
Zevana memaksakan diri untuk membuka matanya yang masih sangat berat itu, ia belum ingin bangun dari tidurnya tapi sentuhan di wajahnya itu sangat mengganggu tidurnya bahkan beberapa kali ia mencoba menghentikan sentuhan itu dengan melenguh bahkan bergerak namun itu tak menghentikannya dan dengan terpaksa ia harus membuka matanya.
Secara perlahan ia membuka matanya dan saat itu terbuka ia dapat melihat dengan jelas wajah Maxime karena pria itu berada sangat dekat dengannya.
“Good morning” bisiknya menyembunyikan setengah wajahnya di balik selimut
Tanpa berkata apapun Max mengikis jarak di antara mereka lalu menarik selimut yang menutupi wajahnya itu dan mengecup singkat bibirnya.
"Selamat pagi juga” jawabnya.
Maxime menyeringai saat melihat wajah kaget Zevana lalu ia menjauhkan selimut dari tubuhnya “Bangun, aku akan siapkan sarapan. Kau bersiaplah” ujar Max.
“Hem? Tidak bisakah aku libur hari ini, aku punya janji dengan ibuku” pinta Zevana.
Maxime menganggukkan kepalanya “Ya, aku tau karena itu cepatlah bersiap-siap. Bukankah kau bilang ibumu akan menjemputmu lebih awal” ucapnya.
Zevana menganggukkan kepalanya lalu melihat ke sekeliling dan benar saja ia berada di kamar Max setelah kejadian tadi subuh Max mengajaknya kembali tidur bersama, ia bangkit dan pergi keluar dari kamar Max dan saat di ambang pintu ia membalikkan badannya untuk berbicara.
“Aku ingin jus mangga pagi ini, oke?” ucapnya sembari mengedipkan matanya lalu berlari ke kamarnya, karena ia tau jika Max yang menyiapkan sarapan maka minumannya adalah susu jika tidak pasti hanya segelas air putih saja.
Zevana kini membersihkan tubuhnya dan bersiap sedangkan Max tengah berada di dapur untuk menyiapkan tiga potong sandwich untuk sarapan mereka pagi ini, ia sengaja menyiapkan tiga potong sandwich karena ia tahu jika wanitanya itu tidak akan kenyang hanya dengan satu potong sandwich.
Setelah selesai bersiap-siap Zevana meraih ponselnya yang ada di nakas sebelah tempat tidurnya dan membukanya untuk melihat apakah ada yang menghubunginya atau pesan penting, ia memiliki beberapa notifikasi email penting dari rekan-rekan perusahaan Max dan beberapa pesan serta tujuh panggilan tak terjawab dari ibunya.
[Mommy] – Apa kau sudah bangun?
[Mommy] – Jika belum bangunlah sekarang juga Zee!!!
[Mommy] – Mama akan tiba 1 jam lagi, bersiaplah jangan membuat mama menunggu.
Zevana terkekeh geli saat membaca pesan dari ibunya itu pesan itu terdengar sangat nyata, karena pesan itu di kirim satu jam yang lalu berarti ia hanya punya dua puluh menit lagi menjelang ibunya datang. Saat asik melihat jam di ponselnya ia seketika teringat Max jika sekarang sudah jam 9.35 berarti pria itu telat ke kantor hampir satu jam lamanya.
“Ah siapa yang peduli, toh dia bosnya” ucapnya santai sembari menaikkan kedua bahunya lalu berjalan keluar kamar menuju dapur untuk menyantap sarapannya.
Ia melihat Max yang memunggunginya, pria itu sepertinya sudah menunggunya sejak tadi “Apa kau menungguku? Bukankah kau sudah sangat terlambat untuk bekerja?” tanyanya.
__ADS_1
“Ya, tidak apa. Duduklah” ujar Max
Zevana mengambil tempat di samping Max sebelum menyantap makanannya ia menoleh ke arah Max dan berbicara.
“Maaf karena aku kau jadi kesiangan” ucapnya basa-basi padahal ia tidak terlalu peduli dengan hal itu dan ia yakin Max juga berpikiran yang sama dengannya.
“Bukan karenamu lagi pula tidak akan jadi masalah untukku meskipun terlambat bahkan jika aku tak ingin masuk pun tak akan jadi masalah” ucap Max.
Zevana menganggukkan kepalanya, itulah yang ia maksud “Tapi meskipun begitu, tidurmu kan jadi terganggu karenaku bahkan kau harus menyiapkan sarapan untukku seperti ini”
Max menatap mata Zevana dan mereka saling menatap satu sama lain tak lama kemudian Max semakin mendekat hingga akhirnya bibir mereka pun bersentuhan, sebelum mereka pergi terlalu jauh Zevana menarik tubuhnya mundur.
Maxime menyeringai “Cukup basa-basinya makan saja sarapanmu” ujarnya menahan tawanya.
Zevana menatapnya dengan mata yang membulat sempurna ternyata pria itu tahu jika ia hanya sekedar basa-basi, ia sangat malu karena rasanya seperti tertangkap saat mencuri.
Setelah selesai sarapan Zevana kembali ke ruang keluarga dan duduk di sana menyelakan televisi untuk mengisi waktu luang selagi menunggu ibunya tiba. Maxime juga melakukan hal yang sama ia mengambil posisi duduk di samping Zevana yang membuat Zee mengernyitkan keningnya menatap bingung ke arahnya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak berangkat kerja?” tanya Zevana.
Maxime melirik sekilas lalu kembali menatap televisi yang tengah menyiarkan berita itu “Aku akan menemanimu hingga mama tiba” ucapnya.
“Ya, siapa yang tau tiba-tiba Steven datang kemari dan melakukan hal buruk itu lagi padamu” ucap Max asal berniat untuk melucu.
Zevana menatap Max menyalang “ITS NOT FUNNY!” ucapnya penuh penekanan.
“I know, sorry” lirihnya
Ia menatap Max tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ternyata pria itu tahu juga caranya meminta maaf pikirnya.
“Lalu apa kau benar-benar tidak ada keinginan apapun tentang persiapan pernikahan ini?” tanya Zee, ia tak mempermasalahkan ucapan Max tadi karena ia tahu pria itu hanya bercanda.
“Em, kau lakukan saja seperti yang kau mau. Asal jangan melakukan hal konyol saja” ucap Max.
Zevana tahu yang di maksud Max konyol itu pun mengangguk paham “Tenang saja, aku tidak mungkin membuat seorang direktur Maxmillions mengenakan pakaian berwarna biru di hari pernikahannya" ucapnya lalu tertawa.
__ADS_1
Maxime yang melihat Zevana cekikikan hanya tersenyum tipis, satu hal lagi yang ia ketahui Zevana adalah wanita yang receh maksudnya gampang tertawa karena hal sepele.
“Kau terlihat cantik jika tertawa seperti itu” ucap Max tanpa ia sadari ia mengungkapkan isi pikirannya.
“Ya?” tanya Zevana berhenti tertawa karena kaget dan memastikan pendengarannya.
*Dingdong* suara bel menyelamatkan Max dari suasana yang entah kenapa mencengkam baginya itu.
“I-itu sepertinya mama” ucap Max yang baru kali ini terlihat gugup di depan Zevana.
Zevana berdiri dari duduknya dan berjalan sedikit tergesa-gesa menuju depan membukakan pintu untuk ibunya itu dan di susul Max di belakangnya karena pria itu juga harus menyambut wanita yang tak lama lagi juga akan menjadi ibunya itu.
Ibunya itu tampak kaget saat melihat Zevana lalu tersenyum saat melirik keduanya “Wah, pagi ini pagi yang indah bukan?” ucap ibunya tiba-tiba.
Max yang mengerti arah pembicaraan calon ibu mertuanya itu pun hanya tersenyum “Dia selalu lupa dengan hal seperti itu, ma” ucapnya merangkul pinggang Zevana.
Zevana tampak bingung, ia melirik ke arah Maxime dan ibunya untuk mencari jawaban dan saat itu juga Max menundukkan kepalanya dan berbisik tepat ditelinganya.
“Cupangmu, kau tidak menutupi mereka” bisik Max membuat Zevana membelalakkan matanya.
“MOM WAIT!!” ucapnya sedikit memekik lalu berlari menuju kamarnya, ia bahkan bisa mendengar suara tawa dari ibunya dan juga Maxime yang ia yakin itu karena tingkahnya.
Zevana kembali dan mulai memperhatikan leher Maxime pria itu juga memilikinya karena ia sangat yakin bahwa ia meninggalkan bekas tadi malam.
“Kau juga harus menutupinya sebelum berangkat pak direktur, jika tidak mungkin kau akan menjadi perbincangan” bisik Zevana pelan.
Max menyeringai dan kembali berbisik “Kau yang seharusnya waspada karena jika mereka melihat tanda ini mereka akan tahu betapa liarnya wanitaku ini” ucapnya.
Zevana mendengus kesal, itu benar jika orang lain melihat bekas itu maka namanya yang akan buruk “Jangan lupa hapus itu sebelum berangkat!” perintahnya.
“Tergantung dengan sikapmu” ucap Max menyeringai.
Zevana menghela nafas panjang lalu berjingkat agar bibirnya dapat menyentuh bibir Maxime, ia hanya berniat untuk mengecupnya singkat namun Max tak membiarkan itu dan menahan tubuhnya dan dari kecupan itu menjadi *******.
“Hey, cukup! Ayo berangkat” ucap Emily, ibu Zevana.
__ADS_1
Mereka melupakan tentang ibunya yang tadinya ada di kamar Zevana menggunakan kamar mandinya, dengan wajah yang merona Zevana merangkul lengan ibunya. Mereka turun bertiga ke lantai bawah dan sampainya di bawah Maxime membiarkan kedua wanita itu pergi lebih dulu barulah ia menaiki mobilnya yang sudah dikeluarkan oleh petugas dari basemen dan melaju meninggalkan kawasan apartemen itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...