
Sudah setengah harian ia melakukan pekerjaan dan ia sangat menikmatinya dan takjub pada hasil kerjanya yang sangat luar biasa menurutnya. Kini ia bisa sedikit bebas karena waktu makan siang akhirnya tiba, karena tidak membawa bekal Zevana pun memutuskan untuk membeli sesuatu di kantin perusahaan mungkin jika tidak ada yang sesuai seleranya ia akan pergi mencari restoran di dekat sini.
Baru saja ia keluar dari mejanya pintu ruangan di hadapannya itu pun terbuka langkah kakinya pun terhenti dan ia kembali mengingat kejadian memalukan tadi pagi hingga tubuhnya membatu.
Maxime berjalan mendekat ke arah Zevana dengan salah satu tangannya berada di saku celananya “Kau ingin ke mana?” tanya Maxime datar.
Pria itu berhasil menghipnotisnya bahkan kini pandangannya tak berpindah dari wajah tampan pria itu “Ah i-itu, a-anu saya akan mencari makan siang” ucapnya salah tingkah.
Maxime mengernyitkan keningnya “Kau akan pergi tanpaku?” tanyanya
Kini giliran Zevana yang mengernyitkan keningnya “Apa yang sedang pria arogan ini bicarakan? Apa yang harus aku lakukan, mengajakmu bersama? Apa kau pikir aku sudah gila” batinnya.
“Maaf tuan tapi Anda akan makan siang bersama Mr. Richard” jawab Zevana mencoba untuk tetap tersenyum.
“Itu benar lalu kenapa kau ingin pergi sendiri? Jika aku pergi maka kau juga harus pergi bersamaku” ucapnya
“Anda ingin saya ikut bersama?”
“Ya, karena ini makan siang bersama klien” jawabnya tegas
Apa ini? Sejak kapan dia membawa sekretarisnya untuk pergi makan siang bersama? Jelas-jelas saat ia masih di sini bersama Emma pria arogan tidak membawa salah satu dari mereka. Tapi apa yang sedang pria itu rencanakan saat ini? Apa dia berniat untuk menyiksaku seharian ini dengan tidak membiarkanku makan siang?
Maxime tidak menerima bantahan dan mulai memasuki lift “Cepat! Jangan buat klien menunggu lama” ucapnya
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa dan terpaksa Zevana mengikuti perintah atasannya itu dan saat berada di lift ia pun menghubungi sopir pribadi Maxime untuk menyiapkan kendaraan.
Hening, tidak ada sedikit pun dari mereka yang mengeluarkan suara dan itu sangat canggung. Akhirnya suara kebisingan menghampiri indra pendengaran mereka pintu lift terbuka setelah berada dalam kecanggungan dan keheningan yang beberapa menit namun terasa seperti berjam-jam.
Ketika hendak melangkah keluar sebuah tangan melingkar di pinggang Zevana karena kini bosnya itu berdiri di sampingnya sembari merangkulnya. Hampir terlonjak kaget Zevana mendongak ke atas menatap Maxime yang setia dengan wajah datarnya dan menatap lurus ke depan.
WHAT THE HELL! Jika terus seperti ini akan sangat bagus untuk hatiku. Oh no, apa yang salah denganmu Zevana! Zevana menggelengkan kepalanya kemudian kembali pada pikirannya “Jika pria ini bukan Maxime yang arogan itu pasti ia akan menerima semua perlakuannya dengan senang hati” batinnya.
Melihat Maxime yang tak bereaksi karena pandangannya bahkan saat ia mencoba untuk menjauhkan tubuhnya pria itu justru mencengkeram pinggangnya erat, Zevana pun hanya berjalan pasrah membiarkan tangan pria itu merangkulnya.
Begitu masuk ke dalam mobil sebuah kecanggungan mencengkam, tidak ada yang mengeluarkan suara kecuali bunyi mobil dan kebisingan lainnya di luar sana. Zevana pun hanya pasrah dengan kecanggungan ini, ia ingin memecahkan keheningan ini dan bertanya tentang perlakuan Maxime tadi saat keluar lift namun ia tak ingin menambah kecanggungan lainnya jika nanti pria itu menyelamatkannya lagi dari seorang pria bernama Blake itu.
Tapi untungnya letak restoran yang tak terlalu jauh dari perusahaan sehingga membuat ia tidak terlalu lama berada dalam keheningan itu.
Maxime menjawab dengan wajah datarnya namun tak terkesan sangar “Ya, atas nama Maxime Abiezer” ucapnya
Wanita itu tersenyum cerah “Oh, selamat datang Tuan Maxime. Silahkan lewat sini saya akan menunjukkan meja Anda” ucapnya.
Sesampainya di meja terlihat dua orang pria yang sudah menempati meja itu yang merupakan klien Maxime hari ini, Zevana mengetahuinya karena sebelumnya ia sudah di minta oleh Emma untuk mengingat setiap nama dan wajah klien-klien penting perusahaan.
Kedua pria itu mengenakan jas senada berwarna hitam dan untuk pria yang terlihat berusia empat puluhan menggunakan kemeja abu-abu dan pria yang berusia sekitar dua puluhan menggunakan kemeja berwarna putih dan harus ia akui bahwa mereka tak kalah tampan dari atasannya, benar kata orang ketampanan tak pandang usia.
Maxime menarik kursi “Sudah lama menunggu, Tuan?” tanyanya ramah kemudian mengulur tangannya untuk berjabat.
__ADS_1
Ia menyuruh Zevana untuk duduk di kursi yang ia tarikan tadi bukan untuknya tapi untuk Zevana dan kemudian barulah ia menarik kursi untuknya dan duduk tepat di samping Zevana. Perilaku pria itu sangat berbeda saat ini mungkin ia ingin di kenal baik di depan orang lain tapi tetap saja Zevana sangat berterima kasih karena di perlakukan sebaik ini.
“Ini Ms. Afsheen sekretaris pribadiku yang baru” ucap Maxime memperkenalkan Zevana
Kedua pria di hadapan mereka tersenyum “Senang bertemu denganmu Ms. Afsheen” ucap pria yang lebih tua itu.
“Senang bertemu dengan Anda juga, Mr. Richard dan ...” ucap Zevana menggantung ucapannya ia terlihat sedikit berpikir “Yah, Mr. Richard” sambungnya.
Merasa tidak sopan untuk memanggil seseorang yang baru pertama di temui dengan nama depan mereka Zevana pun memutuskan untuk memanggilnya dengan nama belakang. Kenapa keduanya Mr. Richard? Pria tua itu bernama J. Richard dan pria muda itu bernama William Richard.
“Hahaha kau sangat menggemaskan” ucap Mr. Richard muda “Jangan memanggilku Mr. Richard itu membuatku terdengar tua, khusus untuk Ms. Afsheen kau bisa memanggilku William atau Willy” sambungnya.
Zevana tertunduk malu saat William menatap matanya dengan wajah yang tersenyum, pria tampan yang tersenyum Ah itu sangat menyenangkan. Ia mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang di antara mereka berdehem.
“Haruskah kita pesan makanannya?” tawar Maxime pria yang sebelumnya berdehem.
Kami semua segera memesan makanan dan pria di sana mulai berbicara tentang bisnis dan saat makanan datang mereka menghentikan pembicaraan mereka. Semuanya menyantap makanan masing-masing dalam diam dan Zevana saat ia mengangkat wajahnya melihat ke depan ia melihat William yang menatapnya dengan tersenyum membuatnya tersipu.
Zevana dan William di sela-sela makannya terus saling bertatapan entah kenapa pandangan mata mereka selalu bertemu. Dan di detik yang sama saat mereka berpandangan Zevana merasakan hangat di bagian paha kirinya di detik yang sama ia langsung menatap ke bawah dan melihat sebuah tangan kemudian dengan cepat ia pun menatap pemilik tangan tersebut.
WHAT THE FXXK! PRIA INI BENAR-BENAR MESUM!!
...****************...
__ADS_1