
Zevana bergerak saat merasakan seseorang menggoyang tubuhnya dan bangun perlahan ia membuka matanya, ia melihat ayah dan saudara laki-lakinya di depannya. Zack berada tepat di sampingnya karena ialah yang menggoyangkan tubuhnya mencoba membangunkan dirinya sejak tadi sedangkan ayahnya berada di sebelah Zack dengan sebuah nampan berisi mangkuk dan segelas air putih.
Ia cukup kaget saat melihat kehadiran kakak dan ayahnya itu tapi ia segera kembali terlihat tenang saat sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam pikirannya itu. Karena ini rumah dan kamar Zack tentu saja pria itu memiliki kuncinya dan tidak heran jika mereka bisa masuk saat ini.
“Zee sayang, kau harus memakan sesuatu nak” ucap ayahnya dengan lembut.
Ia menatap lurus ke arah ayahnya itu sembari menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas tawaran ayahnya itu dan hal itu menyebabkan kedua pria yang sedang menemaninya itu terdiam menatapnya prihatin.
“Tidak nak, kau harus makan. Sekarang kau punya bayi di dalam perutmu jadi meskipun tidak ada nafsu makanlah demi bayi kecilmu itu” ucap ayahnya mencoba untuk memujuknya.
Itu benar, ia perlu makan setidaknya demi anak yang sedang ia kandung bukti cintanya dengan Maxime itu dan jujur saja perutnya sangat tidak enak untuk menerima sesuatu dan suasana hatinya juga sedang sangat berantakan.
Ia harus memastikan bayinya sehat dan aman lalu setelah mengingat bahwa dirinya hanya makan waktu sarapan saat bulan madu dan tidak memakan apa pun sepanjang perjalanan pulang ia pun bangkit dari baringnya. Ia menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya mengatur posisi tubuhnya menjadi bersandar ke kepala ranjang tersebut.
Ayahnya meletakan nampan berisi semangkuk sup daging yang dipenuhi sayur-sayuran dan nasi di mangkuk kecil di pangkuannya sedangkan air putihnya sudah diletakan Zack di nakas sampingnya.
Dan baru saja ia selesai mengaduk-aduk dan ingin memakan sup yang sangat tidak menggugah seleranya itu tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan menampilkan seseorang yang datang dengan terengah-engah.
__ADS_1
“S-sayang” sapanya, ya itu Maxime.
Zevana menghela nafasnya kasar sembari memikirkan hal apa lagi yang ingin pria itu katakan lagi padanya, ia menatap dingin prianya itu tapi Max justru membalasnya dengan sebuah senyuman lembut dan hangat lalu menganggukkan kepalanya sopan ke arah ayahnya dan juga Zack. Pria itu sangat palsu!
Max menutup pintu dan berjalan mendekat ke arahnya dan begitu ia tiba di sampingnya Zack dan ayahnya pamit undur diri dari sana meninggalkan mereka berdua “Sepertinya kalian harus bicara” ucap ayahnya itu lalu membawa Zack pergi.
Zevana tak mendengarkan ucapan ayahnya itu karena sibuk menatap tajam prianya itu dan ia sadar jika ayahnya dan Zack pergi dari sana saat mendengar suara dari pintu kamar itu yang kembali tertutup. Meskipun ia menatap horor Max tapi pria itu tetap menatapnya dengan hangat dan terlihat ada kekhawatiran dan rasa peduli dimatanya.
Max tersenyum dengan hangat ke arahnya “Kenapa belum dimakan supnya? Kau tidak suka supnya, apa kau ingin makan yang lain?” tanyanya peduli.
Prianya itu terlalu hebat bersandiwara “Apa pedulimu?!” ucapnya ketus.
“Makanlah sesuatu jika tidak maka kau akan menyakitinya” ucap Max sembari melirik ke arah perut ratanya itu.
Zevana menghela nafasnya kasar sesuai dugaan prianya itu sama sekali tidak peduli tentangnya dan sikap baiknya ini semua ditujukan untuk bayi yang ia kandung saat ini. Ia pikir dengan adanya bayi di dalam perutnya itu maka Max akan mencintainya juga tapi apa ini semua ketulusan yang pria itu berikan hanya untuk bayinya bukan untuk dirinya.
“Apa kau kerasukan sesuatu? Kenapa tiba-tiba jadi peduli dengan bayi yang aku kandung” ucapnya sinis sembari menatap tak suka ke arah Maxime.
__ADS_1
Max menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan wanitanya itu dan saat baru saja ia ingin menggapai tangan yang ada di pangkuan wanitanya itu dengan cepat tangan itu ditarik kembali oleh Zee agar ia tak bisa menyentuhnya.
Max menatap Zevana dengan kening yang mengerut dan wajah sedihnya entah kenapa itu membuatnya terlihat seperti pria yang tersakiti padahal dirinyalah yang sebenarnya tersakiti.
“Aku hanya kaget, itu saja” ucapnya lirih karena merasa sedikit bersalah karena sebelumnya pergi begitu saja tanpa memperdulikan wanitanya itu.
“Aku juga.. aku juga kaget tidak percaya dengan semua ini tapi karena semua alat itu menyatakan hal yang sama aku menerimanya t-tapi kau.. kau pergi begitu saja” keluhnya dan kembali tanpa ia sadar meneteskan air matanya.
“Jika kau kembali untuk memintaku menggugurkan kandunganku maka jawabanku adalah tidak. Aku akan mempertahankannya, menjaga dan membesarkannya dan aku tidak peduli bagaimana denganmu karena aku akan melakukannya sendiri” ucapnya lagi
“Aku hanya kaget, itu saja? Alasan apa itu bukan kau saja yang kaget aku dan yang lainnya juga kaget saat mendengar hasil itu tapi bedanya mereka denganmu adalah mereka senang menyambut anakku sedangkan kau tidak menyukainya”
“Tidak, aku tidak peduli semua terserah kau saja karena begitu anak ini lahir kita akan segera mengurus percer-” ucapannya terpotong.
“Hentikan omong kosongmu itu! Siapa yang bilang aku tidak menyukainya dia adalah anakku, tidak ada alasan untukku tidak menyukainya” jelas Max dengan nada suara yang menuntut agar Zevana mendengarnya dengan jelas “Dan siapa yang bilang kita akan bercerai?” tanyanya.
Meskipun wanitanya itu sedang marah tapi ia tetap bertanya dengan suara lembutnya karena firasatnya mengatakan jika ia balik marah dan membentak sekali saja maka wanitanya itu akan segera menangis.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...