
Kini mereka sedang berada di meja makan untuk menyantap hidangan makan malam, Zevana dan Tuan Jeffry baru saja kembali dari taman belakang yang tentunya mencuri perhatian semua orang karena sebelumnya keduanya tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka.
“Kalian dari mana saja, pa?” tanya ibunya Zevana.
Tuan Jeffry tersenyum lalu menarik kursi untuk duduk tepat di samping istrinya itu “Dari taman belakang, ngobrol-ngobrol santai. Rasanya sudah lama sekali tidak bercerita-cerita dengan bayiku” ucapnya.
“Papa, aku sudah bukan bayi lagi” ucap Zevana yang sudah mengambil tempat di samping Maxime sembari tersenyum ke arah ayahnya itu.
Acara makan malam berlangsung dengan lancar tanpa hambatan dan kini para anak muda kembali berkumpul di ruang keluarga dan tentunya kembali membahas topik taruhan mereka karena kini sudah hampir dua puluh empat jam mereka melakukan tantangan tersebut.
“Apa ada yang ingin mengaku bahwa selama dua puluh empat jam ini bermain ponsel?” ucap Zack membuka pembicaraan.
Tidak ada satu pun dari pelaku yang tertangkap oleh Zack mengakuinya, jangan tanya bagaimana reaksi Maxime karena pria itu bahkan tidak bersembunyi untuk bermain ponselnya. Ia benar-benar melakukannya secara terang-terangan.
“Apa benar-benar tidak ada yang ingin mengaku?” tanya Zack lagi sembari memainkan ponselnya mencari bukti.
“Sylva, Zaneth, Miller dan...” ucapnya terhenti, Zack hanya melirik ke arah Maxime namun tak menyebut nama pria itu karena mereka semua sudah tahu jika Maxime bermain ponselnya setiap saat.
“Aku? Aku bahkan tak memegang ponselku seharian ini” bantah Sylva.
Zack dan Miller mencibir tak percaya mendengar hal itu “Aku memiliki buktinya” ucap Zack sembari memperlihatkan foto-foto di waktu yang berbeda yang di dapatkannya dari suami tercinta Sylva, yaitu Miller.
Namun tak berhenti di situ, untuk Zaneth ia hanya memergoki Zaneth bermain ponselnya sebanyak dua kali tadi pagi sebelum pergi bersepeda lalu tadi siang saat akan kembali ke vila. Maxime? Tanpa bukti pun semua orang percaya itu. Jika kalian bertanya Miller tentu saja sama seperti yang di lakukannya pada Sylva, istri tercintanya itu pun mengirimkan bukti-bukti foto pria itu bermain ponsel.
Dari semua bukti yang terkumpul baik itu yang ditemukan oleh Zack maupun kiriman dari yang lainnya bukti terbanyak terarah pada Sylva, wanita itu benar-benar selalu bersama ponselnya bahkan ia bersekongkol bersama Miller untuk tetap bermain ponsel tanpa perlu mengikuti taruhan itu. Dan benar saja Miller suaminya tercinta itu mengkhianatinya bahkan keduanya kompak saling mengirim gambar ke Zack.
“Itu tidak benar? Kenapa hanya aku, Miller juga selalu pada ponselnya bukankah Maxime juga selalu pada ponselnya?” protes Sylva.
Zack mengangguk paham sedangkan Maxime mengerutkan keningnya tak suka “Itu benar tapi Maxime seharian ini tidak bersama ponselnya berbeda denganmu”
Sylva tetap tak terima “Itu lihatlah dia bahkan bermain ponsel saat ini”
__ADS_1
“Waktu taruhan sudah berakhir dan tidak masalah untuk bermain ponsel sekarang” ucap Miller membantu Zack menjelaskan.
“Itu tidak adil. Kita kan seri karena setiap tim ada dua orang yang bermain ponsel” protesnya lagi sedangkan ketiga wanita lainnya hanya mengangguk setuju.
Di tengah perdebatan itu tersangka yang paling sering bermain ponselnya hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada ponselnya, ia benar-benar hanya peduli ada dunianya saja.
Miller menghela nafasnya kasar, bagaimana pun taruhan ini harus ia menangkan karena malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan.
“Kau harus sportif, honey” ucapnya
Sylva menatap sinis suaminya itu “Aku bermain adil---“ ucapnya terpotong.
“Kalau begitu terima saja fakta kalau pihak kami menang” ucap Maxime akhirnya bersuara.
Sylva kembali menghela nafasnya untuk ke sekian kalinya “I’m So Sorry, Guys” ucapnya lirih.
“Hah, baiklah” ucap Zack sembari bangkit dari duduknya lalu perlahan melangkah pergi “Nikmatilah malam indahnya, aku akan menyetel lagu dengan keras di kamarku jadi selamat bersenang-senang”
Zevana mengeluarkan pakaian tidurnya dan segera membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Saat ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi tersebut, ia disuguhkan dengan pemandangan perut kotak-kotak Max yang tengah duduk bersandar di tempat tidur tanpa atasan dan hanya mengenakan boxer.
Entah apa yang terjadi dengan pria itu malam ini tapi harus ia akui bahwa perut itu sangat hot dan menggoda.
Tak ingin berlama-lama menatap tubuh Maxime apalagi sampai ketahuan dengan cepat Zevana beranjak dari tempatnya menuju tasnya (khusus) untuk menaruh kembali baju kotornya.
Zevana melangkah menuju tempat tidur dan menyelinap ke bawah selimut dan mengambil posisi untuk bersiap-siap tidur, namun matanya yang sudah ia usahakan untuk tertidur itu kembali terbuka saat mendengar suara Maxime.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya.
Zevana membalik tubuhnya menghadap Max “Tentu saja akan tidur, kau perlu sesuatu?” ucap Zevana balik bertanya.
Maxime memiringkan kepalanya sembari menampakkan seringainya “Kau baru saja kalah taruhan, bukankah kau berhutang sesuatu padaku?”
__ADS_1
Zevana menatap kaget Maxime, apa yang sebenarnya sedang pria di hadapannya ini pikirkan. Menganggap jika Maxime hanya bercanda Zevana pun berusaha untuk menampilkan tawa palsunya namun saat tidak mendapat tanggapan yang sama Zevana pun kembali menjadi serius.
“K-kau serius?” tanya Zevana memastikan pikirannya
“Ya, sudah tiga hari sejak terakhir kali aku melakukan sex dan karena kau kalah taruhan kau harus bermain denganku” ucapnya dengan sangat teramat tenang.
“I-ini tidak ada dalam perjanjian” tolak Zevana.
Maxime mengerutkan keningnya “Kita tidak perlu perjanjian untuk melakukan sex, sayang” ucapnya yang entah kenapa terdengar mengerikan di telinga Zevana.
“Tidak, kumohon. Bukankah kau tidak peduli dengan taruhan ini? Lalu kenapa tiba-tiba jadi tertarik seperti ini” protesnya.
“Karena aku butuh ‘itu’”
“Aku tidak peduli kebutuhanmu, aku tetap tidak ingin melakukannya dan kau tidak berhak memaksaku” ucap Zevana.
“Why Not? Kau tunanganku sekarang bahkan jika kukatakan pada yang lainnya jika ingin berhubungan denganmu namun kau menolaknya, maka kau yang akan di anggap aneh sayang”
“Aku sedang datang bulan” ucap Zevana cepat.
“Berhenti mencari alasan”
“Aku serius, percayalah. M-mari tidur saja malam ini, aku sudah sangat lelah belum lagi perutku terasa sangat sakit karena datang bulan” ucap Zevana berakting seakan benar-benar keram perut.
“Jangan menipuku sebelumnya kau baik-baik saja”
Zevana menghela nafasnya “Ini tidak baik untuk kita berdua jadi kumohon mari tidur saja”
Maxime menatap Zevana tak suka, ia bahkan belum bergerak atau berada di atas perempuan itu namun reaksi yang didapatnya sangat-sangat berlebihan dan membuatnya semakin jengkel. Niat awalnya hanya ingin menggoda Zevana namun melihat reaksi berlebihan Zevana membuatnya menjadi benar-benar ingin melakukan hubungan intim dengannya.
Maxime bergerak dengan Zevana yang berada di bawahnya namun dengan cepat dan cukup keras Zevana berteriak di hadapannya “B-berhenti, mari buat kesepakatan!”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...