
Seperti biasanya kini mereka berada di dalam mobil dengan keheningan dan ketegangan yang mencengkam di sekitarnya, Zevana melihat ke arah jendela sembari bertopang dagu sesekali bertanya-tanya dalam hatinya kenapa pria yang baru saja resmi menjadi suaminya itu bersikap seperti ini padahal sepanjang harian ini ia selalu tersenyum dan bersikap lembut padanya.
Apakah semua itu juga hanya sandiwara saja? Zevana melirik ke arah Max sebentar lalu kembali dengan pikirannya apakah mungkin Max seperti ini karena mereka tidak melakukan hubungan sex tapi bukankah mereka bisa melakukannya malam ini? Ya itu mungkin saja terjadi karena sejak kejadian malam itu mereka tidak berbicara untuk urusan pribadi mereka.
Terakhir kali saat mereka mencoba melakukan hubungan intim itu gagal karena sehari sebelum menggelar pernikahan mereka tinggal di kediaman Abiezer karena mereka dilarang untuk tidur bersama bahkan mereka disuruh untuk tidur dikamar yang berbeda.
Karena mendapat larangan seperti itu Max dengan nafsunya yang besar itu memutuskan untuk menyelinap masuk dari jendela kamarnya, kamar mereka bersebelahan dan memiliki balkon karena itu memudahkan bagi Max untuk menyelinap ke kamarnya dan tentu saja itu sangat berbahaya bagi orang yang tidak memiliki kekuatan dan jarang berolahraga.
Saat itu Zevana tengah berbaring di kasurnya dan melihat-lihat sosial medianya saat mendengar jendelanya diketuk ia sempat takut namun ia bergegas membuka jendela balkonnya saat mengetahui bahwa itu Maxime. Baru saja pintu balkon terbuka pria itu langsung menariknya dan menciuminya dengan sangat tergesa-gesa tangannya yang sudah sibuk membuka pakaiannya, kini keduanya dipenuhi dengan nafsu.
Zevana mengerang disela cumbuan itu, Max melepaskan ciumannya dan berjalan menuju pintu kamar lalu menguncinya. Ia kembali mendekati Zevana dan menarik wanitanya itu ke atas tempat tidur.
Zevana menahan teriakannya saat jatuh di atas tempat tidur dengan cepat kini Max sudah berada di atasnya mengunci pergerakannya dan mulai bermain di bagian leher mulusnya itu. Ia membantu Max untuk membuka bajunya Max mengangkat kepalanya dari ceruk leher Zevana dan membuka pakaiannya lalu ia mulai bermain dengan bagian payudara Zevana.
Zevana sudah hampir memasuki batas “Max, please sudahi ini” ucapnya agar Maxime langsung melakukan permainan inti saja.
Pria itu menyeringai di atasnya penuh kemenangan langsung saja Maxime membuka celananya hingga ****** ******** dan menempatkan miliknya tepat di depan milik Zevana namun baru saja ujungnya masuk kegiatan mereka terhenti karena ketukan keras dari arah pintu kamar tersebut.
__ADS_1
“Nak, kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci, apa kau baik-baik saja?” tanya nyonya Abiezer, Jessica.
Keduanya saling berpandangan kebingungan dan keduanya kembali tersentak saat mendengar lagi suara panggilan dan ketukan dari luar sana.
“I-iya ma bentar, aku lagi ganti baju” ucap Zevana sedikit berteriak.
“Bisa buka pintu ini sebentar? Ada yang perlu kukatakan” ucap calon ibu mertuanya itu
Zevana mendorong tubuh Max sekuat tenaganya dan Maxime yang mengerti situasi ini pun dengan cepat turun dari tempat tidur memunguti pakaiannya lalu Zevana mengarahkannya menuju balkon.
“T-tunggulah di sana, pakai pakaianmu dulu” ucap Zevana saat memperhatikan tubuh telanjang Maxime itu.
“Bukankah baru saja berganti pakaian, kenapa berkeringat seperti itu?” tanya ibu mertuanya itu menyelidik, ia seperti mencurigai sesuatu.
Zevana dengan cepat mengelap keringatnya itu “T-tadi habis olahraga karena berkeringat dan kebetulan mendengar ada yang datang tadi langsung ganti pakaian” bohongnya.
“Olahraga?” tanya nyonya Abiezer lagi menatapnya tak percaya.
__ADS_1
Zevana tertawa dengan canggung “Ya, olahraga” ucapnya.
Calon ibu mertuanya itu menatapnya dengan ragu sebelum akhirnya ia mulai berjalan di sekitar ruangan, ia memeriksa lemari, kamar mandi, di bawah tempat tidur, dan balkon. Hati Zevana terasa akan berhenti ketika ia memeriksa balkon tetapi untungnya ia berbalik ke arah Zevana dengan mata menyipit dan berdehem untuk menutupi prasangkanya.
“Turunlah, makan malam sudah siap. Kami akan menunggumu bersihkan saja dulu tubuhmu” ucap Jessica tersenyum singkat lalu keluar dari kamar Zevana.
Saat pintu kamarnya ditutup oleh ibu mertuanya itu ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menghela nafasnya lega, ia segera bangkit saat mengingat bahwa Max berada di balkon namun saat pintu balkon itu terbuka ia tak melihat kehadiran Max di sana.
Ia menghela nafasnya kasar entah kenapa ia menjadi sedikit kecewa karena Max sudah pergi dan kegiatan mereka terhenti begitu saja.
Lamunannya buyar saat mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah hotel mewah, ia keluar dari mobil tersebut dan berjalan masuk dengan Max di belakangnya. Pria itu melingkarkan tangannya tepat di pinggang Zevana dan menuntunnya berjalan menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci dan ke lift untuk menuju kamar mereka.
Max membuka pintu dan masuk saat aku mengikutinya, bahkan sebelum ia bisa melihat sekeliling ruangan ia terbanting ke arah pintu dengan tangan yang menahan kuat pinggangnya.
“Apa kau tau betapa sulitnya menahan semua ini bahkan aku harus tidur tanpa memelukmu” ucap Max menghirup ceruk leher Zevana.
Ia dibuat merinding saat merasakan setiap hembusan nafas hangat Maxime di lehernya tanpa mengatakan apa pun lagi Zevana mengangkat kepala Max perlahan dan mendaratkan bibirnya di bibir prianya itu.
__ADS_1
Entah sejak kapan tapi ia lebih suka diperlakukan seperti ini daripada harus berdiam tanpa mengatakan apa pun dengan suasana yang mencengkam satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...