Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Episode 72


__ADS_3

Semuanya terasa baru lebih tepatnya kini mereka berada di lembaran baru yang masih putih yang akan terisi mulai hari ini tapi catatan itu justru harus ternodai dengan pertengkaran kecil tadi pagi saat di hotel karena pendapat mereka yang berbeda. Mereka berdua mencoba untuk menjadi yang baik kepada satu sama lain meskipun sulit mereka tetap harus berusaha mencobanya.


Saat ini mereka berdua sedang berada di jet pribadi Maxime dengan keheningan dan ketegangan yang mencengkam, mereka lepas landas sekitar dua jam yang lalu dan mereka akan tiba di tempat tujuan dalam kurun waktu sekitar delapan jam lagi.


Mereka duduk saling berhadapan dan sama-sama fokus bermain ponselnya masing-masing setelah beberapa saat Maxime mengesampingkan ponselnya lalu meraih laptopnya menghidupkannya dan mengecek beberapa laporan serta data-data seputar pekerjaannya.


“Permisi Tuan, Nyonya, waktu makan siang hampir sampai. Apa ada hidangan khusus yang perlu kami siapkan?” tanya seorang pramugari yang datang menghampiri mereka.


“Apapun itu tidak masalah untukku” ucap Max menatap pramugari itu sebentar lalu kembali fokus pada laptopnya.


Kurang dari tiga puluh menit kemudian hidangan makan siang mereka pun tiba, ia melihat ke arah Zevana dan hidangan yang mereka pesan sama ternyata wanita itu juga tidak terlalu pilih-pilih tentang makanan pikirnya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka berdua hanya menyantap makanan mereka dalam diam, ia berpikir bahwa Zevana sedang tidak ingin berbicara dengannya saat ini. Bukannya ia tidak mencoba untuk mengajak wanitanya itu berbicara tapi wanita itu mengabaikannya begitu saja saat ia memulai pertanyaan seputar pernikahan dan juga pekerjaan.


Dan untungnya nasib baik masih berpihak kepadanya karena beberapa saat setelah mereka selesai dengan makan siangnya Zevana mulai mengajaknya berbicara.


“Hey, maaf untuk yang tadi pagi. Sepertinya aku terlalu berlebihan dengan topik itu” ucap Zevana tanpa melirik sedikit pun ke arahnya.


“Tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir tentang itu” ucapnya.


Maxime tidak tahu harus berkata apa lagi setidaknya Zevana sudah mulai mengajaknya berbicara itu sudah cukup tak penting apa argumentasinya tentang percakapan tadi pagi dan yang paling terpenting akhirnya kini ia bisa menikmati bulan madunya.


“Apa aku boleh bertanya sesuatu tentang personalmu? Meski kita sudah menikah tapi masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentangmu” ucap Zevana lagi.

__ADS_1


Maxime menganggukkan kepalanya setuju, ia sadar bahwa wanitanya itu sedang berusaha untuk mencari topik pembicaraan “Tentu saja, itu ide yang bagus” ucapnya.


“Um... Apakah kau punya kegiatan olahraga yang kau sukai sebelumnya atau mungkin yang masih kau sukai sampai sekarang?” tanya Zee.


“Aku menyukai sepak bola sejak saat di sekolah menengah aku masuk di klub bola dan saat kuliah aku hanya bermain sesekali tapi sudah sangat jarang saat aku sudah mulai bekerja” ucap Max menjelaskan dan Zevana hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


Zevana terdiam tidak tahu harus bertanya apa lagi karena pertanyaannya baru ini saja hanya berakhir seperti ini dan Maxime pun menyadari hal itu dan balik bertanya tentang personalnya.


“Bagaimana denganmu?” tanyanya


Zevana menatap ke arahnya “Aku? Tidak ada hal spesial di sekolahku karena aku selalu menyendiri” ucapnya sembari menaikkan bahunya seakan berkata ‘ya beginilah aku’


“Menyendiri? Apa kau tidak punya teman dekat seperti sahabat atau berada dalam sebuah kelompok?” tanya Max tak percaya.


Zevana menganggukkan kepalanya mantap “Aku benar-benar tidak punya hal seperti itu, kalau teman tentu aku punya tapi hanya sebatas teman sekelasku bahkan mereka jarang berbicara denganku” ujarnya yang membuat Max mengernyitkan keningnya tak percaya bagaimana mungkin itu bisa terjadi.


“Ah aku sangat penasaran hal ini, bagaimana rasanya hidup dengan para pria dewasa di sekelilingmu?” tanya Zevana tertawa dan mulai mengubah pembicaraan mereka.


Maxime tahu pasti apa penyebab yang membuat Zevana menjadi pribadi yang tertutup dan menyendiri seperti itu, jika melihat Zevana yang sekarang dunia perkuliahan merubah cukup banyak dirinya. Ia juga tahu alasan Zevana dengan cepat mengubah pembicaraan mereka karena pembicaraan itu akan mengarah pada mimpi buruk itu lagi dan Maxime ikut tertawa menanggapi pertanyaan itu.


“Tidak ada ketenangan setiap harinya, mulai dari berkumpul di meja makan untuk sarapan hingga waktu santai sebelum tidur asal berkumpul maka itu akan jadi peperangan” ucap Max tertawa pelan mengingat kenangan masa kecilnya bersama kakak-kakaknya itu.


“Aku juga boleh bertanya bukan, apa warna favoritmu?” tanyanya lagi.

__ADS_1


Zevana memiringkan kepalanya saat menatap Max “Black, peach, lilac. Ternyata kau benar-benar tidak setertarik itu untuk tau tentangku” ucapnya


Max mengernyitkan keningnya bingung “Ini sudah kedua kalinya kau bertanya tentang warna kesukaanku” ucap Zevana sebelum Max mengutarakan pertanyaannya.


Maxime seketika menjadi kelabakan, ia sama sekali tak mengingat hal itu karena dulu ia benar-benar tak setertarik itu pada Zevana sampai harus mengingat apa saja yang pernah mereka bicarakan dulunya.


“Ah maafkan aku, daya ingatku tidak terlalu kuat mungkin ke depannya kau akan sering mendengarku bertanya hal yang sama untuk dua-tiga kalinya” alibinya.


Zevana menahan tawanya “Tidak apa, itu wajar jika kau lupa tentang itu karena itu bukan hal yang terlalu penting untuk diingat” ucapnya dan diakhiri dengan senyuman manisnya.


Sial! Maxime sedikit terperangah saat melihat wanitanya itu tersenyum entah kenapa ia sangat merindukan senyuman tulus dari wanita itu karena ia benar-benar terlihat cantik saat tersenyum manis begitu.


“Apa aku juga sudah pernah mengatakan ini? Tapi kau benar-benar terlihat cantik saat tersenyum” ucap Max jujur.


“Terima kasih” ucapnya tersipu malu.


Maxime berdiri dari duduknya sembari mengulurkan tangannya pada Zevana dan berharap wanita itu menerima uluran tangannya dan selang beberapa detik kemudian dengan raut wajah penuh tanda tanya Zevana pun menerima uluran tangannya dan langsung saja Max menarik sedikit tangannya bertujuan agar Zevana ikut bangkut dari duduknya.


Max membawanya ke ruangan yang di dalamnya terdapat tempat tidur “Aku pikir kita butuh tidur karena perjalanan kita masih cukup lama” ucap Max.


Zevana menghela nafasnya lega “Akhirnya... kau sangat tahu apa yang kuperlukan saat ini” ucapnya lalu melepaskan tangannya dari genggaman Max lalu berlari menuju kasur.


Max hanya tertawa mendengar ucapan wanitanya itu lalu mengikutinya, kini mereka berada di bawah selimut yang sama Maxime menarik tubuh Zevana ke pelukannya.

__ADS_1


Ia mengerang saat merasakan pergerakan melawannya “Berhenti bergerak” gumamnya dan meringkuk lebih dalam ke ceruk leher Zevana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2