
Di antara beberapa wanita hamil terlihat seorang pasangan yang sangat menonjol di antara wanita-wanita hamil itu, Zevana menatap lekat wanita-wanita yang tengah mengandung itu dari ukuran perut mereka sepertinya waktu kehamilan mereka berbeda-beda.
Ia memperhatikannya sambil bertanya-tanya pada dirinya apakah ia bisa memiliki anak dan mengandung seperti wanita-wanita di sana. Tidak hanya itu ia bahkan memikirkan apa nantinya ia akan memiliki seseorang yang akan menjaganya dan kandungannya 24jam, seseorang yang membelikannya ice cream di tengah malam, mencarikan segala sesuatu hal yang tak masuk akal dengan alasan semua itu adalah keinginan bayinya.
Zevana melirik sekilas ke arah Maxime yang berada di sampingnya dan tengah sibuk bermain ponsel itu, ia menghela nafasnya kasar ia mungkin tidak akan pernah bisa mengandung bahkan memiliki seseorang yang menjaganya seperti itu karena mungkin saja setelah satu tahun bersama Max dan menjadi janda mungkin tidak akan ada pria yang menginginkannya lagi karena sudah pernah menikah tapi mungkin ada jika orang itu mau menerima ia apa adanya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit mengantre gilirannya pun tiba, ia pun memasuki ruangan yang bertuliskan “Dr. Sharma, Sp.OG (Spesialis Kandungan)” tersebut dengan Max bersamanya dan ia duduk dengan di dampingi Max di sampingnya.
“Saya akan ambil data diri Anda dulu, dokternya sebentar lagi akan tiba” ucap perawat yang ada di hadapan mereka itu
Zevana menganggukkan kepalanya dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh suster tersebut dan tak lama setelah urusan mereka selesai pintu ruangan tersebut kembali terbuka dan menampakkan sosok pria tua berseragam yang akan memeriksanya.
“Kalau begitu saya permisi dulu” ucap perawat itu pada mereka lalu mempersilahkan dokter tersebut duduk di kursinya “Ini dok data dirinya” ucapnya lagi sembari memberi kertas tersebut pada dokter itu.
Perawat itu pamit undur diri dan kini di dalam ruangan tersebut hanya ada dokter tersebut, Zevana dan Maxime “Selamat siang Ms. Afsheen, saya Dr. Sharma yang akan menangani Anda. Um jadi, apa benar Anda ingin melakukan suntik KB?” tanyanya sembari memeriksa kertas yang diberikan suster tadi.
__ADS_1
“Iya, benar dok”
Dokter itu menganggukkan kepalanya mengerti “Um begitu... Sebelumnya maaf, apa Anda tahu efek samping dari penyuntikan KB tersebut?” tanya Dr. Sharma lagi.
Kini giliran Zevana yang menganggukkan kepalanya “Ya, sedikit banyaknya saya sudah coba searching dan menurut saya efek sampingnya tidak begitu serius” jelasnya.
Dokter tersebut mengerutkan keningnya dan hal itu membuat Zevana sedikit bingung, ia melirik ke sampingnya namun pria itu sangat tidak berguna karena ia masih sibuk dengan ponselnya dan bahkan ia tak yakin apa pria itu mendengarkan percakapannya dengan dokter atau tidak.
“Um... Biasa setelah saya mengatakan ini pasien-pasien saya membatalkan niat mereka untuk suntik kb, bukannya saya ingin mencampuri urusan pribadi Anda tapi saya hanya berpikir jika Anda harus tau pasti apa saja efek samping dari suntikan tersebut” ucap dokter itu panjang lebar.
Zevana menatap Dr. Sharma dengan serius, raut wajahnya sudah menunjukkan jika ia sangat penasaran dengan hal itu “Selain yang Anda ketahui, suntik kb juga bisa membuat rambut rontok, stres, mual, berat badan bertambah, osteoporosis, nyeri payudara, bercak merah pada ****** bahkan itu bisa menurunkan hasrat seksual Anda” jelasnya lagi.
Zevana terlihat ragu, ia sangat tidak ingin kehilangan rambutnya. Akan sangat tidak lucu bagi wanita yang masih berada di usia dua puluhan mengalami kebotakan, ia tak ingin itu terjadi. Ia melirik ke arah Max belum memohon agar pria itu mencarikan jalan keluarnya belum sempat ia mengutarakan isi hatinya Max sudah terlebih dahulu berbicara.
“Kalau begitu berikan dia pil terbaik yang Anda miliki” ucapnya dengan nada memerintah kemudian berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Tahu jika pria itu akan segera keluar Zevana pun menahannya “Max... Tapi aku bisa saja lupa untuk meminum pil itu” ucapnya.
Maxime menghela nafasnya kasar “Kau tidak ingin mengalami kerontokan bukan? Jadi pilih saja itu dan pasang pengingat di ponselmu atau biar aku yang mengingatkanmu” ucapnya.
Pria itu berbicara dengan wajah datar dan nada bicara yang dingin bahkan mungkin Dr. Sharma akan menyadari bahwa hubungan mereka tidak dalam keadaan baik. Zevana melepaskan tangannya yang menahan Max tersebut dan kembali berbincang dengan dokter itu dan menyetujui untuk mengonsumsi pil saja.
“Pil ini Anda bisa menebusnya di apotek ini karena hanya apotek mereka yang bekerja sama dengan saya” jelasnya lagi sembari memberikan selembar kertas kecil yang berisikan nama pil yang akan ia konsumsikan nantinya.
Setelah menyelesaikan transaksi mereka pun keluar dari gedung tersebut menuju mobil dan mereka memutuskan untuk pergi makan siang dulu mereka masih memiliki waktu beberapa menit lagi sebelum kembali ke kantor, tetapi sebenarnya semua itu tidak akan menjadi masalah bagi mereka mengingat Maxime adalah pemilik perusahaan tempat mereka bekerja terlambat sedikit tidak akan menyebabkan kerugian untuknya.
Makan siang mereka cukup sunyi, seperti biasanya tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan sesuatu melainkan hanya menyantap makanan mereka dengan tenang. Tanpa menghabiskan banyak waktu di restoran tersebut setelah selesai menyantap makanannya mereka pun bergegas pergi dari sana dan kembali ke perusahaan.
Setibanya di kantor mereka menaiki lift yang sama dan berpencar saat tiba di lantai atas, Max masuk ke dalam ruangannya sedangkan Zevana duduk di kursinya. Zevana sedikit bersantai dengan memutar-mutarkan kursinya sembari menunggu komputernya menyala dan saat itu menyala ia langsung fokus pada pekerjaannya.
Ia mengecek email, membalasnya, meneruskannya dan menyelesaikan semua pekerjaan yang ia miliki meski terkesan terburu-buru namun ia melakukannya dengan sangat teliti. Saat tengah sibuk memperbaiki data ia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya.
__ADS_1
“Zee sayang” sapa seseorang yang sangat ia kenal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...