Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.45 Insiden Petugas Kebersihan (IV)


__ADS_3

Zack mengerang frustasi ia sama sekali tak menyangka bahwa hal seperti ini terjadi kembali pada adiknya itu dan sekali lagi ini semua terjadi karena kelalaiannya yang tak bisa menjaga Zevana dengan baik.


Kini semua orang berada di ruang tamu dengan raut wajah tegang dan penuh kecemasan bahkan kini ibunya dan nyonya Abiezer terlihat menangis saling berpelukan menenangkan satu sama lain.


Saat Zevana pergi mandi, Zack keluar dari kamarnya membiarkan adiknya itu membersihkan diri dan menghubungi ayahnya serta menceritakan semuanya yang terjadi pada adiknya itu. Tak ada cara lain selain menceritakannya, kali ini ia tak mungkin bisa menyembunyikannya lagi karena ia butuh bantuan dari yang lainnya untuk mencari dan menangkap pelaku tersebut.


Zack menyebutkan ciri-ciri pelaku dengan sangat detail karena sebelumnya ia sempat melihat dengan jelas wajah pelaku. Maxime, Mathew dan Marchel pergi mencari pelaku tersebut dengan mendatangi kantor jasa pembersih tersebut dan mereka dengan mudah menemukan pelakunya. Dan tanpa banyak basa-basi lagi mereka membawa paksa pria itu kembali ke vila mereka, dan tentunya sebelum itu ia sudah cukup babak belur di buat Maxime.


Zack masih berada di depan kamar adiknya itu namun setelah mendengar suara bising di bawah sana barulah ia turun ke bawah menuju ruang tamu dan di sana ia melihat orang tuanya, tuan dan nyonya Abiezer, Miller dan menantu-menantu keluarga Abiezer.


“Di mana putriku Zack?” tanya ayahnya sendu penuh kekhawatiran.


Zack menahan ayahnya yang ingin pergi menemui Zevana “Pa, jangan” cegahnya sembari menggelengkan kepala “Biarkan dia, jangan ganggu dia dulu” sambungnya.


Tiga puluh menit kemudian Max masuk seorang diri berjalan tergesa-gesa dan langsung menghampiri Zack “Bagaimana keadaannya?” tanya Max

__ADS_1


Zack sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Zevana hari ini, sama seperti sebelumnya di saat seperti ini Zevana sangat butuh seseorang di sampingnya. Ia sangat berharap Maxime bisa menjaga Zevana dengan baik bahkan saat pertama kali hal seperti ini terjadi pada adiknya itu, Zevana langsung berubah menjadi pribadi yang tertutup dan selama sebulan penuh tidak pernah meninggalkan rumah kecuali saat pergi bersamanya.


Meski ia tak merasakan langsung bagaimana perasaan yang di alami Zevana tapi ia sangat paham mengingat hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya dan membuat adiknya itu sempat berubah. Ia sangat senang saat melihat adiknya kembali ceria lagi tapi sekali lagi hal seperti ini harus terjadi padanya dan entah bagaimana jadinya nanti.


“Dia sedang mandi, bisakah kau menemaninya? Dia butuh seseorang di sampingnya, jangan tinggalkan dia sendiri” ucap Zack pada Max.


Saat ingin menjauh tangannya ditahan oleh Zack “Max, tolong jangan tanya apa pun padanya”


Maxime mengangguk paham dan tanpa tunggu lama lagi ia langsung berjalan menuju ruang keluarga dan menaiki tangga menuju kamar tidur mereka.


“Kau brengsek! Apa kau tak mengerti bahasa manusia?! Dia sudah menyuruhmu berhenti dan berkali-kali mengatakan tidak! Kenapa kau tak mendengarkannya brengsek!!” ucapnya penuh amarah dan kembali melayangkan pukulan.


“Kenapa kau membuatnya seperti ini lagi?! Kenapa kau harus melakukan itu” pekiknya tak dapat menahan amarahnya.


Zack terus memukuli pelaku itu tanpa ampun dan yang lainnya hanya bisa diam membiarkan hal itu terjadi karena mereka juga tidak terima melihat Zevana di lecehkan begitu. Kini wajah putih pria itu sudah berubah biru keunguan bahkan ada beberapa tempat yang menghitam belum lagi darah yang terus mengalir di sudut bibirnya, wajah pria itu benar-benar babak belur di buat Maxime dan Zack.

__ADS_1


Namun di detik berikutnya tubuh Zack di tarik oleh seseorang yang ada di belakangnya, mencegah dirinya untuk tidak memukuli pria itu lagi.


“Cukup nak, aku tau kau marah dan kami juga begitu. Tapi sudah cukup biarkan pihak kepolisian yang mengurusnya” ucap ayahnya.


Ia membebaskan tubuhnya dari cengkeraman ayahnya dan menatap bajingan itu penuh amarah dengan dadanya yang turun naik, ia benar-benar tak sanggup jika harus sekali lagi melihat adiknya terluka untuk alasan yang sama.


Di ambang pintu yang terbuka lebar itu terlihat tiga orang pria berseragam menyapa mereka semua “Selamat sore, kami dari petugas kepolisian setempat mendapat laporan bahwa di sini terjadi pelecehan seksual?” ucap salah satu dari mereka mencoba memastikan laporan tersebut.


“Ya pak, bajingan itu terus melecehkan adikku bahkan saat ia meronta dan memohon untuk berhenti. Tapi bajingan itu sama sekali tak mendengarnya, aku melihatnya bahkan kami juga punya cctv di bagian dapur dan ruang keluarga” jelas Zack mencoba untuk tenang.


Petugas kepolisian itu sempat kaget saat melihat wajah babak belur si pelaku namun mereka tetap memborgol pria itu “Kami butuh kesaksian Anda dan adik perempuan Anda, akan lebih bagus jika Anda juga membawa rekaman CCTV tersebut” ucap petugas itu.


Zack menggelengkan kepalanya “Tidak, jangan libatkan adikku lagi. Aku akan pergi dengan rekaman itu” ucapnya.


Petugas itu tidak mengatakan apa-apa lagi melainkan melihat ke sekeliling, sepertinya ia mengenali sosok ayah dan tuan Abiezer “Baiklah, kalau begitu mari kita selesaikan di kantor”

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2