
Ini pertama kalinya bagi Maxime dan juga Zevana saat ingin melakukan ‘hubungan intim’ harus berkompromi lebih dahulu terlebih bukan satu dua kesepakatan tapi ini sudah memakan waktu hampir dua puluh menit hanya untuk kompromi.
“T-tunggu!” cegah Zevana lagi
Maxime sudah jengah jika terus tertunda seperti ini bisa-bisanya nafsunya keburu hilang “Apa lagi kali ini?” pekiknya frustasi.
“U-untuk jaga-jaga kita harus pasang timer, aku tidak ingin nantinya jadi terlarut” ucap Zevana.
Maxime menghela nafasnya kasar, Zevana sudah keterlaluan bagaimana bisa saat ingin bercumbu harus memasang timer segala. Tanpa menunggu persetujuannya, gadis itu langsung meraih ponselnya untuk mengatur waktu.
“Sepuluh menit, cukup bukan?” tanya Zevana melirik sebentar pada Maxime.
Maxime membelalakkan kedua bola matanya “Apa kau gila sejak kapan ada seorang pasangan bercumbu dan memberi waktu?” Protesnya.
Zevana tetap mengatur waktu selama sepuluh menit karena merasa tak mendapat jawaban dari Maxime namun saat melihat Zevana hendak meletakkan ponselnya Maxime justru kembali meraih ponsel tersebut dan mengatur kembali waktunya.
__ADS_1
“Dua puluh menit” ucapnya sembari menunjukkan ponsel tersebut pada Zevana “Jangan membantahku!”
Zevana hanya mengangguk setuju namun tanpa ia ketahui sebenarnya pengaturan waktu itu di batalkan oleh Maxime karena ia sangat tidak menyukai cara penolakan yang diberikan Zevana padanya.
Maxime kembali berada di atas tubuh Zevana mencoba memulihkan kembali suasana panas di antara keduanya, jemari-jemari besar dan dingin itu perlahan bergerak menyusuri setiap permukaan wajah Zevana lalu bergerak turun ke leher mulusnya. Dan dengan perlahan Maxime bergerak maju mendekatkan wajahnya ke wajah Zevana dan perlahan bibir keduanya mulai terpaut, Maxime mencium lembut bibir kekasihnya itu namun tak kunjung mendapat balasan dan di detik berikutnya dengan sedikit paksaan Maxime menggigit bibir bawah Zevana hingga akhirnya bibir itu terbuka dan memberi akses untuknya masuk.
Mereka tetap melakukan hal itu selama beberapa menit dan hanya Maxime yang bermain tidak dengan Zevana yang masih kekeh tak ingin membalas ciumannya. Namun ia tetap tak menyerah hingga akhirnya setelah kurang lebih lima menit ia melepaskan ciuman tersebut dan tangannya mulai bergerak menyusuri leher jenjang hingga berakhir di dua bukit kembar milik Zevana.
“A-aah” pekik Zevana sedikit kaget saat merasakan tangan dingin itu menjalar ditubuhnya.
“Ah!”
Zevana kembali terpekik saat ciuman Maxime berpindah tepat di tulang selangkanya dan ia bahkan dapat merasakan bahwa kini pria itu tengah menyeringai penuh kemenangan. Sial ini tidak bagus! Ia tidak seharusnya membiarkan pria ini merasa menang namun sulit untuk ia ungkiri karena kini ia benar-benar merasa sangat keenakan bahkan tanpa ia sadari jemari-jemari tangannya sudah berada di belakang kelapa Maxime dan meremas rambut pria itu.
Saat keduanya tengah asyik bercumbu tiba-tiba Zevana membuka matanya saat merasakan tangan dingin itu perlahan mulai menyentuh ****** ******** saat yang sama ia melihat ke bawah entah kapan itu terjadi tapi pakaiannya sudah berserak di lantai dan kini ia hanya mengenakan ****** ***** saja.
__ADS_1
Kesadarannya kembali dengan cepat Zevana mendorong tubuh Maxime menjauh darinya dengan kuat hingga dia terdorong ke samping, di saat itu juga Zevana langsung mengambil pakaiannya yang bercecer di lantai dan kasur lalu berlari menuju kamar mandi. Ini tidak benar! Mereka hampir saja benar-benar melakukan hal gila, Zevana juga salah ia benar-benar memberi Maxime kendali penuh pada tubuhnya. Untung saja kesadarannya kembali pulih dengan cepat jika tidak mungkin mereka sudah melakukannya.
Setelah selesai mengenakan kembali pakaiannya Zevana mencuci wajahnya untuk mengulur waktu lebih lama lagi, ia tidak tahu harus mengatakan apa saat keluar dan berpapasan dengan pria itu lagi. Dan merasa sudah cukup ia keluar dari kamar mandi tersebut dan berjalan menuju tempat tidur namun ia tak menemukan Maxime di sana, ia menghela nafas lega dan menempatkan tubuhnya untuk segera tidur.
...****************...
Zevana mengerang saat terbangun dari tidurnya sebelum saat ia benar-benar membuka matanya perlahan ia mulai melakukan perenggangan kemudian ia meraih ponselnya untuk melihat jam, ia kaget saat melihat sekarang jam sudah menunjukkan pukul 11.27 siang. Ia menoleh ke samping dan di sana ia melihat Maxime yang juga masih terlelap, mereka berdua sepertinya sangat lelah hingga masih tertidur hingga siang begini.
Zevana turun dari kasur dengan hati-hati tak ingin mengganggu tidur Maxime, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan setelahnya ia turun ke bawah namun ia tak menemukan siapa-siapa di sana sepertinya semua orang kelelahan karena tadi malam.
Karena sudah lewat jam dua belas siang Zevana memutuskan untuk membuat tiga Sandwich, ia tidak membuat untuk orang lain namun ketiga itu untuknya. Ia sangat menyukai makanan buatannya karena itu tidak akan membiarkan orang lain untuk mengambil makanannya.
Karena akan merasa bosan jika makan sendirian di ruang makan Zevana akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisinya, memakan Sandwichnya sembari menonton televisi untuk menemaninya dari keheningan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1