
Maxime keluar dari kamar tersebut dengan wajah yang berseri, ini pertama kalinya bagi semua orang yang ada di rumah Zack itu bisa mengetahui perasaannya hanya dengan melihat wajahnya saja.
Ia sangat senang dengan fakta bahwa Zevana juga mulai mencintainya dan bersedia untuk tetap tinggal bersamanya tanpa ada perceraian. Ia pikir Zevana tidak mungkin mencintainya karena daripada berbaikan hari-hari mereka lebih banyak dipenuhi dengan perkelahian terlebih wanita itu selalu merutukinya setiap ada kesempatan.
Tapi siapa sangka semuanya sangat di luar dugaan seperti ini, ia benar-benar tidak menyangka bahwa wanitanya itu juga mencintainya. Ini nyata tapi masih sedikit sulit untuk dipercaya terlebih sekarang tidak hanya ada mereka berdua tetapi bersama sosok yang bahkan tak pernah sempat ia pikirkan sebelumnya untuk berada di antara mereka.
“Bagaimana nak, apa kalian sudah berbaikan? Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian?” tanya ibu mertuanya itu.
“Ya, kita sudah berbaikan ma. Tidak terjadi apapun ma, aku hanya terkejut dengan berita itu dan Zee salah menanggapi sikapku itu” ucapnya mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi antara mereka berdua.
Max mengalihkan pandangannya pada ayah dan ayah mertuanya yang sedang duduk bersebelahan itu “Selamat nak, papa yakin kau akan menjadi sosok ayah yang hebat” ucap ayahnya.
Kini giliran ayah mertuanya yang berbicara padanya “Max, aku ikut senang untukmu tapi biarkan aku mengatakan hal ini padamu” ucapnya dan Max menganggukkan kepalanya setuju.
“Aku tahu bisnismu sangat penting bagimu tapi sekarang kau tidak hanya memiliki Zevana tapi juga bayinya jadi aku hanya ingin kau memberi perhatian lebih padanya dan juga bayinya. Dan kuharap kau bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluargamu karena aku tahu setelah bersama Zevana pun kau sering lembur” ucap ayah mertuanya itu.
Ia mengangguk mengerti, itu memang suatu hal yang harus ia lakukan mulai sekarang dan benar kata ayah mertuanya itu ia tidak boleh terus-terusan pulang telat dan jika dipikir-pikir saat bersama wanitanya itu ia sering pulang telat bahkan membuat wanitanya itu ikut lembur dan saat sedang bersama ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan ponselnya.
Max menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu sepertinya mulai sekarang ada banyak hal yang harus ia rubah setelah selesai menerima ucapan selamat dari semua orang yang ada di sana ia pun berjalan menuju dapur untuk menaruh kembali nampan berisi piring kotor bekas makan istrinya itu dan kembali ke ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu.
__ADS_1
“Sorry guys, aku butuh bantuan kalian” ucapnya ragu-ragu karena permintaannya ini mungkin akan terdengar tidak sopan.
Mereka semua menatapnya seakan penasaran dengan bantuannya dan memintanya untuk segera mengatakan apa permintaannya itu.
“Bisakah kalian meninggalkan tempat ini selama satu atau dua jam?” tanyanya menunduk sembari menggosok tengkuknya.
Ia tak bisa menahan senyumannya saat berhasil menyampaikan permintaannya itu karena ia tahu mereka semua pasti paham dengan arti dari permintaannya itu karena mereka semua tidak sepolos itu untuk tidak memahaminya. Dan benar saja mereka semua hanya tersenyum dan tertawa kecil menatapnya sembari mulai berjalan menuju pintu.
Tentu saja tidak dengan si pemilik apartemen ini “Ini rumahku, kenapa aku harus pergi? Lagi pula aku tidak punya tempat tujuan” ucap Zack menolak.
“Tidak bisakah kau keluar saja?” ucap Max pada sahabatnya itu dan meskipun ia mengakui Zack adalah sahabatnya tapi Zack benar-benar pria yang menyebalkan.
“Itu mustahil” ucap Max karena jika menunggu hingga pulang ke rumah ia yakin wanitanya itu akan tidur “Aku sebenarnya tidak masalah dengan kehadiranmu tapi aku rasa adikmu akan malu karena kakaknya mendengar desahannya” ucap Max tanpa tahu malu lagi.
“Kau jangan merusak suasana, kemarilah nak!” ucap ibunya yang kembali masuk dan menarik putranya itu untuk keluar.
"Tapi sepraiku! Hey, jangan kotori kamarku!” pekik Zack seperti anak kecil yang merengek.
"Aku akan membelikanmu sepuluh seprai baru! Pergilah, tolong tutup pintunya dengan rapat” pekik Max saat tak melihat batang hidung siapa pun di ruangan itu.
__ADS_1
Ia dengan cepat berlari kembali ke kamar, di mana wanita tercintanya itu berada, ia membuka pintu dengan tenaga penuh dan cerianya tetapi ia memastikan agar tidak melepaskannya dengan kuat dan tidak membentur tembok.
Ia mengunci pintu di tersebut lalu perlahan berjalan menuju tempat yang sama di mana wanitanya itu berada "Kenapa kamu mengunci pintu?" tanya Zevana dengan wajah kebingungan khasnya.
“Bukankah biasanya ibu hamil itu akan mengalami masa-masa gairah seksualnya memuncak?” tanya Max terang-terangan.
Zevana yang tadinya memasang wajah kebingungannya itu seketika mendadak merah bersemu dan sebuah senyuman terbentuk di wajahnya dan Maxime menyeringai penuh kemenangan.
“Tapi sepertinya aku belum merasakan hal itu, lagi pula kan aku baru saja mengetahui kehamilanku tidak mungkin aku langsung mengalami hal-hal seperti itu” ucap Zevana kembali ke mode polosnya.
Max meloncat ke arah Zevana “Itu tidak penting, sayang” bisiknya lalu memulai aksinya.
Mulai dari ciuman biasa hingga ciuman panas bahkan sampai permainan intinya mereka benar-benar dengan tidak tahu malunya melakukan hal itu di rumah Zack dan bahkan dengan tega mengusir pemilik rumah tersebut hanya untuk berbuat mesum.
Setelah satu setengah jam berlalu dengan sisa tenaga yang ia miliki karena pelepasan yang baru saja terjadi Max merobohkan tubuhnya di samping Zevana lalu menarik tubuh lemas wanitanya itu ke dalam pelukannya. Ia juga mengecup kedua pipi, hidung, bibir, dan kening wanitanya itu sebelum akhirnya keduanya terlelap dan berakhir dengan tertidur lelap.
Sekarang hidup Max sudah lengkap, istrinya yang ia cintai serta calon anaknya yang akan ia lindungi. Baik sekarang maupun ke depannya ia berjanji pada dirinya untuk terus berada di samping mereka dan menjaganya apa pun yang terjadi, membayangkan keluarga kecil itu bahagia Max tersenyum dalam tidurnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1