
Zevana bahkan tidak menyadari bahwa ia meneteskan air matanya sampai ketika Maxime bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia tidak akan membiarkan pria itu melihatnya seperti ini dan ia tak akan membiarkan dia menang.
"Ya aku baik-baik saja, sepertinya ada sesuatu di mataku" ucapnya langsung menghapus air matanya yang menetes itu.
Ia tidak akan membiarkan Steven tahu bagaimana perasaannya saat ini tapi Zevana merasa bahwa pria itu sudah tahu karena ia bisa melihat pria itu menyembunyikan sebuah seringaian. Kini ia hanya perlu menjauh dari pria itu maka semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi antara mereka.
“Kemarilah Steve, ayo kita pesan sesuatu” ucap tuan Dazzel menyela ketiganya.
Maxime tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya setuju lalu ia menepuk pelan pundak Steven sebelum pria itu berakhir mengambil kursi dan duduk di sebelah ayahnya dan tepat di seberang Zevana. Entah hanya perasaannya saja tau tidak pria itu memang terlihat memasang wajah datar namun Zevana dapat melihat seringaian kecil di wajah pria itu.
Ia mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari monster di depannya ini, dan ia pun mulai membaca menu tapi ia bahkan tidak bisa memutuskan apa yang kuinginkan. Pelayan segera datang untuk mengambil pesanan kami, semua orang yang diperintahkan oleh saya masih belum bisa memilih karena ada terlalu banyak menu yang tertera di sana dan hampir semua itu adalah makanan kesukaannya.
"Sayang, kau ingin pesan apa?" tanya Maxime dengan lembut.
Zevana menutup buku menunya karena ia sama sekali tidak dapat memilih apa yang harus ia pilih “Aku akan pesan sama denganmu saja” ucapnya mencoba tersenyum tipis.
__ADS_1
Setelah selesai dengan pesanannya dan pelayan itu pun pergi dari mejanya lalu keheningan menyelimuti meja mereka selama beberapa menit yang kemudian di pecahkan oleh Maxime.
“Oh ya Steve, perkenalkan ini tunanganku Zevana dan Zee ini Steven” ucap Maxime memperkenalkan keduanya satu sama lain.
“Nama yang indah, sangat cocok untuk orangnya” ucap Steven kemudian mengulurkan tangannya menunggu Zevana menjabat tangannya.
Zevana berusaha untuk tidak menunjukkan rasa tak sukanya namun ia tak menerima uluran tangannya “Terima kasih, aku baru saja sembuh jadi kuharap kau mengerti”
Ia mengakhiri perkataannya dengan sebuah senyuman kecil dan tentang kebohongannya itu hanya diketahui olehnya dan juga Steven, pria itu pun menarik tangannya setelah mendengar ucapan Zevana.
Ia terus menatap Zevana dengan ekspresi sinis di wajahnya dan lebih lagi tak satu pun dari mereka yang berpaling sehingga itu menarik perhatian Tuan Dazzel yang mengeluarkan batuk canggung mematahkan pandangan mereka.
“Selamat untuk pertunangan kalian” ucap Steven namun hanya Maxime yang menanggapinya tidak dengan Zevana.
Tanpa membuang-buang banyak waktu lebih lama Tuan Dazzel pun langsung mengarahkan percakapan mereka ke inti utama pertemuan ini “Bagaimana jika sekarang kita bicarakan tentang kesepakatan itu?”
__ADS_1
Zevana menyimak percakapan mereka sebaik mungkin namun ia tak bisa mencerna perkataan mereka dengan baik, maksudnya kini pria yang ada di hadapannya ini sukses mengambil alih perhatiannya. Ada begitu banyak hal yang tengah memenuhi kepalanya saat ini dan semua itu adalah hal yang sudah dengan susah payah ia coba lupakan namun kini hanya dengan waktu kurang dari sepuluh menit ingatan itu seperti satu per satu bermunculan kembali di hidupnya.
Makan siang mereka tiba meskipun begitu percakapan mereka tak terhenti dan mereka terus membuat kesepakatan di sela makan siangnya. Zevana merasa sangat tidak nyaman untuk menyantap makanannya karena ia bisa merasakan tatapan menjijikkan Steven padanya.
Bagaimana mungkin orang sedetail Maxime tak memperhatikan bajingan ini? Wah, sangat menakjubkan karena saat ini ia membutuhkan bantuan dari seorang pria bajingan lainnya.
Zevana dapat merasakan dengan jelas sebuah kaki yang menjalar di kakinya saat kaki itu menjadi lebih tinggi ia pun berniat menjauhkan kakinya namun ia justru membenturkan lututnya pada meja makan tersebut dan tentu saja ia menjadi pusat perhatian di meja tersebut.
“Kau baik-baik saja, nak?” tanya Tuan Dazzel lembut, kalian tak akan percaya karena sifat keduanya sangat jauh berbeda padahal ayahnya sangat selembut ini entah bagaimana bisa ia memiliki putra se-bajingan ini?
Zevana mencoba untuk tetap tersenyum ramah “Ya aku baik-baik saja, aku permisi ke toilet sebentar” ucap Zevana kemudian bangkit dari kursinya dan perlahan menjauh menuju toilet wanita.
Zevana masuk dan langsung membasuh wajahnya dengan air dingin untuk menyegarkan pikirannya dan saat ia mengambil handuk kering untuk mengelap wajahnya ia melihat sosok yang membuatnya jijik berdiri di belakangnya dengan melipat tangan di depan dadanya.
“Jadi sekarang kau sudah bertunangan dengannya?”
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...