucap Sylva.
__ADS_1
Dan di detik yang sama ketiga wanita itu di buat kaget saat mendengar suara tawa dari arah belakang mereka, Zack tak dapat menahan tawanya mendengar apa yang terjadi pada adiknya itu begitu pula dengan yang lainnya. Sedangkan Maxime, pria itu hanya tersenyum lebar dan saat tatapan mereka bertemu ia pun melihat seringaian di wajah pria itu.
Zevana menghela nafasnya kasar, bangkit dari duduknya kemudian berlari menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya. Ia berjalan menuju meja rias dan mengambil tas kecilnya yang berisi alat make-upnya dan segera mengoleskan concealer di bagian merah tersebut.
Setelah itu Zevana bangkit menuju ke kamar mandi dan kembali memeriksa tubuhnya lebih banyak siapa tahu tanda kemerahan itu tak hanya ada di lehernya saja, dan benar saja ia bahkan membuat beberapa di payudara dan pahanya.
Zevana memutar kembali ingatannya sejak kapan pria itu sampai ke bawah sana, ini gila. Pria mesum itu sangat tidak tahu malu! Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu bahkan memberi tanda kepada wanita yang tidak ia cintai bahkan sukai. Bukankah hanya batas cium? Tapi apa ini ia sudah sangat melewati batas. Arghhh! Semakin dipikirkan semakin membuatnya menjadi kesal.
Ini semua terjadi karena Maxime selalu di manjakan orang tuanya dan selalu di turuti apa pun kemauannya sejak ia kecil, karena itu saat dia besar ia juga berpendirian harus mendapatkan semua yang ia inginkan. Namun hanya saja semua tentangnya sekarang hanya sex dan sex karena itu ia harus tetap melakukan sex bahkan dengan wanita yang tak ia cintai atau sukai sekalipun. Itu gila!
Ia juga anak orang kaya maksudnya ia bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan namun kedua orang tuanya mendidiknya menjadi seorang yang mandiri dan selalu mengatakan ‘tidak’ untuk hal-hal konyol dan tak penting yang pernah ia pinta. Dan lihatlah ia sekarang, ia tak pernah memaksakan untuk mendapatkan yang memang sejak awal bukan untuknya atau sesuatu yang tak terlalu penting untuknya.
Tanpa ia sadari karena kecerobohan dan karena ia yang tidak teliti mengecek tubuhnya, ia malah memaki Maxime dan menyalahkan kedua orang tua yang tidak bersalah itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...