Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Episode 90


__ADS_3

Dengan segala kepanikan yang menyerang keduanya akhirnya mereka berangkat ke rumah sakit terdekat lengkap dengan barang-barang yang sudah mereka persiapkan sebulan yang lalu untuk di bawa ke rumah sakit.


Zevana berada di kursi belakang dan Maxime mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena mereka harus selamat sampai tempat tujuan.


“Sayang, tenanglah oke? Lakukan latihan pernafasan perlahan-lahan sayang” ucap Max mencoba tenang karena sebenarnya ia sangat panik.


Sepanjang perjalanan Zevana terus menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan seperti yang sebelumnya pernah ia pelajari, ia juga mencoba untuk tetap tenang dan tangannya tak berhenti mengelus-ngelus perut besarnya itu.


“Sayang, semuanya aman kan?” tanya Max memastikan keadaan istrinya itu.


Zevana hanya berdehem sebagai jawaban “Kita akan segera sampai, bertahanlah oke?” ucap Max lagi.


Beberapa menit kemudian Zevana dan Maxime pun tiba di rumah sakit dan kini Zevana sudah berada di tempat tidur perlahan mencoba untuk menyegerakan persalinannya sembari berteriak kesakitan dan Maxime berada di luar untuk memanggil semua orang.


Setelah beberapa menit berjuang sendirian akhirnya suster kembali masuk untuk mengeceknya dan mengatakan hal yang membuatnya bernafas lega.


“Dia sudah siap” ucap salah satu suster itu.


Para suster pun mulai sibuk dengan kegiatan mereka, Zevana menatap ke arah Maxime sembari menjulurkan tangannya untuk Max gapai saat suster mulai menarik ranjangnya keluar dari ruangan.


“Max..” panggilnya terengah-engah.


Maxime dengan cepat menyambut tangan istrinya itu menggenggamnya dan mengelusnya lembut memberikan kekuatan “Tidak apa sayang, aku akan menemanimu” ucapnya.


Selang beberapa menit setelah mereka berada di ruang persalinan dokter yang akan membantu persalinannya pun tiba “Bagaimana Zee, apa kau siap?” tanya dokternya itu dengan ramahnya.


“Apakah aku boleh menundanya?” Tanya Zevana terengah-engah dengan setengah kekuatannya.


Pertanyaan konyolnya itu sukses membuat ruangan persalinan dipenuhi dengan tawa bahkan suaminya itu pun ikut tertawa bersama dengan yang lainnya.


“Kita akan lakukan perlahan, jadi cobalah untuk mendorongnya mulai dari perlahan” ucap dokter itu memberinya instruksi dan Zevana melakukan sesuai arahan dokternya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat melakukan dorongan-dorongan kecil, dokter kembali memberi instruksi padanya “Sekarang coba untuk melakukannya dengan dorongan yang besar” ucap dokter itu lagi.


Zevana mendengus saat mencoba yang terbaik namun ia tidak berhasil melakukannya dengan satu dorongan besar, ia meremas tangan Maxime dengan kuat saat melakukannya dan Maxime juga tak henti-henti memberikannya semangat.


Zevana menarik nafas dalam-dalam dan mendorongnya lagi dan ia mengulang hingga beberapa kali dan itu sangat menyakitkan dan melelahkan, mungkin ia harus berpikir beratus kali lagi jika ingin memiliki bayi lagi.


“Satu dorongan besar lagi, kita hampir selesai” ucap dokter itu.


Satu dorongan besar lagi? Itu tidak mungkin, ia bahkan tidak yakin apa bisa bertahan hingga akhir persalinan ini karena lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.


“T-tidak, aku tidak bisa lagi” ucap Zevana terengah-engah, ia menyerah rasanya tenaganya sudah terkuras habis.


Maxime menggenggam tangan Zevana dan mengusap dahi istrinya yang dipenuhi keringat itu “Ayo sayang semangat, aku tau kau pasti bisa. Aku percaya padamu” ucapnya.


Dengan semangat dan kepercayaan yang diberikan Maxime padanya dengan sebuah dorongan besar ia berhasil membuat ruang persalinan itu dipenuhi dengan suara tangisan bayi. Rasanya ia akan segera pingsan tapi sebelum itu terjadi genggaman tangan erat dan sebuah kecupan yang mendarat di dahinya membuat kesadarannya kembali terjaga.


Kini bayi mungil itu sudah ada di pelukan Zevana, di antara Maxime dan Zevana namun saat mereka sibuk berdua bayi itu di ambil alih oleh suster.


Suara tangisan bayi perlahan mulai menjauh, Zevana dan Maxime pun menatap tajam suster yang tengah menggendong anak mereka itu dan hal itu membuat suster menjadi canggung karena ia menyadari tatapan itu.


“Saya akan membersihkan tubuh bayinya dulu, melakukan beberapa tes setelah itu saya akan mengantarkannya kembali ke ruangan Anda” ucap suster tersebut dengan tawa canggung di akhir kalimatnya.


Zevana tersenyum canggung dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, saat anaknya di bawa untuk dibersihkan dan diperiksa Zevana pun kembali ke ruangannya.


**


Setelah perjuangan besar tidak butuh waktu lama untuk Zevana tertidur apalagi kantuknya semakin menjadi setelah anaknya juga tertidur di sampingnya. Tapi tidurnya tidak nyenyak dan terganggu, ia menguap dan meregangkan tangannya saat bangun karena suara yang memenuhi ruangannya.


"Hai sayang, apa kabar?" tanya ibunya yang baru saja tiba beberapa menit yang lalu lebih tepatnya saat itu tertidur.


Memang ibu yang terbaik, saat yang lainnya bertanya atau melihat bayinya tapi ibunya justru bertanya tentang keadaannya tapi meskipun begitu ia juga senang melihat semua orang menyayangi bayinya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah ma” ucapnya


Ibunya tersenyum bangga ke arahnya “Kau sudah berjuang sangat keras sayang” ucapnya.


Zevana mengangguk penuh haru lalu ia menatap Maxime yang tengah menggendong anaknya dan di kelilingi oleh yang lainnya.


“Max, aku ingin bayiku” pintanya.


Zevana mengulurkan tangannya untuk menunjukkan bahwa ia ingin memeluk bayinya itu tapi sebelum itu ia meminta bantuan ibunya untuk mengubah tempat tidurnya menjadi setengah bersandar.


Ia tersenyum saat Maxime menempatkan bayinya itu di pelukannya, pria itu terlihat sangat cocok menjadi seorang ayah dan anak mereka sangat mirip dengan Maxime.


"Dia mirip denganmu” celetuk Zevana


“Tentu saja, dia anakku” ucap Max tertawa "Tapi matanya sepertimu” ucapnya lagi.


Zevana mengangguk setuju, itu memang benar setidaknya itu bagus karena akan sangat tidak adil jika anaknya sangat mirip dengan Maxime.


“Apa kau sudah menyiapkan sebuah nama untuknya?" Tanya Maxime pada Zevana.


"Bagaimana dengan Regie?"


“Regie Max’ Abiezer? Maxime Regie Abiezer?” tanya Max pada Zevana lagi.


“Maxime Regie Abiezer” ucap Zevana, ia mendongak untuk melihat reaksi Maxime, bertanya-tanya apakah suaminya itu menyukai nama yang ingin ia berikan.


Maxime menganggukkan kepalanya dengan senyuman penuh kegembiraan "Sempurna, itu nama yang sangat indah sama sepertimu” ucap Max.


Ia mendekat ke arah Zevana lalu mencium kening istrinya dan bayi Regie.


“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku sayang dan kau baby boy terima kasih sudah melengkapi hidup kami” ucap Maxime penuh haru.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2