
Setelah kepulangan orang tua mereka Zevana dan Maxime menyandarkan tubuh mereka di sofa tempat tadi mereka berkumpul dengan kondisi gelas dan piring camilan yang masih berserakan di atas meja tersebut.
“Apa aku boleh menanyakan sesuatu?” tanya Zevana mendongak menatap wajah Maxime.
“Tentu”
Zevana menghela nafasnya, seharusnya ia sudah terbiasa dengan sikap cuek dan dingin Maxime tapi sejak pria itu memperlakukannya dengan lembut dan baik ia hampir saja melupakan bagaimana sosok sebenarnya pria yang akan dinikahinya itu.
“Kenapa kau perlu menikahi seseorang? Jika dilihat sepertinya ibu dan ayahmu tidak terlalu mendesakmu untuk menikah” tanyanya sembari menatap Max dengan penuh rasa ingin tahu.
Max menatapnya penuh arti “Untuk kesepakatan bisnis” ucapnya santai lalu berjalan menuju sofa di ruang keluarga.
Zevana mengikuti langkahnya hingga tiba di sofa dan duduk di sampingnya sembari menatap lekat dirinya “Bohong! Kau berbohong kan?” ucapnya sembari tertawa pelan.
Tawanya terhenti saat Max dengan sungguh-sungguh menggelengkan kepalanya bahwa ia tidak berbohong “Sejak kapan kau merencanakan semua ini? Kau menghancurkan hidupku hanya untuk bisnismu? Kau gila!” ucapnya tak percaya.
Max menghela nafasnya kasar dan menatap bosan ke arah Zevana “Kita sudah sampai di sini, kau bahkan tidak bisa mengubah situasi ini. Jadi jangan mencari alasan untuk marah-marah tak jelas” ucapnya.
“Tapi—tidak, kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?” tanya Zevana.
__ADS_1
Kini Max menatap matanya sangat dalam “Jika aku mengatakannya apa kau mau menikah denganku? Tidak bukan? Karena kau tidak mungkin menerimanya” ucapnya penuh penekanan.
“Jika kau tau aku tidak akan menerimanya kenapa kau masih melakukan ini padaku? Apa kau tau, kau menghancurkan hidupku hanya untuk bisnis konyolmu itu!” ucapnya sedikit terpekik.
Max menghela nafasnya panjang “Ini bukan bisnis konyol, jika aku berhasil mendapatkan kesepakatan ini maka keuntunganku akan meroket. Ini pertama kalinya aku mencoba berbisnis dengan pasar yang berbeda dan jika ini berhasil, kau tau sendiri bagaimana untungnya sebuah perusahaan” jelasnya panjang lebar.
Penjelasannya tak membuat Zevana tenang atau amarahnya mereda sedikit pun “Tapi kau sudah sangat kaya maksudku perusahaanmu juga sudah sangat besar, kenapa kau harus melakukan semua ini?” ucapnya lirih
“Jika kau menjadi pemimpin kau akan mengerti kenapa aku sampai melakukan semua ini, meskipun perusahaanku sudah besar tapi aku tidak boleh berhenti di situ saja dan selagi ada kesempatan aku harus memanfaatkannya sebaik mungkin” jelas Max lagi, ia terlihat bersungguh-sungguh agar Zevana memahami maksud dan tujuannya.
“Baik, terserah” ucapnya bergumam, Zevana memandang ke bawah.
“Apa ayah dan ibuku tahu tentang ini?” tanyanya dan Max menggelengkan kepalanya sebagai jawaban “Lalu ayah dan ibumu?” tanyanya lagi dan Max tetap menggelengkan kepalanya.
“Apa ini sungguh hanya rencanamu saja?” tanyanya lagi, jika orang tuanya atau orang tua Max mengetahui hal ini mungkin ia akan jadi sangat kesal dan merasa dikhianati.
Zevana menundukkan kepalanya menatap pangkuannya beberapa detik dan menghela nafasnya kasar lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Max yang melihat itu pun bangkit lalu menyusul Zevana sesaat sebelum Zevana memasuki kamarnya, ia lebih dahulu menahan tangan wanitanya itu.
“Hey, ada apa denganmu?” tanya Max memasang wajah polosnya itu.
__ADS_1
Max membalikkan tubuh Zevana agar menghadap ke arahnya serta sedikit mencengkeram pundaknya “Kau kenapa, hem? Ayolah Zee” ucapnya sedikit khawatir.
Zevana menghempas tangan Max dari pundaknya “Aku akan tidur sendiri hari ini, jangan ganggu aku” ucapnya sedikit kasar.
Max menatapnya tajam seolah meminta penjelasan atas ucapan dan perlakuan yang ditunjukkannya “Sepertinya aku sangat kelelahan, setelah melakukan banyak hal. Energiku seperti terkuras habis” ucap Zevana seakan tahu maksud tatapan Max.
“Bukankah kita sudah membuat kesepakatan?” ucap Max.
Zevana menghela nafasnya, ia tahu maksud tujuan Max mencegahnya bahkan sudah sejak dari tadi ia mengerti maksud tatapan Max yang menatapnya seperti menginginkannya. Tapi setelah semua yang ia dengar tadi, tak mungkin baginya untuk menyerahkan tubuhnya begitu saja pada orang yang memanfaatkan hidupnya hanya untuk bisnis.
Max mengincar bibirnya lalu ********** pelan dan Zevana yang sudah terlanjur malas pun tidak membalas ciuman itu.
“B-biarkan aku sendiri, Max!” ucapnya sembari mendorong tubuh Maxime menjauh darinya.
Max menatapnya datar lalu mengusap puncak kepalanya dan kembali mengecup bibirnya singkat “Selamat malam” ucapnya.
Setelah itu Zevana langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu agak sedikit kasar dengan posisi Maxime yang masih berada di depan pintu kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di kasur dengan bayang-bayang tentang pembicaraannya tadi dengan Max.
Dan tak lama kemudian ia pun masuk ke dalam mimpi dan tertidur dengan pikiran kacaunya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...