
Di sore hari Zevana dan Maxime kini sedang melakukan perjalanan menuju tempat singgah atau vila milik keluarga Abiezer yang terletak di hutan yang biasanya saat hari libur akan ramai di kunjungi orang-orang untuk berlibur dan satu hal yang terpenting vila mereka tidak untuk di sewakan karena itu hanya untuk keluarga Abiezer saja.
Zevana awalnya sedikit bingung karena sebelumnya mereka mengatakan akan ke pantai tapi kini kenapa mereka harus ke vila yang letaknya di hutan bukannya di pantai, meski sulit dimengerti Zevana tidak mengomentari apapun dan hanya mengikuti ke mana pun mereka akan pergi.
Maxime dan Zevana berada di dalam mobil yang sama dengan Miller dan Sylva, mereka berangkat dengan tiga mobil. Mobil satu diisi dengan mereka, mobil dua diisi dengan kakak dan kakak ipar Maxime dan mobil ketiga diisi dengan orang tua keduanya.
Sepanjang perjalanan kakak beradik itu selalu membicarakan tentang bisnis dan olahraga, Zevana hanya bisa diam di tengah keributan itu dan menatap ke luar jendela menatapi pepohonan yang mereka lalui karena Sylva sudah sejak tadi tertidur di pangkuan suaminya.
Setelah beberapa menit berselang akhirnya mereka pun akan segera tiba “Sayang, ayo bangun! Kita akan segera tiba” ucap Miller membangunkan istrinya itu dengan lembut.
Mobil mereka berhenti di sebuah bangunan besar dan mewah hingga membuat Zevana menganga sempurna, di antara vila-vila yang sebelumnya sudah mereka lewati bangunan yang akan ia tempati dalam beberapa hari ini daripada vila ini lebih cocok di sebut mansion karena ini terlihat sama dengan milik keluarga besar Abiezer, hanya saja ini terlihat sedikit lebih kecil dari yang di kota.
“Astaga, daripada vila ini terlihat seperti mansion” ucap Zevana kagum dan tak percaya dengan matanya.
Miller yang mendengar ucapan Zevana hanya tersenyum menatapnya “Ya, keluarga kami suka hal besar dan ini bukan pertama kalinya orang-orang mengatakan bahwa ini bukan vila tapi mansion”
Zevana tertawa pelan “Mereka sama sepertiku, ini benar-benar seperti istana di tengah hutan” ucap Zevana lalu bergerak menuju bagasi mengikuti Miller dan Maxime yang mengeluarkan barang-barang mereka.
__ADS_1
“Biar aku saja, masuklah” ucap Maxime yang sudah lebih dulu mengambil tas milik Zevana.
Zevana berada di belakang Maxime melangkah masuk dan yang lainnya kini sudah berada di dalam sana, mereka pun mengambil tempat di ruang tamu gabung dengan yang lainnya.
“Aku benar-benar bosan” ucap Sylva sembari menutup mulutnya karena menguap.
Miller menatap istrinya itu tajam “Bagaimana tidak bosan jika sepanjang perjalanan yang kau lakukan hanya tiduran saja” ledeknya.
Ucapan Miller mengundang tawa hingga membuat Sylva tersipu dengan spontan tangannya terulur memukul-mukul pelan lengan suaminya itu karena malu.
“Bagaimana kalo kita buat camilan malam dan bermain truth or dare?” usul Sylva bersemangat.
Lalu dengan berat hati ia pun menyetujuinya karena tak ingin menjadi perusak suasana karena tak ingin ikut “Kau istirahatlah, sayang. Bukannya kau lelah?” ucap Maxime yang ditujukan pada Zevana.
Zevana sedikit tersentak mendengar panggilan ‘sayang’ itu namun ia kembali ingat kalo sekarang ia harus terbiasa dengan panggilan itu mengingat orang-orang di sekitarnya saat ini.
Kakak-kakak iparnya semua menatap ke arahnya setelah mendengar ucapan Maxime dan dengan cepat Zevana menggelengkan kepalanya “Tidak, aku baik-baik saja. Aku juga ingin ikut bermain” ucapnya tersenyum meskipun sebenarnya ia lelah.
__ADS_1
“Ayo kita ke kamar” ucap Maxime mengulurkan tangannya kepada Zevana “Kita akan berkumpul di sini lima belas menit lagi” ucapnya.
Zevana menerima uluran tangan Maxime dan berdiri dari duduknya lalu berjalan berdampingan menuju kamar yang akan mereka tempati. Mereka semua berpencar menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian mereka menjadi piyama.
Maxime dan Zevana kini berada di kamar mereka dan keduanya tengah membongkar tas mereka untuk mengambil pakaiannya.
“Aku suka rumahmu, tapi sungguh vila ini terlihat seperti mansion” ucap Zevana mencoba untuk mencari topik pembicaraan.
“Ya” ucap Maxime menanggapi singkat ucapan Zevana.
Zevana melirik dan terpaku sejenak setelah mendengar tanggapan itu, ia menghela nafasnya pelan lalu berdiri dengan baju tidur ditangannya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya serta mengganti pakaiannya.
Tak lama setelahnya Zevana keluar dengan pakaian yang berbeda dan di atas tempat tidur terlihat Maxime yang juga sudah berganti pakaian tengah memainkan ponselnya sembari menunggu Zevana.
Ia melirik ke arah Zevana yang baru saja keluar dari kamar mandi “Ayo pergi” ucapnya.
Zevana hanya menganggukkan kepalanya lalu meletakkan pakaiannya, keduanya berjalan bersama keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk menyusul yang lainnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...