
Kini Zevana sudah berganti pakaian dan memakai bikininya ia keluar dari kamar mandi untuk menemui Max, ia disuguhkan pemandangan indah yaitu otot perut Max itu sungguh menakjubkan sampai selalu membuat yang melihatnya kagum. Prianya itu terlihat tengah bersandar di kepala ranjang hanya menggunakan celana renang tanpa atasan dan bermain ponselnya.
Meski dilihat berkali-kali pun otot-otot perutnya itu tetap sangat menarik dan tentunya menggoda “Sampai kapan kau akan menatapnya? Ingin coba menyentuhnya, sayang?” ucap Max yang menyadari tatapannya yang sangat mengganggu itu.
“Aku tak bisa untuk tidak menatapnya karena kau tidak menggunakan baju, ya mau tidak mau aku terpaksa menatapnya” ucapnya mencari alasan.
Zevana berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan menarik lengan Max “Ayo kita pergi sekarang”
Zevana tak melepaskan gandengannya dari Max “Ayo duduk di sana dulu” ucapnya sembari menunjuk kursi santai.
Max tak menjawab hanya diam mengikuti ke mana wanitanya itu akan membawanya, Zevana langsung berbaring di sana sedangkan Max hanya berdiri tegak di samping wanitanya itu.
“Kau kesini bukan untuk tidurkan?” ucap Max memasang wajah curiga.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja tidak” ucap Zevana tertawa pelan “Sebentar lagi, mataharinya terlalu terik” jelasnya.
Bukannya mengambil kursi di sampingnya Max memilih duduk di tepi kursi Zevana dengan terpaksa Zevana harus menggeser tubuhnya dan berbaring miring.
“Sepi sekali di sini” celetuk Zee karena pandangan matanya sedari tadi hanya menangkap 3-4 orang yang tengah bermain di pantai tersebut.
Max mengikuti arah pandang Zee “Mungkin mereka masih tidur atau hanya berenang di belakang kamar mereka saja” ucapnya.
Zevana terlihat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban “Apa kau ingin pindah saja?” tanya Max lagi dan kali ini Zee menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
“Ayo kita bermain di tepi” ucap Zevana bangkit dari rebahannya.
Zevana berjalan mendahului Max angin sepoi-sepoi menerpanya dengan matahari terik yang sedikit menyilaukan pandangannya bersamaan dengan air dingin yang menyentuh kakinya. Ia merasakan sebuah siraman besar di sisi wajahnya dengan kaget ia menoleh ke samping dan hanya melihat Max di sana, sangat tidak lucu jika ombak berada di sebelah kiri dan setinggi itu sampai dapat menghantam wajahnya.
“Apa kau baru saja menyiram wajahku?” tanya Zee tak percaya dengan sikap kekanak-kanakan Max itu.
__ADS_1
Max dengan santai menjawab sembari menaikkan kedua bahunya “Bisa jadi itu aku dan bisa jadi tidak” ucapnya.
“K-kau-“ baru saja Zevana hendak mengatakan sesuatu Max kembali memercikkan air ke bagian depan wajahnya dan pertempuran air pun dimulai.
Berawal hanya di wajah kini hampir seluruh tubuhnya basah karena mereka saling siram tanpa melihat-lihat lagi karena sibuk menutupi wajah dari percikan air tersebut, terengah-engah karena kesulitan menyeimbangkan tubuh dari angin sepoi-sepoi itu membuat Zevana melangkah mundur keluar dari sana.
“Oke oke, kau menang” ucapnya sembari mengangkat tangannya tanda menyerah.
Maxime menganggukkan kepalanya menatap Zevana “Ya, kurasa kita sudah cukup basah” ucapnya.
Zevana menganggukkan kepalanya sebelum ia melangkahkan kakinya kembali ke kursi santainya tadi sembari mengelap tubuh basahnya dengan handuk yang sebelumnya sempat mereka bawa dari kamar mereka.
“Ingin memesan sesuatu?” tanya Max
“Tidak perlu, aku pikir aku akan segera tertidur” ucapnya.
“Kau mau tidur di sini?” tanya Max lagi sembari menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Zevana melirik ke sekitarnya dan agak jauh beberapa meter dari tempat mereka sekarang matanya tak sengaja menangkap sepasang kekasih sedang bercumbu di kursi santai dan tanpa ia sadari ia justru menyuarakan isi hatinya.
“Oh shit! Mereka sangat gila” ucapnya kaget.
Maxime yang mendengar seruan itu menatap Zevana karena yang di tatap sedang teralihkan oleh sesuatu, ia pun mengikuti arah pandangan wanitanya itu dan seketika ia menyeringai saat mengetahui apa yang dilihat wanitanya itu sampai kaget seperti itu.
“Kau membuat mereka tidak nyaman dengan tatapan itu” bisik Max tepat ditelinga Zevana.
Zevana menoleh ke arah Max dan wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci saja dengan spontan ia bergeser menjauhkan wajahnya dari sana “S-salah mereka berbuat di tempat terbuka seperti ini” ucapnya.
“Wah, itu bulan madu yang menyenangkan” ucap Max sembari melirik ke arah pasangan mesum itu sebentar lalu beralih padanya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kau tau mereka itu pasangan yang sedang berbulan madu?” tanya Zee penasaran, itu benar atau tidak.
“Ingin melakukannya juga, sayang?” goda Max yang justru dipelototi oleh Zevana.
“Aku tidak memiliki kelainan seksual sampai harus melakukannya di tempat terbuka seperti ini” ucap Zee
“OKE!” seru Max sembari berdiri
Zevana menatap Max dengan kening yang mengerut dan di detik berikutnya Max mulai meletakkan lengannya satu di belakang pundaknya dan satu di bagian belakang lututnya dan dengan sangat mudahnya pria itu sudah menggendong tubuhnya.
“Ayo lakukan itu di kamar kita saja, sayang” goda Max lagi
Seketika Zevana langsung berontak minta di turunkan dan Max tak menurunkannya begitu saja dan ia juga tidak serius tentang ajakan sex tersebut ia hanya ingin menggoda wanitanya itu saja.
“Max, turunkan aku” ucapnya saat Max membawa tubuhnya beranjak dari sana.
Setelah menjauh beberapa langkah dari sana Max kembali membawa tubuh Zevana ke kursi mereka. Zevana menatap Max yang sekarang sedang berbaring sembari menutup matanya di kursi sebelahnya di saat seperti ini ia merasa seperti pasangan nyata.
Bukankah kebanyakan pasangan nyata melakukan hal ini? Bulan madu bersama, pergi ke pantai bersama, tertawa dalam pelukannya serta memperlakukan dirimu dengan baik.
Di saat seperti ini ia sangat berharap bahwa ini hubungan nyata tanpa perjanjian apapun dan perpisahan, apa ia boleh serakah dengan mengharapkan semua itu?
Jujur saja sejak beberapa hari sebelum mereka melakukan pernikahan Max menjadi orang yang hangat dan baik untuknya mungkin lebih tepatnya sejak kejadian di Vila terakhir kali itu, entah itu rasa iba atau ketulusan tapi ia harap ini bisa berjalan lebih lama.
Setelah mengenalnya lebih jauh Max sebenarnya orang yang baik, lucu dan hebat. Dia tidak hanya membuatnya tertawa tapi karena suatu alasan setiap pagi ia bangun pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tersenyum Max.
Ia pikir ia mungkin jatuh cinta pada pria itu.
Tapi ia tidak berpikir bisa melakukan itu karena kesepakatan yang mereka miliki, berpisah setelah satu tahun bersama dan ia juga tidak berpikir bahwa Max akan menyukainya untuk alasan apapun itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...