Sekretaris Pribadi Mr. Arogan

Sekretaris Pribadi Mr. Arogan
Ep.53 Malam Yang Menyenangkan


__ADS_3

“Um... Jika kau di suruh untuk memotong antara *milikmu dan ibu jarimu mana yang akan kau potong?” tanya Zevana tiba-tiba.


Max membulatkan matanya tak percaya mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Zevana “Pertanyaan tak masuk akal macam apa itu?” protesnya.


Zevana menyeringai saat merasa berhasil mengerjai pria itu “Jawab saja, aku hanya ingin tahu” ucapnya.


“Tentu saja, ibu jariku” ucap Max yakin.


Zevana tersenyum meremehkan “Ya, kebutuhan seksual memang penting. Tapi jika tidak memiliki karir yang bagus bukankah akan sulit untuk memenuhi kebutuhan seksualmu, mengingat kau menyewa banyak wanita”


“Apa maksudmu?” tanya Max tampak sedikit bingung.


Zevana memasang ekspresi pura-pura kaget “Astaga, apa kau tak pernah mendengar istilah dari pertanyaan itu?” tanyanya dengan nada yang menjengkelkan.


Max menatapnya kesal dan Zee tersenyum menahan tawanya melihat itu “Baiklah, itu mungkin saja untuk seseorang tak mengetahuinya. Jadi jika kau memilih ibu jarimu maka kau orang yang lebih mementingkan hasrat seksualmu daripada kariermu dan sebaliknya jika kau memilih memotong *milikmu maka kau lebih mementingkan karier daripada hasrat seksualmu” jelasnya panjang lebar.

__ADS_1


“Kenapa itu harus jadi penentu? Aku bisa mendapatkan jari baru jika itu terpotong” ucap Max remeh.


Zevana menganggukkan kepalanya dengan cara yang menjengkelkan “Ya, ya, kau juga bisa mendapatkan p***s baru jika itu terpotong” lanturnya.


“Orang akan berpikir aneh saat kau pergi untuk mendapatkan p***s baru dan membuat mereka bertanya-tanya bagaimana bisa tapi jika itu ibu jari kemungkinannya sangat besar untuk bisa terpotong” jelas Max terdengar masuk akal dan Zee hanya menganggukkan kepalanya setuju.


“Tapi tetap saja, ini hanya perumpamaan dan itu tak akan benar-benar terpotong bahkan ibu jarimu sekalipun” jelas Zevana lagi.


“Sudah hentikan membahas itu” ucap Max dingin.


Makanan mereka pun tiba, keduanya terlihat sangat menikmati hidangan masing-masing dan di sela makan keduanya masih saling bertanya satu sama lain tentang personal tentang hal yang wajib diketahui satu sama lain.


Setelah selesai makan malam mereka pun memutuskan untuk kembali ke penthouse, mereka sangat menikmati makan malam yang menyenangkan itu. Begitu pintu apartemen itu terbuka Zevana dengan cepat membuka healsnya dan menggantinya dengan sendal rumah sembari berlari kecil menuju kamarnya.


“Huaaa, aku harus segera tidur” ucap riang.

__ADS_1


Max yang berada tepat di belakang Zevana tertawa pelan mendengar ucapan dan tingkah wanita itu, jujur saja dari belakang ia terlihat seperti anak-anak. Dan Zevana yang mendengar suara tawa Max hanya tersenyum manis, jika dipikir-pikir hubungan mereka menjadi semakin baik dan Max jadi sangat perhatian padanya bahkan malam ini bisa dibilang malam yang sangat menyenangkan bagi mereka.


Tak hanya dinner romantis mereka bahkan berbicara lebih banyak dari sejak pertama kali mereka bertemu bahkan tawa langka seorang Maxime Abiezer yang hanya pernah ia dengar di Vila itu kembali ia dengar malam ini, tampaknya Max mulai mengekspresikan dirinya dengan baik dan sedikit-sedikit mulai terbuka padanya.


“Selamat malam, Max” ucapnya lalu melirik sekilas lalu berjalan menuju kamarnya.


Baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah, langkahnya harus terhenti saat merasakan tangannya di raih bahkan tubuhnya di putar untuk menghadap ke belakang. Saat berputar ia berhadapan langsung dengan Max, nafasnya jadi sedikit tak teratur saat menyadari bahwa jarak mereka hanya beberapa inci saja.


Max menatap matanya saat akan berbicara dengan suara rendahnya “Terima kasih, malam ini malam yang menyenangkan” ucapnya.


Tidak seperti biasanya, Zevana berkali-kali mengedipkan matanya pandangannya tidak fokus dan selalu bolak balik pada mata dan bibir pria itu dan Max terus menatapnya hangat.


“Y-ya, aku juga” ucap Zee yang jadi sedikit gugup


Tak satu pun dari mereka yang bergerak dari posisi saat ini yang bahkan bisa di bilang cukup intim bahkan mereka terus saling bertukar tatapan hangat dan perlahan mereka semakin dekat satu sama lain hingga tidak menyisakan jarak.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2