
Zevana mengerang saat menyadari jika harinya yang bagai neraka itu kembali di mulai lagi, ia berguling beberapa kali di tempat tidurnya sebelum akhirnya bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi ia keluar dari sana dengan sebuah handuk lembut yang membungkus hampir setengah tubuhnya tanpa membuang banyak waktu lagi Zevana pun duduk di depan meja riasnya menggunakan beberapa perawatan kecantikan dan tubuhnya setelahnya barulah ia bergegas mengenakan pakaian kerjanya.
Ia mengambil tasnya menuju dapur untuk sarapan setelah selesai dengan sarapannya ia mencuci piring dan cangkirnya. Saat ia berbalik setelah menyelesaikan pekerjaannya ia melihat Maxime yang sudah rapi dengan setelan hitamnya, dia juga tengah menunggu kopinya selesai lalu berjalan menuju bar sarapan sembari memainkan ponselnya.
Zevana pikir yang terbaik adalah membiarkannya, jadi ia menuju ke ruang tamu dengan barang-barangnya dan meninjau ulang jadwal Maxime untuk hari ini. Dia tidak terlalu sibuk hari ini, dia hanya memiliki satu pertemuan hari ini yaitu dengan kepala departemen.
“Ayo” ucap Maxime berlalu pergi menuju keluar penthousenya.
Zevana menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya dengan lembut dan berjalan mengikutinya keluar dari penthouse dan masuk ke mobil, seperti biasa.
Mereka mengemudi dalam diam seperti hari-hari biasanya, begitu sampai di kantor masih dalam keadaan diam mereka berjalan menuju ruang kerja mereka. Seperti biasa setelah sampai di meja kerjanya Zevana meletakkan tasnya, merapikan sedikit meja kerjanya kemudian ia beranjak dari tempatnya menuju pantry untuk membuatkan Maxime morning kopi, meskipun sebelumnya sudah di rumah tapi di kantor tetap wajib menyediakan morning kopi.
Ia dengan hati-hati berjalan ke kantornya dan meletakkan kopi di mejanya, duduk dan mengeluarkan buku catatan kecilnya "Kamu akan melakukan hal yang biasa hari ini, beri aku laporan pengeluaran dari dua tahun terakhir"
Zevana menuliskannya di buku catatannya saat dia menatap layar komputernya dan melakukan apa pun yang dia lakukan, entah sudah ke berapa kali ia meminta laporan pengeluaran dan Zevana hanya mengikuti permintaannya tanpa membantah karena ia pikir mungkin saja pria itu benar-benar membutuhkannya jika tidak ia bisa membuangnya.
“Ada yang lain lagi pak?” tanya Zevana akhirnya mulai bersuara.
“Tidak, kau boleh keluar”
Tanpa banyak basa-basi Zevana langsung beranjak menuju mejanya dan langsung menyalakan komputernya untuk mencari pengeluaran dua tahun yang lalu untuk ia cetak seperti keinginan Maxime.
Setelah beberapa menit laporan itu selesai di cetak ia pun kembali berjalan menuju ruangan Maxime “Ini laporan yang Anda minta pak” ucapnya sembari menyodorkan kertas-kertas itu.
Zevana memutuskan untuk meletakkan kertas itu di meja kerja Maxime tak jauh dari jangkauan pria itu karena Maxime sama sekali tak berniat untuk mengambil kertas dari uluran tangannya itu.
__ADS_1
Pria ini sangat tidak sopan, sikap arogannya itu terlalu berlebihan. Seberapa susahnya mengambil kertas ini sebentar bahkan dengan satu tangan juga bisa di raih. Zevana menggelengkan kepalanya sembari berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Belum lama ia duduk di kursi kerjanya interkomnya pun berbunyi, yang sudah bisa dipastikan kalau itu adalah pak bos “Ya pak?”
Zevana meraih buku kecilnya dan siap dengan pulpen di tangannya siapa tahu itu adalah berita penting “Buat reservasi tempat untuk pukul 12.30 siang dan beritahu Tuan Dazzel tempat dan waktunya” ucap Maxime
Belum sempat Zevana menjawab pria itu sudah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, masih ada hal yang perlu ia pertanyakan tentang berapa banyak kursi yang harus ia pesan, bagaimana jika setelah ia reservasi justru kursi yang ia pesan kurang itu akan buruk untuknya dan akan berdampak negatif bagi Maxime.
Ia merasa bosnya itu akan marah jika ia kembali menelepon hanya untuk menanyakan hal itu tetapi jika ia tak melakukannya maka ia tak akan tau berapa banyak kursi yang harus ia pesan bagaimana jika ada lebih banyak orang dan tidak cukup tempat duduk.
Zevana menarik nafasnya dalam lalu menekan tombol interkom yang menghubungkan itu ke ruangan Maxime, saat itu tersambung tanpa membiarkan pria itu bersuara Zevana langsung memulai inti pembicaraannya.
“Pak, maaf tapi untuk berapa orang saya harus mereservasinya pak?” tanyanya to the point.
Ia memejamkan matanya dan menabahkan hatinya untuk menerima beberapa amarah dan hinaan dari pria itu namun setelah beberapa detik ia membuka matanya karena pria itu tak sama sekali melakukan hal yang ia bayangkan.
Setelah melakukan reservasi untuk empat l orang di restoran terdekat, ia langsung menelepon sekretaris Pak Daniel untuk memberi tahunya tentang tempat dan waktu pertemuan dan sekarang setelah itu ia kembali bekerja.
Di meja yang berukuran cukup besar itu terdengar suara helaan nafas berat, Zevana menundukkan kepalanya saat telepon berdering lagi dan itu adalah telepon perusahaan "Selamat pagi Zevana Afsheen, Maxmillions Company. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya dengan nada yang sangat profesional.
Terdengar suara tawa ramah dari seberang sana “Sayang, ini aku Jessica ibu mertuamu” ucap wanita paruh baya itu riang “Aku menghubungimu hanya ingin bertanya bagaimana tentang liburan setelah pertunanganmu? Keluargamu dan kakak-kakak Maxime menyetujui hal itu, sekarang kami hanya perlu keputusanmu?” ucapnya lagi.
“Halo aunty, sorry for that. Tapi untuk itu aku pikir aku perlu menanyakannya terlebih dulu pada Maxime, aku tak yakin untuk memutuskannya sendiri” ucap Zevana ragu.
“Baiklah jangan lupa kabari aku segera ya sayang, dan aku sangat tidak sabar menunggu hari pertunanganmu” ucap calon ibu mertuanya itu dengan gembira.
__ADS_1
Zevana tertawa kecil karena ia dapat mendengar kegembiraan calon ibu mertuanya itu dengan sangat nyata, jika untuk keluarga Maxime ia sangat ingin ikut liburan itu tapi entahlah dengan Maxime karena jika dilihat dari luarnya ia bukan pria yang suka family trip seperti itu dan mungkin ia akan mencari alasan untuk tak melakukannya.
“Aku juga tak sabar menunggu hari itu tiba” ucap Zevana, ia berbohong untuk itu, ia bahkan tidak menanti pertunangan itu sedikit pun.
“Zee sayang, bagaimana jika hari jum’at ini kita, ibumu dan kakak-kakak iparmu pergi berbelanja bersama? Aku rasa itu akan sangat menyenangkan” tanya Jessica yang entah kenapa suaranya terdengar sedikit ragu.
Apakah ia berpikir jika aku akan menolaknya atau semacamnya? Itu tidak mungkin ia lakukan karena meski ia tak menyukai Maxime tapi ia sangat menyukai keluarga Maxime.
“Aku akan senang sekali jika kalian mengirimiku pesan saat akan bertemu nanti” ucap Zevana tak kalah gembira dari calon ibu mertuanya itu.
Jessica tertawa renyah “Jangan khawatir sayang, aku akan memintanya pada ibumu. Tanyakan pada Max secepatnya ya nak, sampai jumpa nanti” ucap Jessica mengakhiri panggilan tersebut.
Zevana tak bisa untuk tak tersenyum ketika ia menyadari bahwa calon ibu mertuanya itu sebenarnya mencoba untuk mengenalnya lebih jauh dan menghabiskan waktu dengannya, dia tampak sangat baik.
“Siapa itu?”
Suara itu sukses mengejutkannya dan tentu ia sangat mengetahui siapa pemilik suara itu seketika senyum yang tadi terukir di wajahnya hilang. Ia mendongak ke atas dan melihat Maxime yang tengah bersandar di depan pintu ruangannya sembari melipat tangan di depan dadanya.
“Ibumu” ucap Zevana seadanya dan melihat sekilas ke arah Maxime lalu kembali fokus pada komputernya.
“Kenapa dia menghubungimu? Apa yang dia katakan?” tanya Maxime dengan nada suara yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu tapi tidak terlalu kentara.
Zevana menjawab namun tetap fokus pada pekerjaannya “Dia bertanya apa aku bisa pergi keluar dengannya jum’at ini dan setelah pertunangan ia mengajak kau dan aku untuk berlibur ke pantai bersama keluarga besar” ucapnya.
Zevana tak mengharapkan reaksi yang baik dari Maxime bahkan ia juga tak yakin jika pria yang gila kerja itu ingin mengorbankan waktu kerjanya selama dua minggu hanya untuk sekedar berlibur saja, ia bahkan berpikiran untuk pergi sendiri tanpa Maxime dengannya karena liburan bersama keluarga besar akan terasa menyenangkan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...