
Pagi-pagi sekali suara bising memenuhi bagian dapur rumah Max dan Zevana siapa lagi pelakunya kalau bukan kalau bukan Zee, wanita itu kini tengah sibuk memasak sarapan pagi yang tidak biasa untuknya dan Max. Entah kenapa pagi-pagi sekali ia sudah menyusahkan dirinya sendiri bahkan ia mengganggu tidur ibunya pagi-pagi begini.
Ia kini telah menyelesaikan beberapa hidangan untuk sarapannya hanya saja ia kekurangan satu hal karena ia tak pernah membeli atau memakannya ia tidak tahu di mana bisa mendapatkan hidangan itu karena itu ia membutuhkan ibunya.
Zevana mencoba menghubungi ibunya berkali-kali namun tidak ada jawaban karena keinginannya yang kuat ia tetap mencobanya hingga ibunya itu menjawab panggilan darinya.
-Mom’s🤍 In Call-
“Halo ma? Ma, di mana aku bisa mendapatkan black puding?” tanyanya langsung saat sambungan telepon itu terhubung.
“Black pudding, kenapa tiba-tiba sekali?” tanya ibunya itu sedikit kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari putrinya itu bahkan suaranya masih terdengar khas orang yang baru bangun tidur.
“Aku membutuhkannya tapi aku tidak tahu cara mendapatkannya, apa aku harus membuatnya atau membelinya?” tanya Zevana lagi.
“Apa kau sedang dalam masa mengidam, sayang?” tanya ibunya itu sedikit penasaran.
“Um? Tidak ma, aku melihatnya kemarin di televisi karena orang-orang itu memakannya dengan sangat nikmat aku jadi menginginkannya juga” jelasnya.
“Oh baiklah, kau bisa membelinya di aplikasi pesan antar makanan sayang” ucap ibunya.
“Ha benarkah? Aku hanya kekurangan black puding saja” ucap Zee.
“Kau membuat menu ‘full breakfast’?” tanya ibunya dan Zevana hanya berdehem sebagai jawaban “Kau juga bisa mendapatkan itu di aplikasi pesan antar makanan, sayang” ucap ibunya lagi.
“Ah benarkah? Sepertinya aku terlalu bersemangat untuk menu sarapanku hari ini” ucap Zee sembari tertawa malu “Baiklah ma, akan kuakhiri. Maaf mengganggu waktu tidurmu” ucapnya lagi.
Setidaknya ia sadar bahwa ia telah mengganggu waktu tidur ibunya itu meskipun terlambat menyadarinya.
“Tidak apa-apa, have a nice day sayang” ucap ibunya itu.
“Have a nice day too ma, bye”
-Mom’s🤍 End Call-
Setelah sambungan itu terputus Zevana mulai membuka aplikasi pesan antar makanan betapa kagetnya ia ketika mengetikkan kata Black Puding karena semua hidangan yang telah ia masak tadi tersedia di sana.
Di sisi lain ibu Zevana tengah menatap ponselnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya mulai sekarang Maxime akan kesusahan menghadapi Zevana karena putrinya itu sedang dalam masa mengidam. Black puding atau sosis darah bukanlah hidangan kesukaan Zevana bahkan putrinya itu tak ingin menu itu terhidang di dalam piringnya saat makan.
“Siapa yang menghubungimu pagi-pagi begini?” tanya tuan Afsheen.
“Siapa lagi kalau bukan putri kesayanganmu itu, hanya dia yang bisa menggangguku sepagi ini” ucap Emily.
__ADS_1
“Pagi-pagi begini, apa terjadi sesuatu padanya?” tanya tuan Afsheen khawatir dengan suara serak khas bangun tidurnya itu.
“Ya, sesuatu yang sangat mendesak terjadi padanya” ucapnya.
Tuan Afsheen yang tadi masih berbaring malas dan bahkan berniat melanjutkan tidurnya itu langsung terduduk menatap istrinya khawatir “Apa yang terjadi pada putriku? Di mana dia sekarang?” tanyanya.
Emily menghela nafasnya “Dia baik-baik saja, dia hanya menanyakan di mana dia bisa mendapatkan black puding” jelasnya.
“Black puding? Bukankah dia tidak menyukai itu” ucap tuan Afsheen sembari mengernyitkan keningnya.
Emily menganggukkan kepalanya “Sepertinya dia mulai memasuki masa mengidam” ucapnya.
Tuan Afsheen kembali berbaring bahkan menyelimuti tubuhnya hingga kepala “Sepertinya hari-hari melelahkan menantuku akan segera tiba” ucapnya iba.
Emily menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya itu “Bangunlah, kau akan terlambat jika menyambung tidur sekarang” omelnya.
“Biarkan aku tidur sebentar lagi, Emily” pintanya.
“Tidak, bangunlah sekarang juga” ucap istrinya itu
Jika pasangan Afsheen itu sedang ribut tentang tidur kembali berbeda dengan Zevana yang kini tengah berusaha dengan susah payah untuk membangunkan suaminya itu yang sejak tadi hanya berdehem menanggapi perkataannya namun tak kunjung membuka matanya.
Maxime kembali berdehem sebagai jawaban namun ia masih tak kunjung membuka matanya “Buka matamu jika tidak aku akan menyirammu dengan air dingin!” ancam Zevana.
Max lagi-lagi hanya berdehem dan tetap tak membuka matanya “Max, aku benar-benar akan menyirammu” ucapnya lagi.
Setelah beberapa saat Maxime tetap tak membuka matanya namun terus berdehem sebagai tanggapan saat Zee mencoba membangunkannya, Zevana yang sudah geram dan kesal pun mulai berjalan ke arah kamar mandi dan kembali dengan secangkir air dingin lalu mengguyur air tersebut tepat di wajah suaminya itu.
“Max, ayo bangun! Kita akan terlambat” ucapnya lagi.
Maxime yang terkena guyuran air itu dengan otomatis langsung bangun dan bangkit dari baringnya “A-apa yang kau lakukan, Zevana?!"a tanyanya sedikit berteriak.
“Apa kau baru saja meneriakiku?” tanya Zevana mulai memasang wajah sedihnya.
Maxime yang masih belum menyadari situasi itu dan rasa kesaknya masih ada karena disiram begitu saja pun tetap berbicara dengan nada yang cukup keras.
“Ini masih pagi, masih ada banyak waktu untuk bersiap. Jika terlambat pun tidak akan ada yang memarahimu dan aku” ucapnya.
“A-aku hanya membangunkanmu j-jadi berhentilah berteriak seperti itu” ucapnya terbata-bata dan masih memasang wajah sedihnya.
Max mengusap wajahnya kasar dan mulai memahami situasi saat ini “Sayang, aku tidak berteriak karena marah. Ah tidak-tidak, maafkan aku” ucapnya.
__ADS_1
Maxime yang mulai merasa bersalah dengan istrinya itu pun mulai meraih tangan istrinya itu dan mendudukkannya di tepi ranjang lalu membawanya ke dalam pelukannya.
“Maafkan aku, aku masih mengantuk sekali sampai tidak sadar dengan apa yang baru saja kulakukan” jelasnya.
Zevana merengek dalam pelukan suaminya itu “Apa kau marah denganku?” tanyanya.
“Tidak sayang, tidak.. maafkan aku” ucap Max lagi.
“Kalau begitu apa kau akan mengabulkan permintaanku?” tanya Zevana tiba-tiba.
Max tersenyum sembari menganggukkan kepalanya “Tentu sayang, katakan saja aku kan mengabulkannya”
“Apa kau bisa membelikan black puding untukku?” pintanya.
“Black puding? Tentu kita akan membelinya nanti” ucap Max
Zevana menggelengkan kepalanya sembari memasang wajah merengutnya “Bukan nanti tapi sekarang, aku ingin sarapan dengan black puding” ucapnya.
Zevana mengeluarkan ponselnya dari saku roknya dan membuka aplikasi pesan antar makanan dan melihatkan pada Maxime.
“Aku ingin ini, tolong belikan di toko ini” ucapnya.
Max menaikkan kedua alisnya dengan mata sedikit membelalak menatap istrinya itu untuk memastikan pendengaran dan yang baru saja ia lihat di ponsel istrinya itu.
“Sayang, itu aplikasi pesan antar bukan?” tanya Max penasaran dan Zevana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan memasang wajah polosnya.
“Kau bisa memesannya dari sana, sayang. Kenapa harus jauh-jauh membelinya? Aku bahkan belum mandi” ucap Max.
“Karena itu cepatlah bangun dan bersiap lalu belikan black puding itu untukku” ucapnya mengabaikan ucapan Maxime.
Maxime masih setia dengan wajah kaget dan bingungnya sedangkan Zevana sibuk menyuruhnya untuk bersiap-siap dan segera membelikannya black puding. Sempat terbesit di kepala Maxime apakah dia melakukan kesalahan pada istrinya itu sampai-sampai Zevana tega menyiksanya di pagi hari seperti ini.
Maxime yang sekarang sudah berperan sebagai suami yang sangat menyayangi istrinya itu mau tidak mau terpaksa mengikuti perintah sang istri karena sejak ia mengatakan isi hatinya entah kenapa setiap kali berdebat ia tidak bisa menang melawan istrinya itu.
Ia menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk bersiap, pagi ini pagi yang buruk untuknya karena sepanjang ia bersiap istrinya itu tak berhenti-hentinya mendesaknya agar lebih cepat dan Maxime menghabiskan waktu kurang lebih empat puluh lima menit hanya untuk membeli sosis darah itu.
Terlepas dari semua itu yang lebih menjengkelkannya adalah Zevana bahkan tidak menyentuh sosis darah itu dengan alasan ia tidak menyukainya dan ia bahkan tak pernah memakannya. Sempat terjadi perdebatan kecil sebelumnya karena Maxime tak terima setelah ia jauh-jauh pergi membeli itu tapi Zevana bahkan tak menyentuhnya sedikit pun.
Dan pada akhirnya Maxime hanya di perbolehkan untuk memakan sosis darah dari semua hidangan sarapan yang sudah disiapkan oleh Zevana itu. Setelah melewati pagi dan sarapan penuh drama itu mereka pun berangkat ke kantor dan memulai hari mereka dengan pekerjaan yang sedikit menumpuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1