
Sinar matahari menyeruak masuk dan menerpa wajah polos Zevana dengan sangat menyilaukan karena gorden jendela tersebut sudah di buka sejak pagi oleh pria yang datang bersamanya itu. Ia membuka matanya saat merasakan sesuatu menjalar di wajahnya dan yang bisa ia ketahui bahwa itu adalah jari tangan Max yang tengah membelai wajahnya.
Dengan malas ia membuka matanya dan betapa beruntungnya ia karena pagi-pagi saat membuka mata ia diberkahi dengan wajah tampan milik Maxime.
“Bangun, honey” ucap Max saat pandangan mata mereka bertemu.
Zevana menggelengkan kepalanya lalu mendekatkan tubuhnya ke dalam pelukan Max dan kembali memejamkan matanya dengan paksa, ia bisa merasakan dada Max bergetar saat prianya itu mulai tertawa.
“Apa kau serius akan terus tidur seharian? Kita punya banyak kegiatan untuk dilakukan dan kita hanya seminggu di sini jadi ayo bangun dan bersiap-siap untuk melakukan banyak hal di sini” ucap Max sembari membelai lembut rambut Zee saat merasakan wanitanya itu semakin mengeratkan pelukannya.
Zevana mendengus kesal “Satu-satunya yang ingin kulakukan hari ini adalah tidur, kita masih punya banyak waktu seminggu itu waktu yang lama” ucapnya.
Padahal sudah sejak tadi ia mengabaikannya itu tapi pria itu tetap bersikeras untuk membuatnya bangun.
“Oke kau bisa tidur dua puluh menit lagi tapi sekarang aku harus ke kamar mandi untuk bersiap dan sarapan” ucap Max dengan terpaksa Zevana pun melepaskan pelukannya.
Setelah beberapa menit kemudian Max keluar dari kamar mandi dan telah berpakaian santai “Aku akan pergi sarapan, apa kau mau aku minta untuk diantarkan makanan ke kamar?” tanya Max namun diabaikan oleh Zevana.
Zevana setengah sadar dengan tidak ia mendengar pertanyaan Max padanya namun mulutnya terasa berat untuk menjawab dan akhirnya ia memilih untuk tetap diam meringkuk di tempat tidurnya dengan mata terpejam. Namun setelah beberapa menit matanya kembali terbuka entah apa yang ada di pikirannya ia menendang selimut dan segera duduk.
Ia beranjak ke kamar mandi, ia kesal karena tidak dapat tidur lebih lama lagi tapi ini adalah hari yang baru untuknya tidak bagus untuk diawali dengan rasa kesalnya.
Setibanya di wastafel dan saat ia menatap pantulan dirinya dikaca ia tak berhenti merutuki Max karena meninggalkan banyak bekas ****** di leher dan juga beberapa di rahangnya. Sial! Tapi ini terlalu banyak mungkin ia akan kehabisan concealer hanya untuk menutupi bekas ****** ini.
__ADS_1
Saat ia selesai dengan urusannya dan bersiap untuk keluar baru saja ia akan membuka pintu kamarnya Max terlebih dahulu membukanya dan datang dengan troli berisi makanan yang tertutup tudung saji tapi ia dapat menebak apa itu karena baunya.
“Good job” soraknya saat melihat Zevana yang sudah bangun dan rapi.
Zevana hanya tersenyum dan Max juga tersenyum sebagai balasan “Ayo masuk” ucap Max lagi.
Max menata pancake mereka di meja dan segelas susu untuk Zevana dan secangkir kopi untuknya, ia menatap Zevana lalu menepuk sofa di sampingnya namun bukannya duduk di sampingnya Zevana justru duduk di pangkuannya dan hal itu sukses menarik perhatian Max dan membuatnya jadi heran dengan sikap Zee yang tiba-tiba itu.
Zevana mulai mengalungkan tangannya di leher Max dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Max yang kini hampir tak berjarak lagi, dengan nakalnya Zevana membelai wajah Max dan mendaratkan bibirnya di bibir Max.
Max awalnya tak membalas karena kaget dengan tingkah Zevana yang tiba-tiba itu namun saat ia baru akan membalas wanitanya itu dengan cepat menarik kembali wajahnya dan segera turun dari pangkuannya.
“Aduh, pancakenya jadi dingin” ucap Zevana menahan senyumannya, sedangkan Max masih tak mempercayai hal yang baru saja terjadi padanya itu.
Zevana tak menjawabnya dan mulai memakan pancake tersebut “OMG ini sangat enak, apa kau yang memasaknya?” tanyanya dengan polosnya.
Max menggeleng “Aku mendapatkan itu dari dapur dan aku tidak akan menghabiskan waktuku hanya untuk memasak di sini” ucapnya.
Zevana tersenyum licik, ia berjanji akan membuat pria itu memasak sebelum mereka pergi dari sini “Jadi apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanyanya.
“Aku hanya berpikir untuk melakukan sesuatu yang bisa kita lakukan di laut, mungkin surfing, selancar atau ingin berkeliling dengan bot saja?” tanya Max.
Zevana menoleh ke samping “Kenapa bertanya? Bukankah kau sudah menyiapkan rencana?” tanyanya.
__ADS_1
Max mengangkat kedua bahunya “Ya tapi tidak ada rencana pastinya” ucapnya.
“Tapi Max, you know” ucap Zevana kembali mencoba untuk menggoda Max dengan memainkan jari-jarinya di paha Max.
“Jika bersamamu aku tidak pernah merasa cukup, apa kau bisa melakukannya lagi?” tanya Zevana.
“Berhenti mengerjaiku Zee!” ucap Max seakan tahu niat licik Zevana.
Zevana seketika merengut dengan bibirnya yang manyun “Ya sudah, jika tidak ingin” ucapnya cemberut.
Max yang merasa jika kali ini Zevana sedang serius pun langsung meraih bagian belakang lehernya dengan kasar dan mulai memberikan ciuman di bibirnya dan berganti menjadi ******* yang sukses membuat Zevana menyeringai penuh kemenangan.
Saat Max melepaskan ciuman itu ia langsung mengangkat tubuh ringan Zevana dan menempatkannya di tepi kasur dan baru saja ia ingin kembali menyatukan bibir mereka, Zee pun menahannya lalu berkata dengan wajah tak berdosanya itu.
“Tapi Max ini masih pagi dan aku tidak boleh menghabiskan waktu berhargaku di Maldives hanya dengan berada di tempat tidur” ucapnya tersenyum jail.
“K-kau!” kesal Max, karena sekali lagi Zevana mempermainkannya.
Zevana bangkit dari duduknya dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi kanan Max lalu kembali berjalan ke kursi untuk menyantap pancakenya.
“Ayo ke pantai, honey” ucapnya sembari menahan tawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1