Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.22 Karena Kesalahan Kecil


__ADS_3

Zevana terlonjak kaget saat mendengar teriakan yang menggelegar itu, awalnya ia pikir itu hanya ilusi namun segera ia tepis karena itu terasa sangat nyata. Ia mengintip sedikit melalui jendela ruangan atasannya itu namun tak terlihat begitu jelas hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali berdiri dan mengetuk pintu ruangan atasannya itu.


Tak kunjung mendapat sahutan dari dalam sana Zevana pun memutuskan untuk masuk dengan sendirinya “Permisi pak, saya masuk” ucapnya.


Zevana masuk dan menutup pintu ruangan itu kembali bahkan ia belum bergerak dari sana namun ia dapat merasakan betapa tajamnya tatapan yang diarahkan atasannya itu padanya.


“Anda memanggil saya, pak?” tanya Zevana


Ia sangat ingin tahu ada keperluan apa sebenarnya pria di hadapannya ini sampai berteriak seperti itu karena ini tak pernah terjadi sebelumnya. Interkom, dia bisa menggunakan interkom jika memerlukan sesuatu bukan berteriak membuat keributan seperti ini. Jika seperti ini kesannya seakan ia telah membuat kesalahan besar.


“APA KAU TIDAK BISA MELAKUKAN SESUATU DENGAN BENAR? ATAU KAU SENGAJA MELAKUKANNYA KARENA SENGAJA?!” ucap Maxime berteriak.


Zevana tersentak kaget ia berdiri tak jauh dari pria itu kenapa tetap harus berteriak membuat kupingnya sakit saja. Ia hanya bisa menghela nafasnya kasar ia bahkan tak tau kesalahan apa lagi yang sudah ia lakukan sampai-sampai pria itu jadi berteriak marah padanya.

__ADS_1


“Bukankah aku sudah katakan jika di pagi hari kopiku cukup dengan dua butir gula dan satu sendok krim. Apa Emma tak mengajarimu dengan benar? Apa yang sebenarnya kau inginkan?!” tanya Maxime yang masih mencoba menahan amarahnya.


Zevana diam terperangah “Saya membuatnya seperti biasa tidak menambahkan atau mengurangi sesuatu” ucap Zevana sembari mengingat-ingat.


“Lalu maksudmu aku yang menambahkan gula dan krim di kopiku?” tanyanya sinis.


Bola mata Zevana membulat sempurna namun detik berikutnya ia kembali bersikap seperti biasa karena kini ingatannya benar-benar sudah terkumpul ia tidak menambahkan gula di dalam kopi tersebut dan hanya memasukkan tiga sendok krim kental manis di dalamnya.


Dia benar-benar bodoh bahkan kini ia tak berhak untuk melampiaskan amarahnya pada Maxime tapi tetap saja semua bisa dibicarakan dengan tenang tanpa harus berteriak seolah secangkir kopi itu masalah yang sangat besar sampai harus bertegang urat seperti ini.


“Mari kita luruskan satu hal statusmu memang sebagai tunanganku tapi di kantor kau hanyalah SEKRETARIS PRIBADIKU! Hanya karena kita akan menikah jangan pikir kau akan mendapatkan perlakukan khusus, karena kau sama sekali tak istimewa”


Maxime mengatakan hal itu sembari bangkit dari kursinya dan kini berada tepat di depan Zevana maju selangkah lagi saja maka jarak di antara mereka akan ter hapuskan.

__ADS_1


Berbeda dengan Maxime yang mengatakan hal itu dengan santai, Zevana yang menerima ucapannya wajahnya memerah padam dan amarahnya kini sudah memuncak karena Maxime menganggap remeh dirinya.


Setiap manusia pasti membuat kesalahan apa pun itu karena tidak ada manusia yang sempurna bahkan sebelumnya ia melakukan semuanya dengan baik hanya saja hari ini mungkin ia kurang beruntung sampai melakukan kesalahan kecil seperti ini.


Namun semakin dibiarkan ucapan pria di hadapannya ini semakin menjadi dan tak sedap untuk di dengar “Saya tidak pernah meminta perlakuan khusus bahkan saya tak menginginkannya” ucapnya masih mencoba tenang.


“Percayalah saat saya mengatakan akan menikah dengan Anda, saya tidak punya pemikiran sedikit pun tentang perlakuan khusus apa pun itu bahkan saya tak menginginkan sesuatu dari Anda!” ucap Zevana berhasil menahan emosinya yang hampir meledak


“Maaf untuk kesalahan yang saya buat untuk kopi Anda, saya akan segera menggantinya” ucap Zevana dengan cepat meraih ganggang pintu tersebut, keluar dari sana dan menutup kembali pintunya dengan sedikit keras.


Zevana segera membuat kembali morning kopi untuk atasannya itu dan kali ini ia memastikan semuanya sesuai dengan selera pria itu. Setelahnya ia pun membawa secangkir kopi kembali ke ruangan atasannya dan di sana tidak ada tukar pandangan atau percakapan pribadi bahkan percakapan singkat pun tidak ada.


Ia menaruh kopi itu di atas meja kerja atasannya kemudian keluar dari sana tanpa mengatakan sepatah kata pun dan kembali mendudukkan tubuhnya si atas kursi empuk miliknya, jujur saja hatinya sangat tidak tenang saat ini.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2