Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.49 Mimpi Buruk


__ADS_3

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Zee pada Max.


Kini kedua sejoli itu tengah duduk bersebelahan di atas sofa empuk di apartemen itu, yang wanita terlihat tengah sibuk menggonta-ganti siaran televisi sedangkan yang pria seperti biasa selalu sibuk dengan ponselnya.


“Tidak ada” jawab Max singkat.


Zevana memutar bola matanya jengah lalu menghempas kasar tangannya yang tengah menggenggam benda pipih panjang itu ke sampingnya “Jika kau berniat bermain ponsel seharian maka lakukan itu di kamarmu, jangan menggangguku” ucapnya.


Max menatap tajam dirinya “Mengganggu? Sejak kapan aku mengganggumu, aku di sini untuk menemanimu” protesnya tak terima niat baiknya justru di salah artikan.


Ia sangat benar-benar sangat berterima kasih atas niat baik Maxime yang ingin menemaninya tapi ini sudah sejak tadi pagi pria itu terus menempel padanya. Ia juga tahu kalau sikapnya ini kasar tapi sekarang ia baik-baik saja karena ia sudah merasa cukup aman dan lagi pula ia tak ingin menahan seseorang yang bahkan tak menyukainya berada di sisinya terlalu lama.


“Tapi aku benar-benar tidak perlu kau untuk menemaniku, kembali saja ke kamarmu” ucapnya mencoba untuk terdengar tidak peduli.

__ADS_1


“Lalu, kau boleh pergi jika kau ada urusan” bohong, untuk ini ia berbohong. Memang benar ia merasa aman sekarang karena selain berada di apartemen Max yang terkunci itu, tentu saja karena ada Maxime di sampingnya.


Maxime hanya menatapnya sebentar lalu memperbaiki posisi duduknya menjadi posisi ternyaman lalu meletakkan ponselnya di sampingnya.


Zevana menghela nafasnya kasar “Pergilah ke kamarmu, aku ingin menonton film” ujarnya, alasan terbesar ia tak ingin Max di sampingnya adalah tak ingin merepotkan pria itu terlalu banyak.


Semakin di dengarkan dan diamkan justru membuatnya semakin kesal “Terserahku mau berada di mana, ini rumahku. Tidak ada larangan untukku bermain ponsel di mana pun aku mau” ujarnya.


Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya lalu keluar lagi dengan sebuah bantal dan selimut miliknya, sepertinya ia berniat untuk tidur di tengah film. Ia mengatur bantalnya dan berbarik di sana dan ia bahkan bisa merasakan tatapan Max namun ia berusaha untuk tak memperdulikan itu dan tetap pada dunianya sendiri.


Mereka menonton film bergenre romantis komedi, mereka menonton dengan sangat serius dan saat adegan lucu keduanya pun tertawa tapi tidak ada di antara mereka yang memulai obrolan. Mereka menonton dengan tenang dan tanpa sadar Zevana mulai memejamkan matanya, lalu setelah beberapa menit matanya terpejam tidurnya menjadi gelisah.


Saking menikmati film tersebut ia bahkan memimpikan bahwa dialah pemeran utama wanita di film tersebut namun di tengah mimpi indah itu, bagaikan komputer yang eror mimpinya dalam sekejap berganti menjadi mimpi buruk. Ia kembali teringat kejadian di vila bagaimana tangan pria itu menyentuh tubuhnya, ia mencoba mendorong pria itu sekuat tenaganya namun itu membuat mereka berhadapan tanpa jarak sedikit pun dan membuat pria itu lebih mudah menyentuhnya.

__ADS_1


“Zee! Hey! Zee, ada apa?” ucap Max khawatir sembari mengguncang tubuh Zevana “Hey, Zee bangun!” ucapnya berulang-ulang.


Zevana yang mengerutkan keningnya dan saat merasakan tubuhnya terguncang itu, ia mencoba memaksakan untuk membuka matanya. Dan saat ia berhasil mimpi buruknya telah pergi, ia langsung duduk tersentak kaget.


“Hey, ini aku tidak apa” ucap Max dengan lembut.


Dengan nafas yang memburu ia mencoba menatap mata pria di hadapannya itu, benar saja itu Maxime dan ia bernafas lega saat mengetahui bahwa itu hanya mimpi dan dia aman. Max duduk di samping Zee dan langsung membawa tubuh Zevana ke dalam pelukannya dan Zee tanpa pikir panjang langsung membalas pelukan pria itu lebih erat dari yang Max berikan untuknya.


“Hush, tenanglah. Itu hanya mimpi” ucap Max mencoba menenangkannya, ia bahkan baru sadar bahwa ia menangis.


Ia tak menyangka bahwa sekali lagi ia harus melewati masa-masa kelamnya seperti dulu, setelah beberapa menit tangisannya mereda dan ia mengendus sesekali. Tanpa ia sadari, ia kembali tertidur di dalam pelukan Maxime.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2