
Masih berada di bawah guyuran air hangat Zevana melirik ke arah jari-jari tangannya yang kini sudah mengeriput karena terlalu lama terkena air, sekali lagi ia kembali menggosok kuat setiap celah tubuhnya terlebih bagian-bagian tubuh yang disentuh oleh pria asing tadi.
Air mata yang tadinya mengering kembali membasahi wajahnya. Ia masih bisa merasakan tangan pria itu menggerayangi tubuhnya, perasaan sebuah tangannya menjalar di tubuhnya dan dadanya masih terasa nyata. Ia benar-benar merasa sangat jijik
Air hangat yang keluar dari shower kini terasa dingin di tubuhnya dan jari-jarinya sudah sangat keriput, Zevana mengakhiri mandinya dan berjalan menuju lemari mengenakan pakaiannya sepasang sweater kebesaran dengan jogger senada berwarna abu-abu.
Zevana berjalan menuju meja rias berniat untuk menyisir rambutnya namun saat melihat pantulan wajahnya di cermin kepanikan kembali menyerangnya saat ia tak sengaja melihat sebuah tanda merah keunguan di lehernya. Ia kembali dapat merasakan dengan jelas tangan pria itu seolah masih ada di tubuhnya berjalan mulai dari wajah ke leher hingga dadanya.
Dengan tergesa-gesa dan air mata yang terus mengalir Zevana terus menggosok kuat lehernya “Tidak... J-jangan lakukan ini... Tidak kumohon” gumamnya tak henti-hentinya.
“Hey, ada apa? Berhentilah Zee” ucap Maxime yang baru saja masuk dan sudah melihat Zevana menggosok lehernya dengan kuat dan menangis histeris.
__ADS_1
“D-dia... dia meninggalkan bekas, tidak ini tidak benar, d-dia tak boleh seperti ini. Aku... Aku tidak...” ucap Zevana bergumam tak jelas dan menatap Maxime bayang-bayang karena air mata yang memupuk di matanya.
Ia menunjukkan bekas yang ia maksud pada Maxime lalu kembali menggosok lehernya berharap tanda itu hilang, di detik berikutnya Maxime menarik tangannya dan menahannya agar tak lagi menggosok lehernya tapi Zevana tetap menangis histeris.
Maxime menuntunnya untuk duduk di kasur bahkan ia menyandarkan Zevana di kepala ranjang dan menyelimutinya sedangkan Zevana hanya mengikutinya “Semuanya akan baik-baik saja, tunggu sebentar” ucapnya lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
Tak lama setelahnya Maxime keluar dari kamar mandi dengan sebuah handuk kecil, ia naik ke sisi ranjang dan duduk di samping Zevana sembari menempatkan handuk yang di basahi air hangat itu di bekas kemerahan itu.
Maxime setia berada di samping Zevana menunggu wanitanya itu hingga tenang, saat tidak melihat Zevana menangis lagi Maxime menjauhkan handuk kecil itu dari leher Zevana.
“Sekarang tidurlah sepertinya kau lelah” ucap Maxime dan di angguki oleh Zevana “Sebentar” ucapnya lagi lalu kembali berjalan menuju kamar mandi meletakkan handuk kecil itu.
__ADS_1
Ketika ia keluar dari kamar mandi ia menatap Zevana yang masih duduk bersandar kemudian berjalan mendekatinya “Aku akan membantumu” ucap Max lembut.
Zevana hanya mengikuti semua yang dikatakan Max tanpa membantah sedikit pun, Max menarik selimutnya hingga batas dada. Setelah selesai Maxime turun dari kasur berniat untuk pergi namun di detik yang sama Zevana menangkap jari telunjuknya menahannya dan Max yang merasakan itu berpaling menatap Zevana penuh tanda tanya.
“Bisakah kau temani aku tidur?” tanya Zevana dengan nada memohon.
Ia benar-benar tidak ingin sendirian saat ini dan Maxime tanpa mengatakan apa pun berjalan ke sisi lain tempat tidur dan merebahkan dirinya di bawah selimut yang sama seperti biasa hanya saja kini tanpa pembatas.
Ia terlalu takut untuk sendiri saat ini. Ia takut jika pria asing itu kembali dan melakukan sesuatu yang lebih buruk daripada yang sebelumnya, Zevana mendekatkan tubuhnya ke hadapan Maxime namun masih ada jarak di antara mereka. Ia berharap bahwa Max menyadari maksud dirinya dan untung saja pria itu benar-benar mengerti dan menarik tubuhnya mendekat, kini pria itu mendekapnya dalam pelukannya. Hangat dan nyaman, Zevana sangat berterima kasih karena saat ini Max mengerti keadaannya dan bahkan memberikannya kenyamanan.
Zevana belum pernah melihat atau merasakan sisi Maxime yang seperti ini dan ia sangat menyukainya, Max memberikan kehangatan, keamanan dan kenyamanan padanya. Maxime sangat perhatian dan manis, ia tersenyum tipis saat memikirkan sisi baru prianya itu, Zevana perlahan mulai terlelap dalam pelukan Max karena merasakan kenyamanan yang sangat ia butuh kan saat ini.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...