
Setelah mendengar seluruh cerita yang pernah di alami wanitanya itu Max merasa sangat bersalah terhadap Zevana setelah semua yang ia katakan, memanggilnya dengan sebutan pelacur, jalang serta kata-kata menyakitkan lainnya.
Zevana adalah korban dan ia malah memperburuk keadaan, bukannya mempercayai apa yang di katakannya ia justru membela pelaku dan memilih untuk tidak mempercayai wanitanya itu. Ia benar-benar pria yang bodoh!
Ia dengan mudah menyalahkannya yang padahal seharusnya ia menghiburnya. Memang benar ia tak menyukai Zevana tapi itu bukan berarti tidak apa-apa bagi seorang wanita untuk di perlakukan seperti itu. Jika mereka berkata tidak maka itu benar-benar tidak.
Maxime membuka lalu menutup kembali pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Zevana yang masih tertidur lelap. Ia memastikan langkahnya tidak terlalu berisik dan berjalan menuju lemari pakaian dan mengganti pakaiannya jadi lebih santai lalu ia mendekat ke arah kasur dan berbaring di samping Zevana.
Baru saja memalingkan tubuhnya menghadap ke arah Zevana ia merasakan tangan wanita itu memeluk pinggangnya bahkan bersungut maju ke arahnya. Max sempat sedikit ragu tapi ia memutuskan untuk memeluknya dan menariknya lebih dekat lalu mendekap erat wanitanya itu.
Ia memejamkan mata dan membiarkan kantuk menguasai dirinya hingga beberapa menit kemudian ia ikut terlelap bersama Zevana.
Di tengah tidur lelapnya itu ia sedikit terganggu karena bantalnya bergerak, tak ingat bahwa ia tidur dengan memeluk Zevana ia justru mengeratkan pelukannya pada Zevana yang ia kira sebagai bantal guling itu.
Zevana mengerang dan berusaha untuk terlepas dari pelukannya “Max, tolong lepaskan ini” ucapnya.
Samar-samar ia mendengar suara kecil yang menelusuk masuk ke indra pendengarnya karena Zevana yang ia anggap guling itu terus bergerak memberontak untuk di lepas dengan berat ia membuka matanya.
Saat matanya terbuka sepenuhnya ia sedikit kaget ketika melihat Zevana meronta minta dilepaskan dari pelukannya.
“Ah, maaf” ucapnya grogi langsung melepaskan pelukannya itu.
Begitu pelukannya terlepas Zevana langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sedangkan Maxime mengucek matanya sebenarnya ia masih mengantuk tapi ia tidak mungkin kembali tidur membiarkan Zevana terjaga sendiri. Ia bangkit dari baringnya dan duduk bersandar di kepala ranjang lalu meraih ponselnya yang berada di nakas samping tempat tidur dan melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi.
Ia tidak memiliki apa pun yang penting di ponselnya karena itu ia kembali menaruh ponsel itu di tempat sebelumnya, sudut pandangannya melihat Zevana yang berjalan dengan ragu mendekat ke arah tempat tidur.
“Kau ingin tidur lagi?” tanya Maxime dengan nada yang lembut dan tatapan hangat.
Zevana menggelengkan kepalanya sembari memainkan jari-jarinya, ia menunduk dan terlihat ragu “Um... Apa aku boleh minta sesuatu?” tanyanya.
Max mengerutkan keningnya sebenarnya apa yang diinginkan wanita ini di jam segini namun ia tidak menolak ataupun membantahnya.
__ADS_1
“Tentu, kau butuh sesuatu?” tanyanya balik.
“B-bisakah kita kembali lebih awal sebelum ada yang bangun?” pintanya.
Maxime merasa khawatir saat mendengar suara Zevana yang terbata-bata itu dan sekali lagi ia tidak bertanya banyak dan menyetujui keinginan wanitanya itu.
“Baiklah, kau bersiaplah terlebih dulu aku akan siapkan makanan. Kau belum makan sejak tadi malam” ucap Maxime dengan lembut bahkan ia tersenyum di akhir ucapannya.
Zevana menganggukkan kepalanya tanpa menatap Maxime, mungkin masih ada sedikit perasaan canggung di antara keduanya dan ia juga mengucapkan terima kasih pada Max.
Maxime tidak bertanya atau pun menolak permintaan Zevana karena ia tahu bahwa wanitanya itu mungkin ingin menghindari semua orang dari berbagai pertanyaan yang mungkin akan membuat kondisinya bertambah buruk. Zevana membutuhkan ruang saat ini jadi ia menuruti dan membiarkan saja wanitanya itu yang ingin kembali lebih awal.
Ia segera bangun dari tempat tidur kemudian berjalan ke bawah dan mulai membuat nasi goreng dan juga membersihkan beberapa buah stroberi untuk dijadikan hidangan penutup. Ia sengaja membuat nasi goreng di jam tiga pagi ini karena ia tahu bahwa Zevana pasti sangat lapar terlebih setelah menghabiskan waktu berjam-jam menangis.
“Kau bisa mandi sekarang, biar aku yang menyelesaikannya” ucap Zevana dari arah belakang.
Sepertinya wanita itu benar-benar tak ingin satu pun penghuni vila ini melihatnya, tak biasanya ia mandi hanya dalam waktu beberapa menit dan bahkan ia tak mendengar langkah kaki wanitanya itu saking hati-hatinya.
“Hm baiklah” ucapnya, Max berjalan menjauhi Zevana namun setelah beberapa langkah ia berhenti dan berbalik menatap Zevana “Apa kau sudah mengemas barang-barangmu?” tanya Max cukup kuat lalu memelan.
Maxime kembali melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju kamar mereka, sepanjang perjalanan ia terus tersenyum menahan tawa karena tingkah gemas wanitanya itu. Begitu sampai ia langsung masuk ke kamar mandi dan dengan cepat membasuh wajahnya, menggosok gigi lalu membiarkan tubuhnya diguyur air hangat.
Ia berjalan menuju lemari dan di sana hanya terdapat sepasang pakaian saja, ia melirik ke arah tasnya yang sudah penuh di kemas oleh Zevana. Ia memakai pakaiannya dengan cepat lalu turun ke bawah dua buah tas di genggamannya dan satu di punggungnya, ia berjalan menuju ruang tamu dan meletakkan tas mereka di sana lalu kembali berjalan menuju dapur.
“Ah kau sudah datang? Kita makan di sini saja” ucap Zevana menunjuk bar yang berada di dapur.
Maxime pun mengangguk setuju, Zevana menyediakan sepiring nasi goreng dan segelas air putih di hadapannya dan semangkuk stroberi di tengah-tengah mereka. Mereka duduk bersebelahan dan makan dalam diam, tidak ada pembicaraan sepertinya Zevana tidak ingin berbicara dengannya. Maksudnya siapa yang ingin berbicara dengan orang yang selalu berpikir negatif tentangnya bahkan mengatainya seorang pelacur saat di lecehkan orang lain.
Mereka menyelesaikan sarapan mereka dengan cepat “Ingin pergi sekarang?” tanya Max sembari menaruh piringnya dan Zevana di wastafel.
Zevana tampak ragu “Um... Kau siapkan saja dulu mobilnya, aku ingin menemui Zack dulu” ucapnya.
__ADS_1
Mereka berpisah Zevana berjalan menaiki tangga sedangkan Maxime berjalan ke arah luar untuk menyiapkan mobilnya.
Zevana berjalan dengan hati-hati agar tak menimbulkan kebisingan karena keheningan yang melanda vila itu mungkin langkah kakinya bisa saja terdengar oleh orang lain, ia membuka pintu kamar Zack yang memang tidak pernah terkunci itu.
“Zacky bangun” ucapnya lalu dan mengguncang pelan badan kakaknya itu.
Zack mengerang dan mendesah malas saat bangun karena tidurnya terganggu namun saat matanya terbuka ia sentak saat menyadari bahwa yang membangunkannya itu adalah adiknya.
“Ada apa, hem? Kau baik-baik saja?” tanyanya yang tampak khawatir.
Zevana menganggukkan kepalanya “Ya, aku baik-baik saja. Maaf mengganggu tidurmu tapi aku Cuma mau pamit, aku dan Max memutuskan untuk pulang lebih awal karena rasanya aku tidak bisa jika harus melihat yang lainnya saat ini” ucapnya.
Zack mengerti perasaan adiknya jadi ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “Baiklah, berhati-hatilah. Jangan jauh dari Max dan jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku” ucapnya.
“Baiklah, aku akan pergi. Max sudah menungguku di bawah” ucapnya.
Zack menggenggam tangan mungil adiknya itu “Maafkan aku, aku terpaksa memberitahu mereka tentang Steven”
Zevana menatap kakaknya itu dengan tatapan yang sulit diartikan “Lalu bagaimana dengan papa dan mama?”
“Mereka syok dan mama menyalahkan dirinya karena selama ini tidak menyadari hal itu”
Zevana tersenyum tipis untuk menyembunyikan kesedihannya “Baiklah, kau tidur saja lagi. Aku akan pergi sekarang” pamitnya.
Bukannya kembali tidur Zack justru ikut turun dari tempat tidurnya “Aku akan mengantarmu, ada yang perlu kubicarakan dengan Max” ucapnya.
Sepanjang perjalanan menuju depan Zevana selalu mengingatkan untuk Zack berhati-hati agar tak membuat keributan dan ketika sampai di depan mereka bisa melihat Max yang sedang bersandar di depan mobilnya dengan berpangku tangan. Ketika sampai Zevana langsung masuk ke dalam mobil dan membiarkan kedua pria itu berbincang.
“Tolong jaga dia Max, jangan biarkan dia kembali menerima perlakuan seperti hari ini” ucap Zack pada Max.
Max menganggukkan kepalanya mengerti “Baiklah, aku akan menjaganya. Pasti”
__ADS_1
“Tolong perlakukan dia dengan baik, aku titip dia padamu” ucap Zack dan mereka pun saling berpelukan ala-ala pria jantan lalu setelahnya Maxime pun masuk ke dalam mobil dan Zack masih berada di tempat hingga mobil yang mereka tumpangi menghilang dari pandangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...