
Kini Maxime dan Zevana berada di ruang rapat bersama Ny. Caroline dan sekretarisnya, Zevana membatalkan niat ingin pulangnya karena ia sudah mendapat yang ia inginkan sedangkan Maxime tetap profesional bekerja meski masih dengan perutnya yang lapar itu.
Max dan Ny. Caroline kini sudah mencapai kesepakatan untuk bekerja sama, berbeda dengan Maxime yang berusaha untuk profesional Zevana justru sedari tadi bersikap sangat-sangat tidak profesional dan merasa terganggu dengan wanita tua yang sedang berbisnis dengan suaminya itu.
“Oh ya, selamat untuk pernikahanmu maaf karena waktu itu aku tidak bisa hadir” ucap Ny. Caroline saat mereka telah membuat kesepakatan.
“Terima kasih Nyonya” ucap Max tersenyum ramah.
Ny. Caroline tertawa dengan gaya sosialitanya “Wanita beruntung manakah yang bisa mendapatkan pria tampan dan sesempurna dirimu ini?” ucapnya.
Karena mereka yang duduk bersebelahan memudahkan Ny. Caroline untuk menggapai wajah Max sedangkan Zevana yang berada di sebelah Max merasa sangat-sangat terganggu dengan hal itu.
Saat ia ingin menggapai tangan wanita tua itu Max terlebih dahulu menjauhkan tangan Ny. Caroline dengan sopan dan memundurkan tubuhnya sedikit dan menampaknya Zevana yang sedari tadi kehadirannya tak menarik perhatian Ny. Caroline.
“Perkenalkan Nyonya, ini wanita beruntung itu” ucap Max tersenyum sembari menggenggam tangan Zevana.
Wanita tua itu terlihat kaget “Oh wow, apa kau saat itu dalam keadaan sadar?” tanyanya.
Max maupun Zevana memasang wajah kebingungan “Maaf Nyonya” ucap Max meminta wanita tua itu mengulang pertanyaannya.
“Aku pikir kau akan menikahi wanita yang terakhir kali bersamamu saat di pestaku tapi sangat mengejutkan tau bahwa kau menikahi sekretarismu” ucap wanita tua itu lagi.
Zevana sudah memasang wajah cemberut memikirkan wanita cantik mana lagi yang pernah bersama Maxime.
__ADS_1
Maxime menggenggam tangan Zevana sembari mengelus-elusnya “Itu lebih mengejutkan untuk saya nyonya karena menurut saya istri saya jauh lebih cantik dari jalang-jalang itu” ucap Max.
Zevana menganggukkan kepalanya paham ternyata wanita yang lebih cantik darinya itu seorang jalang, jika wanita yang terakhir kali berarti itu jalang yang sama yang mereka temui di Maldives yang menghancurkan bulan madu mereka begitu saja.
“Ah sayang, anak kamu nendang-nendang aku mulu” ucap Zevana menekankan kata ‘anak kamu' dan ‘sayang'
Tentu saja ia berbohong bagaimana mungkin kandungan yang bahkan belum membentuk itu sudah bisa menendang, mungkin ia akan ketahuan sedang berbohong tapi melihat reaksi Maxime yang panik membuatnya menjadi semangat melanjutkan aksinya.
“Ah sayang, perut aku sakit sekali” keluhnya lagi
“Kau baik-baik saja? Tahan sebentar, ayo kita ke rumah sakit” ucap Maxime panik.
Max bangkut dari kursinya dan mencoba untuk membantu Zevana berdiri namun Zevana dengan manjanya merengek sembari bergelayut mesra minta di gendong dengan alasan ia tidak bisa jalan dan perutnya sangat sakit sekali.
Nyonya Caroline dan Sekretarisnya belum menyadari yang sesungguhnya pun terlihat ikut panik “Ya tidak masalah, bergegaslah ke rumah sakit” ucapnya panik.
Zevana tersenyum penuh kemenangan saat mendengar itu dan beberapa langkah sebelum mereka meninggalkan ruangan rapat Zevana melihat ke belakang dan menjulurkan lidahnya mengejek wanita tua itu.
“Ugh sayang, kita ke ruangan kamu aja sekarang sakitnya udah gak terasa” ucap Zevana berdalih.
“Kamu yakin enggak kenapa-napa?” tanya Maxime memastikan.
Zevana mengangguk pasti dalam gendongan Maxime “Kamu boleh turunin aku kalo gak percaya, sekarang aku bisa jalan karena udah gak sakit lagi” ucapnya lagi.
__ADS_1
Maxime hanya tersenyum menahan tawanya, ia sudah menyadarinya meskipun sedikit terlambat namun saat akan meninggalkan ruang rapat tersebut ia ingat ke bentuk janin yang ada di dalam perut Zevana saat ini namun ia tetap mengikuti jalan main istrinya itu.
Mereka kini tiba di dalam ruangan Max dan Max membiarkan Zevana rebahan di sofa empuk miliknya “Kamu ingin sesuatu, hem?” tanya Maxime.
“Bisa tolong ambilin aku air putih?” tanya Zevana ragu dan Max bersedia melakukannya tanpa ragu.
“Istirahatlah di sini, aku akan menyelesaikan sedikit pekerjaanku dulu setelah ini kita pulang” ucap Max
Zevana bangkit dari rebahannya meskipun empuk sofa itu sangat tidak cocok untuk ia tiduri untuk waktu yang lama “Sayang, aku tidak apa-apa lagi karena itu aku akan menunggu di tempatku saja” ucapnya.
Dan Maxime berjalan ke arah kursinya “Tentu saja kau bisa bahkan sejak di ruang rapat tadi jangan kan berjalan berlari pun kau bisa” ucap Max dan Zevana langsung memasang wajah kagetnya karena rahasianya terbongkar
“Itu keputusan yang sangat gegabah dengan memberikan alasan seperti itu, nasib baik tadi mereka tidak menyadarinya tapi aku yakin sekarang mereka pasti merasa tertipu denganmu” ucap Max.
“Biarkan saja, itu salah wanita tua itu. Setelah mengatakan aku jelek dia bahkan membandingkan aku dengan jalangmu itu” kesalnya.
Max hanya tertawa gemas dari mejanya “Tidurlah, aku akan membangunkanmu saat semuanya sudah selesai” ucapnya dengan jemari yang sibuk “Ini sedikit lagi” gumamnya.
Setelah dua puluh menit kemudian Maxime pun telah menyelesaikan pekerjaannya dan ia pun baru tersadar jika sejak tadi ruangannya sudah senyap tidak terdengar lagi suara berisik dari istrinya dan ya wanitanya itu sudah tertidur.
Maxime mengangkat kepala Zevana pelan lalu menempatkannya di pangkuannya saat ia sudah duduk, ia menatap wajah cantik istrinya itu dengan tersenyum sembari mengusap pelan rambut istrinya itu.
“Lucu sekali” gumamnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...