
Sekarang jam 11:45 restorannya sekitar tiga puluh lima menit dari kantor jadi kita harus segera pergi, Zevana berdiri dari duduknya dan menatap ke arah Maxime yang terlihat sedang berpikir.
“Oh baiklah, atur saja rapat-rapat penting lebih awal dan kerjakan semuanya semaksimal mungkin tanpa harus membatalkan sesuatu yang penting. Tadi kau bilang kita akan pergi setelah pesta?" tanya Maxime sembari memperbaiki jasnya.
Zevana mulai mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya "Ya, aku rasa nanti semua orang akan langsung membawa pakaian ganti dan pergi setelah pesta selesai” ucapnya
Maxime hanya menganggukkan kepalanya mengerti lalu melirik ke arah jam tangannya dan kembali memasukkan tangannya ke dalam saku celananya sembari menunggu Zevana selesai dengan kegiatannya.
Zevana mematikan komputernya lalu berdiri dari duduknya “Ayo kita pergi sekarang, ke mana kita harus pergi?” Tanya Maxime ingin tahu.
“Fairlie restoran, sekitar tiga puluh lima menit dari sini” ucap Zevana kemudian mereka pun berjalan menuju lobi dan keluar dari perusahaan itu menaiki mobil pribadi Maxime.
Wow! Rasanya ini adalah percakapan terbanyak mereka akhir-akhir ini selain mencakup pekerjaan ini sangat bagus untuk dibahas keduanya. Setelah memandang ke luar jendela selama sekitar tiga puluh menit mereka pun akhirnya sampai di restoran, mereka berdua melangkah keluar dan Maxime memberikan kuncinya pada petugas itu dan mengambil kuponnya.
__ADS_1
Saat mereka mulai berjalan menuju restoran, Zevana merasakan tangan Maxime yang sudah berakhir tepat di pinggangnya. Ia tahu ini hanya protokol jadi ia hanya membiarkan saja tanpa ingin berdebat lebih banyak, ia juga tahu bahwa sekarang ia harus mulai berakting jika ia tidak ingin ada yang terluka.
"Selamat siang Tuan, apakah Anda sudah reservasi sebelumnya tuan?" tanya pelayan restoran tersebut.
Seperti biasa jika itu wanita maka yang dilihatnya hanya ada Maxime tanpa memperdulikan kehadirannya yang juga ada di sana "Reservasi atas nama Maxime Abiezer, tamu kita mungkin sudah ada di sini” ucap Maxime sembari tersenyum tipis ke arah pelayan wanita tersebut.
“Ah benar tuan, tamu Anda baru saja tiba. Mari saya antar ke meja Anda tuan” ucapnya.
Wanita itu mengayunkan pinggulnya saat dia berjalan sepertinya ia sengaja berjalan berlenggok seperti itu hanya untuk mencoba menarik perhatian Maxime. Dan percayalah, pria mesum ini benar-benar memperhatikan pantat wanita tersebut sampai akhirnya mereka tiba di meja mereka.
“Tidak apa Max, aku juga masih menunggu anakku” ucapnya sembari tersenyum ramah.
“Maaf membuat kalian menunggu lama” ucap seseorang dari arah belakang sana namun suara itu terasa tak asing untuk Zevana.
__ADS_1
Zevana mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa pemilik suara yang tak asing di telinganya itu dan ia sukses di buat kaget karena orang yang ia lihat seketika membuatnya jadi gemetar.
Pria itu tepat di hadapannya, dia mengenakan setelan biru tua yang serasi dengan dasi yang serasi dan kemeja putih di dalamnya "Hey Stev, tidak apa-apa kita juga baru saja sampai" ucap Max sambil berdiri menghalangi Zevana dari Steven tapi wanita itu masih bisa melihatnya.
Steven menatap Maxime bingung sembari mengernyitkan keningnya "Kita?"
Zevana tidak pernah berpikir bahwa ia akan mendengar suara itu lagi bahkan bertemu seperti ini, pertemuan ini membawa kembali beberapa emosi lama yang masih terasa kuat.
"Ya, aku kemari bersama tunanganku" ucap Maxime sedikit menyeringai.
“Please, jangan bergerak dari sana” ucap Zevana tal berhenti merapal kan kalimat itu dalam hatinya berharap Maxime mendengarnya.
Zevana tidak ingin pria itu melihatnya di sini, tidak bukan hanya di sini jika bisa ia tak ingin bertemu pria itu di mana pun. Namun sayangnya Maxime bergerak ke arahnya, Steven menatapnya dan Zevana pun hanya bisa menatap pria itu dalam diam, tatapan pria itu terasa sangat mengerikan seperti perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Sayang, kau baik-baik saja?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...